JATIMTIMES - Kementerian Agama Kota Malang mengawali tahun 2026 dengan langkah hening namun penuh makna. Melalui tasyakuran Hari Amal Bakti (HAB) Ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, jajaran Kemenag Kota Malang bersama jemaah Al-Khidmah menggelar majelis zikir dan maulidurrasul di MAN 2 Kota Malang, Kamis (1/1/2026).
Mengusung tema nasional “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, peringatan HAB tahun ini tidak hanya menjadi seremoni institusional, tetapi juga ruang refleksi spiritual tentang arah kehidupan, iman, dan tanggung jawab manusia sebagai hamba sekaligus pelayan umat.
Baca Juga : Pohon Tumbang Timpa Warung dan Tutup Akses Jalan di Kepanjen
Kepala Kementerian Agama Kota Malang Achmad Shampton SHI MAg dalam sambutannya menegaskan bahwa hakikat keimanan terletak pada kesadaran mendalam bahwa hidup sepenuhnya milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

“Seluruh gerak hidup manusia, waktu, nafas, bahkan kemampuan bertahan, berjalan atas kehendak Allah. Tidak ada satu pun manusia yang mampu hidup tanpa izin-Nya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa manusia sering terjebak pada ilusi kepemilikan. Ilmu, kesehatan, harta, jabatan, hingga keluarga kerap dianggap sebagai milik pribadi, padahal semuanya hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
“Tanpa pertolongan Allah, manusia sejatinya tidak memiliki apa-apa. Karena itu, yang paling penting adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak pernah melepaskan doa,” tuturnya.
Dalam refleksinya, Achmad Shampton mengajak jemaah memandang kehidupan secara utuh. Menurut dia, segala peristiwa yang dialami manusia, baik kebaikan maupun kesulitan, selalu mengandung hikmah. Nikmat adalah ujian, kesempitan pun ujian. Perbedaannya terletak pada cara manusia menyikapi keadaan tersebut.
Ia kemudian mengingatkan peringatan Al-Quran dalam Surah Al-‘Alaq tentang kecenderungan manusia yang mudah lupa diri ketika merasa berilmu dan berkuasa. Ilmu dan kecerdasan, jika tidak dibingkai iman, justru berpotensi menjerumuskan manusia pada kesombongan.
Untuk memperkuat pesan tersebut, ia mengulas kisah Abu Jahal, yang nama aslinya Abu Hakam, seorang tokoh Quraisy yang dikenal cerdas dan piawai mendamaikan perselisihan. Namun kecerdasan itu runtuh ketika kesombongan dan gengsi mengalahkan kebenaran.

“Abu Jahal bukan menolak kebenaran karena tidak tahu, tetapi karena kalah oleh ego dan persaingan. Dari sini kita belajar bahwa cerdas tidak selalu berarti selamat jika tidak dibimbing iman,” tegasnya.
Lebih lanjut, Achmad Shampton menyebut ada tiga perkara besar yang pasti dialami setiap manusia: sakit, kefakiran, dan kematian. Tidak satu pun manusia mampu menghindarinya. Sehat adalah nikmat, sakit adalah pengingat. Kaya adalah amanah, miskin adalah ujian. Hidup adalah perjalanan, dan kematian adalah kepastian.
Karena itu, manusia tidak perlu meminta diuji dengan sakit atau kefakiran. Yang seharusnya dimohonkan adalah keteguhan iman dalam setiap kondisi. Selama salat terjaga, ilmu terus dipelajari, dan hati tetap rendah di hadapan Allah, maka setiap fase kehidupan akan bernilai ibadah.
Baca Juga : Parkir Kayutangan Bakal Mulai Ditarif Pertengahan Januari
Ia juga menyoroti bahwa cobaan paling berat sering hadir bukan dalam bentuk kesulitan, melainkan kenikmatan. Saat berada dalam kesusahan, manusia mudah beristighfar. Namun ketika diberi kelapangan, kemudahan, dan pujian, justru di situlah kelalaian kerap muncul.
“Kita sering lupa bahwa nikmat yang tidak dijaga bisa berubah menjadi cobaan paling berat,” katanya.
Achmad Shampton kemudian menyinggung kisah Nabi Sulaiman AS sebagai teladan dalam menyikapi kelebihan. Dengan kemampuan luar biasa yang bahkan mampu memindahkan singgasana dalam sekejap, Nabi Sulaiman tetap mengembalikan semua keistimewaan itu kepada Allah, bukan pada kehebatan diri.
“Itulah makna syukur yang sesungguhnya. Bukan hanya diucapkan, tetapi dijaga agar nikmat tidak menjauhkan kita dari Allah,” ujarnya.
Menutup tausiyah, ia mengajak seluruh jemaah untuk menjaga iman, menjaga Islam, dan menjaga kebersamaan sebagai sesama muslim. Menurut dia, kekuatan umat tidak hanya terletak pada kecerdasan dan prestasi, tetapi juga pada kerendahan hati dan keteguhan iman.
“Semoga Allah menjaga madrasah ini, menjaga keluarga kita, menjaga kesehatan, dan melimpahkan keberkahan dalam hidup kita semua,” pungkasnya.
Tasyakuran HAB Ke-80 Kemenag RI di Kota Malang pun menjadi penanda bahwa tahun baru tidak selalu harus dibuka dengan gemuruh perayaan. Ada saatnya manusia berhenti sejenak, menunduk, dan mengingat kembali siapa dirinya, sebelum melangkah lebih jauh menata pengabdian dan kehidupan.