JATIMTIMES - Matahari siang menyengat, mengalirkan hawa panas yang menggelora di kompleks Makam Bung Karno di Kota Blitar pada Jumat (4/4/2025). Namun, cuaca terik tak menghalangi langkah seorang perempuan yang tiba dengan kursi roda, dikelilingi oleh sejumlah tokoh dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI-P sekaligus putri sang Proklamator, tiba di pelataran makam sekitar pukul 12.00 WIB. Kali ini, ia tidak sendiri. Sukmawati Soekarnoputri, saudara perempuannya, turut serta dalam ziarah yang terasa lebih khusyuk dari biasanya. Lebaran memang kerap membawa keluarga kembali kepada akar, kepada kenangan yang menunggu di antara bunga-bunga kamboja yang berguguran.
Baca Juga : Trik Masak Ketupat Hanya 40 Menit! Lengkap dengan Resep Makanan Pendampingnya
Suara doa bersama menggema di sekitar pusara. Dibarengi aroma bunga yang menguar tipis, lantunan ayat suci membungkus nisan Bung Karno dalam kesyahduan. Megawati dan Sukmawati menunduk khusyuk, tangan mereka terkatup erat. Namun, setelah sesi doa bersama berakhir, Megawati memilih menyendiri. Inilah tradisinya—merenung dan berbicara dengan ayahnya dalam keheningan.
Ia duduk menghadap batu nisan Bung Karno. Pandangannya menerobos waktu, mungkin mencari jejak-jejak kekuatan yang pernah diberikan sang ayah. Wajahnya yang mulai menua menyiratkan kesabaran dan keteguhan yang telah ditempa oleh banyak peristiwa besar dalam sejarah politik negeri ini.
Sementara itu, beberapa tokoh PDI-P yang turut hadir—Said Abdullah, Ahmad Basarah, Djarot Saiful Hidayat, Adian Napitupulu, Deddy Sitorus, dan Sri Rahayu—terlihat menjaga jarak, memberikan ruang bagi Megawati yang tengah larut dalam perbincangan sunyi dengan Bung Karno. Mantan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, juga tampak dalam rombongan itu, berdiri dengan wajah serius namun penuh hormat.
Kehadiran Megawati kali ini bukan hanya ritual personal. Sejumlah anggota DPR RI, DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI-P, serta beberapa kepala daerah di Jawa Timur turut serta mengiringi ziarah ini. Lebaran menjadi momen yang mengikat kembali ikatan sejarah dan politik dalam satu tarikan napas.
Di tengah keramaian yang mengerucut menjadi keheningan, Sukmawati berdiri tegak, menatap pusara ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Meski tak menyampaikan sepatah kata, sorot matanya seakan ingin mengucapkan sesuatu yang tak sempat terungkap selama ini.
Bagi Megawati, setiap ziarah ke makam Bung Karno adalah pengingat akan garis perjuangan yang diwariskan. Seperti sebuah panggilan yang selalu berbisik dari masa lalu, mengingatkan bahwa api yang dinyalakan ayahnya tak boleh padam.
Baca Juga : 9 Kota Tujuan Wisata Populer di Jawa Timur, Wajib Coba Kuliner Khasnya!
Sebelum meninggalkan kompleks makam, Megawati kembali menundukkan kepala. Doa terakhir yang ia ucapkan tersapu angin, mungkin berbaur dengan ribuan doa lain yang pernah terlantun di tempat ini.
Lebaran tahun ini bukan sekadar hari raya. Bagi Megawati dan Sukmawati, ini adalah pertemuan dengan kenangan yang abadi, yang menunggu dengan sabar di antara nisan-nisan yang sunyi.
Anggota DPR-RI Fraksi PDI-P, Pulung Agustanto, menjelaskan bahwa ziarah tersebut merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan Megawati. Ia menuturkan bahwa agenda Megawati ke Makam Bung Karno merupakan kelanjutan dari ziarah sebelumnya di Jakarta dan TMP. "Agenda Bu Mega ke Makam Bung Karno lanjutan setelah kemarin setelah Lebaran berkunjung dari makam Bu Fatmawati di Jakarta, kemudian dilanjutkan ke tempat Pak Taufiq Kiemas di TMP dan hari ini Ibu nyekar di makam Bung Karno yang mana bapak proklamator, sekaligus bapak Bu Mega," ujar Pulung, Jumat (4/4/2025).
Pulung menegaskan bahwa kegiatan ziarah ini tidak berkaitan dengan Kongres PDI-P yang akan digelar dalam waktu dekat. Menurutnya, kegiatan tersebut murni untuk mendoakan sang ayah, Ir. Soekarno. "Enggak, ziarah biasa. Sementara belum ada jadwal, belum tahu updatenya," tegasnya.