JATIMTIMES - Isu tentang fitnah akhir zaman kembali mengemuka, terutama terkait kemunculan Dajjal yang dalam ajaran Islam disebut sebagai ujian terbesar bagi umat manusia. Dalam berbagai riwayat, ancaman ini tidak hanya digambarkan dahsyat, tetapi juga memiliki dampak sosial yang kompleks, termasuk disebut-sebut lebih banyak memengaruhi kaum perempuan.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan tegas tentang sosok ini:
“Tidaklah diutus seorang nabi melainkan dia mengingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, sang pendusta. Ketahuilah Dajjal itu buta sebelah dan Tuhan kalian tidak buta sebelah. Di antara kedua matanya tertulis: kafir.” (HR. Bukhari)
Peringatan ini menunjukkan bahwa fitnah Dajjal bukan sekadar peristiwa masa depan, melainkan ancaman ideologis dan spiritual yang telah diantisipasi sejak masa para nabi.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan manusia agar tidak mudah terperdaya oleh tipu daya dunia. Dalam Surah Ali Imran ayat 14 disebutkan:
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak…”
Ayat ini sering dijadikan landasan bahwa kecenderungan pada hal-hal duniawi dapat menjadi celah masuknya fitnah, termasuk fitnah besar di akhir zaman.
Sejumlah hadis menyebutkan bahwa ketika Dajjal muncul, sebagian besar yang terpengaruh adalah perempuan. Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar, Rasulullah menggambarkan situasi ketika seseorang harus menahan anggota keluarganya agar tidak mendatangi Dajjal karena kuatnya godaan yang ditawarkan.
Fenomena ini kemudian dijelaskan oleh Dr. Muhammad Ahmad al-Mubayyadh dalam kitab al-Mausū’ah fī al-Fitan wa al-Malāhim wa Asyrāti as-Sā’ah. Ia menyebut bahwa kerentanan tersebut bukanlah bentuk merendahkan perempuan, melainkan penjelasan tentang sisi psikologis manusia. Perempuan disebut lebih mudah tersentuh oleh aspek emosional dan daya tarik dunia, terlebih ketika kondisi sosial sedang kacau.
Dalam konteks fitnah Dajjal, manipulasi realitas menjadi ujian utama. Api tampak seperti air, dan air tampak seperti api. Dalam kondisi seperti itu, tanpa keimanan yang kuat, siapa pun dapat terjebak.
Baca Juga : Terbaru di Malang! Deretan Kasus Penipuan Nikah Sesama Jenis yang Pernah Heboh di Indonesia
Isu ini juga berkaitan dengan hadis lain yang cukup sering diperdebatkan, yakni tentang mayoritas penghuni neraka. Rasulullah bersabda:
“Aku melihat ke dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, hadis ini tidak berdiri sendiri. Dalam riwayat Muslim dijelaskan penyebabnya bukan karena jenis kelamin, melainkan perilaku, seperti tidak bersyukur dan menyakiti dengan ucapan. “Mereka adalah yang tidak bersyukur kepada suami dan mengingkari kebaikan.”
Imam Al-Qurthubi dalam kitab Jahannam Ahwaluha wa Ahluha memberikan tafsir lebih dalam. Ia menyebut dominasi hawa nafsu, kecenderungan pada dunia, serta lemahnya kontrol diri sebagai faktor yang bisa menyeret siapa pun, termasuk perempuan, menjauh dari orientasi akhirat.
Namun, penting dicatat bahwa Islam tidak pernah menempatkan perempuan sebagai pihak yang lemah secara mutlak. Justru banyak ayat dan hadis yang menegaskan kesetaraan dalam peluang meraih keselamatan. Dalam Surah An-Nahl ayat 97 ditegaskan:
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”