JATIMTIMES - Bulan Rajab menjadi salah satu waktu istimewa bagi umat Islam untuk kembali menata hati dan memperbaiki diri. Dalam Khutbah Jumat yang masih dalam bulan Rajab ini, umat diajak menjadikan momentum bulan mulia ini sebagai sarana mengobati hati dengan memperbanyak tobat kepada Allah SWT.
Membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, menjauhi segala bentuk maksiat, serta meningkatkan kualitas ibadah ditegaskan sebagai langkah terbaik untuk meraih ketenangan batin dan keberkahan hidup.
Baca Juga : PP Tunas Batasi Akses Digital untuk Anak, Puguh DPRD Jatim: Solusi Tekan Cyberbullying
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِيْ اصْطَفَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا ﷺ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمَ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى مَنْ بِهِ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ يَوْمَ الْمَآبِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَب. أما بعد
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Jemaah salat Jumat yang berbahagia,
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada seluruh jemaah salat Jumat, dan terlebih kepada diri khatib sendiri, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan itu diwujudkan dengan kesungguhan menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya semampu yang kita bisa.
Hadirin rahimakumullah,
Saat ini kita telah memasuki salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, yakni bulan Rajab. Bulan Rajab adalah bulan ketika Nur Muhammad ditiupkan ke dalam rahim perempuan mulia, Sayyidati Siti Aminah.
Secara bahasa, kata Rajab berasal dari “tarjib” yang bermakna memuliakan dan mengagungkan. Dari namanya saja sudah tergambar kemuliaannya. Oleh karena itu, bulan Rajab dikenal sebagai bulan yang sarat dengan rahmat, karunia, dan kebaikan dari Allah SWT.
Rasulullah SAW begitu memuliakan bulan Rajab hingga beliau memanjatkan doa sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam Musnad Ahmad:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”
Dari doa Rasulullah SAW tersebut, tampak jelas bahwa bulan Rajab merupakan awal dari rangkaian bulan-bulan penting dalam ibadah umat Islam, yang puncaknya adalah datangnya bulan suci Ramadhan.
Hadirin rahimakumullah,
Di bulan Rajab yang penuh kemuliaan ini, marilah kita memperbanyak taubat kepada Allah SWT. Taubat dilakukan dengan membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela serta menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan.
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab al-Ghuniyah menjelaskan bahwa terdapat tiga syarat agar taubat diterima oleh Allah SWT. Pertama, adanya penyesalan yang sungguh-sungguh atas dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan. Kedua, meninggalkan perbuatan dosa tersebut kapan pun dan di mana pun. Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulangi kembali kesalahan dan dosa tersebut. Ketiga syarat ini harus dipenuhi agar taubat benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.
Memperbanyak istighfar, baik dengan lisan maupun dalam hati, merupakan tanda kesungguhan kita untuk bertaubat. Walaupun terkadang masih terjatuh dalam dosa, setidaknya kita tidak pernah berhenti kembali kepada Allah SWT.
Bahkan Rasulullah SAW, yang terjaga dari dosa, diriwayatkan beristighfar hingga seribu kali setiap hari. Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi umatnya agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan istighfar.
Hadirin rahimakumullah,
Salah satu faktor yang membuat seseorang mudah terjerumus dalam dosa adalah hati yang mati. Hati yang mati sulit menerima nasihat, enggan diajak kepada kebaikan, dan berat untuk memperbaiki diri. Bahkan, hati semacam ini cenderung menjauh dari kebenaran.
Dalam kitab Lubabul Hadits halaman 73, Rasulullah SAW bersabda bahwa terdapat tiga hal yang dapat menyebabkan matinya hati, yaitu terlalu gemar tidur, senang bersantai-santai, dan berlebihan dalam makan.
Syekh Abdullah Al-Haddad juga menjelaskan bahwa suatu kebiasaan, baik kebiasaan baik maupun buruk, apabila dilakukan terus-menerus, maka lambat laun akan melekat kuat pada diri pelakunya.
Baca Juga : Bangun Lebih Tenang! Ini Kebiasaan Pagi Sederhana yang Bikin Fokus dan Pikiran Lebih Ringan
Oleh karena itu, di bulan Rajab ini marilah kita berusaha menghidupkan kembali hati yang telah lalai. Bagi yang terbiasa banyak tidur, mari manfaatkan malam untuk bangun dan memperbanyak salat malam. Bagi yang gemar bersantai, mari bangkit untuk bekerja lebih giat, mencari hal-hal yang bermanfaat dan bernilai keberkahan.
Kita juga bisa mulai menabung sedikit demi sedikit sebagai persiapan menyambut bulan Ramadhan, agar kelak tidak terlalu disibukkan dengan urusan dunia hingga melalaikan ibadah puasa.
Bagi yang terbiasa makan berlebihan, marilah mulai menguranginya. Bahkan alangkah baiknya jika di bulan Rajab ini mulai membiasakan diri dengan puasa sunnah. Puasa sunnah menjadi latihan yang sangat baik untuk mempersiapkan diri menjalani puasa Ramadhan selama sebulan penuh.
Puasa sunnah di bulan Rajab memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ، أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْمًا وَاحِدًا سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ
Artinya: “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah sungai yang bernama Rajab, lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa satu hari saja di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut.”
Selain itu, diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berpuasa pada hari pertama bulan Rajab, pahalanya setara dengan puasa satu tahun. Siapa yang berpuasa tujuh hari, maka ditutup baginya tujuh pintu neraka. Dan siapa yang berpuasa sepuluh hari, maka akan ada seruan dari langit, “Mintalah apa saja, niscaya akan diberikan.” (HR Abu Nu‘aim dan Ibnu Asakir)
Para ulama juga menyampaikan sebuah ungkapan hikmah, “Perbaikilah hatimu, niscaya engkau akan dimudahkan melihat jalan menuju tujuan.”
Salah satu cara agar senantiasa berada dalam kebaikan adalah dengan terus memperhatikan kondisi hati, apakah masih hidup dengan iman atau mulai melemah. Dengan cara itu, seseorang akan selalu waspada dan mawas diri. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang senantiasa menjaga dan membersihkan hatinya.
Jemaah salat Jumat yang berbahagia,
Demikian khutbah Jumat singkat ini. Semoga dapat menjadi pengingat dan penyemangat bagi kita semua untuk terus berbuat kebaikan serta memperbaiki diri dari berbagai sifat tercela. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan bulan-bulan mulia, mulai dari Rajab, Sya’ban, hingga Ramadhan. Aamiin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ
فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ