JATIMTIMES - Media sosial tengah diramaikan dengan kabar penarikan susu formula bayi dari merek Nestlé. Perusahaan multinasional tersebut menarik kembali sejumlah produk susu formula bayi yang beredar di berbagai negara Eropa menyusul potensi kontaminasi zat beracun yang dapat berdampak pada kesehatan.
Penarikan produk dilakukan secara terbatas terhadap batch tertentu sejak Desember 2025 di sejumlah negara, antara lain Austria, Denmark, Finlandia, Jerman, Irlandia, Italia, Swiss, dan Inggris. Meski demikian, hingga saat ini Nestlé menegaskan belum ada laporan penyakit atau gejala kesehatan yang terkonfirmasi akibat konsumsi produk tersebut.
Baca Juga : Keluhkan Solusi Penagih Bank, Debitur di Tulungagung Ungkap Dugaan Kongkalikong
Nestlé menjelaskan bahwa langkah penarikan dilakukan setelah perusahaan mendeteksi adanya masalah kualitas pada bahan baku yang dipasok oleh pemasok utama. Perusahaan kemudian melakukan pengujian menyeluruh terhadap bahan yang digunakan dalam produksi nutrisi bayi.
“Setelah mendeteksi masalah kualitas pada bahan baku yang disediakan oleh pemasok utama, Nestlé telah melakukan pengujian terhadap semua minyak asam arakidonat dan campuran minyak yang digunakan dalam produksi produk nutrisi bayi yang berpotensi terpengaruh,” ujar juru bicara Nestlé, seperti dikutip CNA Rabu (7/1/2026).
Perusahaan menegaskan bahwa penarikan ini bersifat pencegahan dan tidak dilakukan karena adanya laporan kasus kesehatan pada bayi.
Merek Susu Bayi Nestlé yang Terdampak
Secara umum, produk yang ditarik berasal dari tiga merek utama nutrisi bayi milik Nestlé, yakni SMA, BEBA, dan NAN. Penarikan hanya berlaku untuk batch tertentu, bukan seluruh produk dari masing-masing merek.
1. Produk Susu Bayi Merek SMA
Untuk merek SMA, penarikan mencakup sejumlah varian susu formula bayi dan lanjutan, antara lain:
• SMA First Infant Milk
• SMA Advanced First Infant Milk
• SMA Follow-on Milk
• SMA Comfort
• SMA Lactose Free
• SMA Anti Reflux
• SMA Little Steps First Infant Milk
Produk-produk ini beredar dalam berbagai ukuran kemasan dan ditarik di negara seperti Inggris dan Irlandia.
2. Produk Susu Bayi Merek BEBA
Merek BEBA yang banyak beredar di Jerman, Swiss, dan Austria juga termasuk dalam penarikan. Nestlé menyatakan tidak seluruh varian BEBA terdampak, melainkan hanya produk dengan nomor batch tertentu yang telah diumumkan secara resmi.
3. Produk Susu Bayi Merek NAN
Penarikan paling luas terjadi pada produk bermerek NAN. Varian yang terdampak antara lain:
• NAN Alfamino dan Alfamino Junior
• NAN AR
• NAN Total Comfort 1 dan 2
• NAN Optipro 1
• NAN SupremePro 1 dan 2
• Sejumlah varian NAN dalam bentuk sachet dan kaleng
Produk-produk tersebut beredar di beberapa negara Eropa, termasuk Italia, Denmark, Finlandia, dan Irlandia.
Kementerian Kesehatan Austria menyebutkan bahwa penarikan produk ini melibatkan lebih dari 800 jenis produk yang berasal dari lebih dari 10 fasilitas produksi Nestlé. Penarikan tersebut bahkan disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah perusahaan.
Baca Juga : 7.562 Gempa Terjadi di Jatim pada 2025, BMKG Imbau Masyarakat Kabupaten Malang Tetap Waspada
Namun, Nestlé menyatakan tidak dapat memverifikasi secara rinci jumlah tersebut. Meski demikian, perusahaan telah mempublikasikan daftar nomor batch produk yang tidak boleh dikonsumsi di masing-masing negara.
Selain itu, Nestlé juga menyebut telah mengidentifikasi potensi risiko serupa di salah satu fasilitas produksinya di Belanda dan tengah berupaya meminimalkan gangguan pasokan yang mungkin terjadi akibat penarikan ini.
Imbauan untuk Orang Tua
Nestlé dan otoritas kesehatan setempat mengimbau para orang tua dan pengasuh untuk:
- Memeriksa nomor batch pada kemasan susu bayi
- Tidak mengonsumsi produk yang termasuk dalam daftar penarikan
- Menghubungi layanan konsumen Nestlé atau tempat pembelian untuk informasi pengembalian
- Segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika bayi menunjukkan gejala seperti muntah, diare, atau kram perut.
Penarikan susu bayi Nestlé ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap produk nutrisi bayi. Meski bersifat pencegahan dan belum ditemukan kasus kesehatan yang terkonfirmasi, langkah ini diambil untuk memastikan keamanan konsumen, khususnya bayi yang sangat rentan terhadap risiko kesehatan.