JATIMTIMES – Universitas Islam Malang (Unisma) memperluas jejaring internasional dengan menggandeng sejumlah perusahaan dan lembaga dari Belanda melalui kegiatan International CEO Talks, Memorandum of Understanding (MoU) Signing, and Innovation Forum 2026, di Gedung Pascasarjana Unisma, Jumat sore, (10/7/2026). Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem startup mahasiswa, membuka peluang investasi, hingga memperluas akses ekspor produk inovasi perguruan tinggi ke pasar Eropa.
Rektor Unisma Prof Drs Junaidi Mistar PhD mengatakan forum internasional itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan Unisma ke sejumlah perguruan tinggi dan perusahaan di Eropa beberapa waktu lalu. Menurut dia, hasil dari kunjungan tersebut mulai menunjukkan respons positif, terutama terhadap produk inovasi yang dikembangkan sivitas akademika Unisma.

"Forum ini tidak hanya menghadirkan diskusi internasional, tetapi juga penandatanganan nota kesepahaman antara perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Jawa Timur dengan tiga perusahaan dari Belanda. Harapannya, kerja sama ini berlanjut pada program nyata bagi pengembangan startup mahasiswa dan dosen," ujar Junaidi dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut melibatkan sejumlah mitra internasional yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan kewirausahaan berbasis inovasi. Mereka, kata Junaidi, akan memberikan pendampingan kepada mahasiswa, bahkan kepada siswa sekolah dasar dan sekolah menengah yang selama ini menjadi binaan Unisma dalam bidang startup.

Menurut Junaidi, pendampingan tersebut diharapkan mampu melahirkan produk-produk inovatif yang memiliki daya saing global dan berpeluang dipasarkan hingga ke Eropa.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah produk beras singkong hasil pengembangan Unisma. Produk tersebut, kata dia, mendapat respons positif saat dipresentasikan kepada perusahaan di Belanda.

"Kami membawa sampel beras singkong ke Eropa. Bahkan sebelum kami kembali ke Indonesia, pihak perusahaan sudah menghubungi kami dan menanyakan kemungkinan pengiriman hingga 100 ton setiap bulan. Ini menunjukkan bahwa produk inovasi perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk masuk pasar internasional," ungkapnya.
Junaidi menambahkan, perusahaan mitra di Belanda yang bergerak di bidang ekspor-impor produk halal juga menyatakan kesiapannya mendampingi proses hilirisasi dan pemasaran berbagai produk hasil riset maupun startup dari perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.

"Kalau nanti ada produk-produk unggulan dari kampus-kampus Nahdlatul Ulama di Jawa Timur, kami ingin membantu menjembatani agar bisa dipasarkan ke Eropa melalui jaringan yang sudah terbangun," katanya.
Baca Juga : Wapres Gibran Tinjau Progres Tol Prosiwangi, Jasa Marga Percepat Penyelesaian
Selain penandatanganan kerja sama, rangkaian kegiatan juga diisi Startup Innovation Forum yang mempertemukan mahasiswa Unisma dan siswa binaan yang telah memiliki startup dengan calon investor dari Eropa.
Dalam forum tersebut, para peserta mempresentasikan ide bisnis dan produk yang telah mereka kembangkan di hadapan perusahaan-perusahaan luar negeri yang mengikuti kegiatan secara daring. Presentasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi maupun dukungan pendanaan untuk mempercepat pengembangan usaha rintisan mereka.
Junaidi menilai, model kolaborasi seperti ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi Unisma, sekaligus memperkuat budaya kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus tidak hanya berperan menghasilkan lulusan, tetapi juga mendorong lahirnya inovator dan wirausahawan yang mampu bersaing di tingkat global.
Ia berharap kerja sama yang dibangun melalui International CEO Talks, MoU Signing, and Innovation Forum 2026 tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, melainkan menghasilkan program pendampingan, investasi, hingga peningkatan ekspor produk inovasi dari perguruan tinggi Indonesia ke pasar internasional.