JATIMTIMES - Konten video dari kreator TikTok @/mas_jhuann tengah ramai menjadi perbincangan di media sosial. Dalam unggahannya, ia menyoroti klaim bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat kelima negara dengan jumlah LGBT terbanyak di dunia.
Video tersebut juga membahas sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab. Mulai dari pengaruh media sosial, masuknya organisasi asing, hingga peran keluarga yang dinilai semakin melemah.
Baca Juga : Bansos PKH-BPNT Tahap 2 Cair Lebih Cepat? Ini Jadwal April 2026
“Indonesia hari ini menempati peringkat kelima dengan LGBT terbanyak di dunia. Lo bayangin, ada 195 negara dan Indonesia menjadi peringkat kelima dengan prestasi LGBT dan BOTI terbanyak di dunia,” ujar @/mas_jhuann, dikutip dari akun TikTok pribadinya, Selasa (7/4/2026).
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan angka populasi Indonesia. “Data menyebutkan ada 3% orang yang terpapar di Indonesia. Kalau di Indonesia ada 278 juta orang, berarti 3%-nya itu lebih dari 8.000 orang yang terpapar BOTI di Indonesia,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung persoalan HIV. Berdasarkan data UNAIDS, jumlah orang yang hidup dengan HIV di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 570 ribu orang.
“Dan dampak BOTI yang tercatat hari ini ada 564.000 orang yang terpapar HIV. Dan Indonesia menjadi peringkat ke-14 dengan HIV terbanyak di dunia,” ujarnya.
Dalam video itu, kreator tersebut juga menyebut ada faktor luar yang menurutnya ikut berpengaruh
“Ada fakta yang sangat menyakitkan. Setelah reformasi 98, ternyata ada dana asing masuk, plus ada organisasi asing seperti dua ini yakni UNDP dan USAID. Mereka ikut mendanai orang-orang LGBT untuk menyebarkan BOTI-nya di Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti maraknya konten serupa di media sosial, khususnya platform X.
“Maraknya situs-situs LGBT yang tersebar di sosial media, terutama di X. Hari ini sudah banyak doktrinisasi terkait opini-opini LGBT dengan unsur kebebasan hak asasi manusia. Dan ini tertarget kepada siswa dan mahasiswa,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut pengaruh tersebut bahkan dinilai sudah masuk ke konten untuk anak-anak.
“Propaganda mereka ini ternyata hari ini sudah masuk sampai ke level anak-anak kita. Mereka masuk sampai ke film animasi anak kita. Dan jumlahnya banyak banget. Gila gak tuh?” ujarnya.
Selain faktor lingkungan dan media, kreator tersebut menilai salah satu penyebab terbesar adalah hilangnya peran ayah dalam keluarga.
“Selain daripada faktor lingkungan, ternyata salah satu sebab terbesarnya semua ini bisa terjadi adalah hilangnya peran ayah dalam pendidikan keluarganya. Indonesia menjadi negeri tanpa ayah atau fatherless. Nomor tiga terbesar di dunia,” ujarnya.
Baca Juga : Sejumlah Rumah hingga Akses Jalan di Tirtoyudo Rusak Terdampak Longsor
Menurutnya, banyak ayah yang hanya menjalankan peran sebagai pencari nafkah tanpa membangun komunikasi dengan anak.
“Ayahnya bisu, ayahnya cuek, ayahnya gak pernah ngobrol sama anaknya. Apa lagi nasihatin? Ayahnya tolong. Ngerasa kewajiban yang sudah terlaksana hanya cuma menjadi mesin ATM untuk keluarganya,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak besar terhadap tumbuh kembang generasi berikutnya.
“Hilangnya peran ayah ternyata menjadi pengaruh besar untuk kehancuran rumah tangga kita untuk generasi-generasi setelah kita,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, @/mas_jhuann juga mengaitkan pentingnya peran ayah dengan nilai-nilai agama.
“Inilah kenapa Al-Quran ternyata merekam peran tertinggi keluarga. Itu ternyata posisinya ada di ayah yang pertama. Bukan ibu. Ayah adalah koam dalam keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika figur ayah tidak hadir, anak disebut kehilangan sosok teladan. “Ketika ayah absen, anak kehilangan role model untuk mendapatkan perlindungan, ilmu kedisiplinan, tanggung jawab, sampai juga keteguhan iman,” ujarnya.
Ia lalu mengutip Surat At-Tahrim ayat 6. “Wahai orang-orang yang beriman, pelihara dirimu dan keluargamu dalam siksa api neraka, yang bahan bakarnya terbuat dari manusia dan batu,” ujarnya.
Di akhir video, ia menegaskan pesannya bukan untuk menyudutkan para ayah. “Gue bikin video ini bukan untuk menyudutkan para ayah, tapi untuk menyadarkan bahwa kita punya peranan yang sangat besar dalam keluarga. Karena gue juga seorang ayah,” tutup @/mas_jhuann.
Sebelumnya, Survei Central Intelligence Agency (CIA) pada 2015 memperkirakan ada sekitar 3 persen atau 7,5 juta jiwa LGBT di Indonesia.