free web hit counter
Scroll untuk baca artikel
Peristiwa

Dari Tangan Disabilitas Daksa Ini, Kain Perca Bisa Jadi Keset Berkualitas

Penulis : Irsya Richa - Editor : Dede Nana

13
×

Rencana Rilis PlayStation 6 Berpotensi Terungkap, Berkat Microsoft

Share this article
Stik Playstation
Pak Dji saat menganyam kain perca menjadi keset menggunakan alat buatannya sendiri di rumahnya Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Di tengah keterbatasannya fisiknya, penyandang disabilitas daksa Pramuji warga Kecamatan Singosari ini mampu menyulap kain perca bisa jadi bernilai rupiah. Ya kain perca yang berkualitas itu disulapnya menjadi keset.

Pramuji merupakan disabilitas daksa, yakni kondisi di mana seseorang mengalami keterbatasan atau gangguan pada fungsi fisik, seperti kemampuan bergerak, berkoordinasi, atau melakukan aktivitas fisik. Dulu, ia merupakan orang non disabilitas, bekerja jadi satpam hotel bahkan sopir angkutan umum.

Baca Juga : Bagaimana Hukum Sungkeman Saat Idul Fitri dalam Islam?

Namun, karena satu dan lain hal, pria yang akrab disapa Dji ini harus menjalani operasi sum-sum tulang belakang. Sayangnya, operasinya gagal. Sehingga, mengakibatkan disabilitas daksa.

Dengan tekad kuat, ia kembali melangkah, menunjukkan bahwa keterbatasan dan rintangan justru membuatnya semakin gigih untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi banyak orang. Akhirnya ia pun harus memutar otak untuk bertahan hidup dan berupaya mandiri secara finansial. Ia pun memutuskan membuat keset dengan ‘menganyam’ kain perca.

Bahkan, Pak Dji pun membuat sendiri alat pembuat kesetnya. Kemampuannya membuat keset ini didapatkan dari salah seorang temannya yang tergabung dalam program ‘Empower Academy'. Saat proses membuat keset, Pak Dji tampak telaten dan sabar melilitkan kain perca yang sudah dibentuk jadi memanjang dengan menggunakan alat buatannya sendiri.

“Usaha keset ini namanya Ngupoyo Upo, artinya mencari sesuap nasi. Bahan-bahannya saya ambil dari kain-kain perca. Kain-kain yang sudah tidak terpakai ini saya sulap menjadi keset,” ucap Pak Dji.

Setiap harinya, di tengah proses ia membuat keset, satu per satu tetangganya yang merupakan emak-emak membeli keset buatannya. Masing-masing emak-emak itu setidaknya paling sedikit membeli dua keset.

Dari tangannya itu, ada tiga jenis yang dibuat, mulai dari yang kecil ukuran 28x45 centimeter harganya Rp 5 ribu. Yang sedang, ukuran 37x56 centimeter harganya Rp 10 ribu dan ukuran besar 43x67 centimeter bernilai Rp 20 ribu.

“Dari buat keset ini bisa saya jual menghasilkan uang setiap harinya dan hasilnya saya pergunakan untuk kelanjutan hidup kami,” imbuh Pak Dji.

Baca Juga : Lewat Empower Academy Puluhan Disabilitas Malang Diberi Pendampingan hingga Bisnis Mandiri

Bahkan, Pak Dji juga membuka kesempatan bagi orang-orang untuk membuat keset kepadanya. Pak Dji juga memiliki beberapa reseller, bahkan di tengah keterbatasannya kerap mengantar keset yang dibuat untuk para pelanggannya.

“Prinsip saya jangan membuat orang kecewa. Kalau mengerjakan sesuatu harus total, jangan setengah-setengah. Jangan sampai ada orang kecewa sehingga akhirnya kita kehilangan kepercayaan,” ujar Pak Dji.

Ya, Ngupoyo Upo adalah lebih dari sekadar bisnis, ini adalah cerita tentang perjuangan dan semangat tanpa batas. Dijalankan oleh penyandang disabilitas, bisnis ini mengolah kain bekas menjadi keset berkualitas serta berbagai kerajinan dan hiasan yang penuh nilai seni.

Tak hanya itu saja sosok yang tidak pernah merasa memiliki kekurangan, selalu optimis, gigih dan ulet ini gemar bersilaturahmi dengan berjejaring bersama komunitas. Dari sini-lah Pak Dji bisa terus berkembang.