JATIMTIMES - Masalah rumah tangga kerap lahir bukan dari perkara besar, melainkan dari miskomunikasi yang dibiarkan menumpuk. Islam sejak awal sudah memberi rambu soal ini, bahkan Rasulullah SAW secara khusus pernah mengingatkan tentang tabiat tertentu yang bisa menyeret perempuan pada kerugian di akhirat jika tidak disadari dan diperbaiki.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda,
“Aku melihat neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena mereka banyak mengingkari dan mengingkari kebaikan suami. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu ia melihat satu keburukan saja darimu, ia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali’.”
Baca Juga : Bolehkah Puasa Nisfu Syaban Digabung dengan Qadha Ramadan? Ini Penjelasan Ulama dan Bacaan Niatnya
Hadis ini kerap dibaca secara tekstual, padahal konteks sosial dan psikologisnya jauh lebih dalam. Dr Karim asy-Syadzili dalam buku Kado Pernikahan terbitan Insan Kamil menjelaskan, perempuan pada dasarnya memiliki cara berbahasa yang khas, sarat kiasan dan isyarat emosional.
Ia mencontohkan, ketika seorang istri berkata, “Kamu tidak pernah memperhatikanku,” sering kali itu bukan tuduhan mutlak. Maksud sesungguhnya bisa beragam, mulai dari keinginan untuk didengarkan, dimanjakan, hingga sekadar diajak berjalan bersama. Begitu pula kalimat, “Kamu tidak pernah mencintaiku,” yang sering kali justru lahir dari kebutuhan untuk diyakinkan, bukan untuk menyalahkan.
Menurut asy-Syadzili, perbedaan gaya berbahasa inilah yang menjadi latar mengapa Rasulullah SAW mewanti-wanti persoalan pengingkaran terhadap kebaikan suami. Bukan untuk merendahkan perempuan, melainkan sebagai peringatan agar emosi tidak menutup mata terhadap kebaikan yang nyata.
Al Quran sendiri menegaskan pentingnya hubungan rumah tangga yang dibangun di atas ketenangan dan kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar Rum ayat 21,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
Asy-Syadzili menekankan, banyak konflik rumah tangga berawal dari dua hal yang berjalan bersamaan. Ketidakpahaman suami terhadap tabiat bahasa istri dan kecenderungan istri mengingkari kebaikan suami saat emosi mengambil alih. Ketika dua hal ini bertemu, masalah kecil bisa menjelma menjadi badai.
Ia menyebut, suami yang cerdas secara emosional adalah mereka yang tidak terpancing oleh ungkapan kiasan semata. “Apa yang diucapkan istri sering kali bukan tujuan akhir, tetapi jalan untuk meminta perhatian dan penghargaan,” ujarnya.
Baca Juga : Sakit Hati Dicaci, Menantu Perempuan Cekik dan Tusuk Mertua hingga Tewas di Blitar
Para pakar hubungan keluarga juga menyebutkan, perbedaan bahasa emosional antara suami dan istri adalah fakta psikologis yang tak bisa dihindari. Perempuan cenderung menyampaikan perasaan dengan simbol dan nuansa, sementara laki-laki lebih lugas dan langsung pada inti persoalan. Di titik inilah, kesabaran dan pemahaman menjadi kunci.
Rasulullah SAW sendiri mencontohkan akhlak terbaik dalam rumah tangga. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”