free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Raden Kajoran dan Ideologi Islam-Jawa dalam Pemberontakan Trunojoyo

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

25 - Jul - 2025, 08:28

Loading Placeholder
Lukisan realis Raden Kajoran, ulama karismatik sekaligus bangsawan spiritual dari Wangsa Kajoran yang menjadi mertua dan mentor Trunojoyo. (Foto: AI created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam pusaran konflik politik dan militer abad ke-17 di tanah Jawa, terdapat satu tokoh yang memainkan peran ambigu namun vital dalam salah satu pemberontakan terbesar terhadap hegemoni Kerajaan Mataram: Raden Kajoran, dikenal pula sebagai Panembahan Rama. 

Tokoh yang dalam satu napas disebut ulama karismatik, bangsawan berdarah biru, sekaligus dalang intelektual dari pemberontakan Trunojoyo, menantu sekaligus sekutunya. Kekuatan narasi sejarah tentang keduanya tak hanya ditopang oleh alur babad dan arsip kolonial, melainkan juga oleh simbiosis ideologis dan hubungan kekerabatan yang saling menopang.

Baca Juga : PIAUD Tiga Kampus di Malang Raya Gelar Stadium Generale, Hadirkan Cik Gu Siti dari Malaysia

Raden Trunojoyo, tokoh utama dalam pemberontakan 1674–1680, adalah putra seorang bangsawan Madura yang telah mengalami pergolakan sejak masa kanak-kanak. Ayahnya, Raden Malayakusuma, terbunuh pada tahun 1656 dalam pemberontakan para pangeran alit di Keraton Plered.

Pamannya, Raden Undagan, kemudian mengasuhnya. Sosok ini, kelak dikenal sebagai Cakraningrat II, adalah Adipati Sampang yang memiliki kedekatan dengan lingkungan istana Mataram, namun tidak selalu disukai oleh rakyat Madura.

Catatan Belanda menyebut bahwa pada masa mudanya, Trunojoyo dididik dan dibesarkan di lingkungan keraton Mataram. Dalam laporan tanggal 5 Juli 1677 disebutkan ia adalah pangeran Mataram “yang dididik di lingkungan Sunan yang sudah tua ini.” Bahkan sebuah cerita lisan yang dicatat Holsteyn menyebutkan Trunojoyo sebagai putra selir raja, yang kemudian diasuh oleh Cakraningrat I atas perintah raja. 

Namun, dalam praktiknya, kehidupan di lingkungan bangsawan istana tidak selalu bersahabat. Tuduhan berselingkuh dengan kerabat perempuan membuat Trunojoyo terusir dan bahkan nyaris dibunuh oleh Cakraningrat II. Ia menyelamatkan diri berkat perlindungan orang-orang Madura yang tinggal di Mataram.

Trunojoyo dalam beberapa suratnya kepada Kompeni dan rekan lamanya, yang kemudian menjadi Sunan Amangkurat II, mengungkap rasa dikhianati dan ketidakadilan yang diterimanya. Dalam surat kepada Speelman dan Couper, ia menyebut bahwa baik Adipati Sampang maupun Sunan Amangkurat I ingin membunuhnya tanpa sebab. Penolakan dan tekanan ini mendorong Trunojoyo menjauh dari pusat kekuasaan dan berafiliasi dengan kalangan oposisi istana.

Kebingungan arah dan keterasingan dari pusat kekuasaan akhirnya menggiringnya ke pelukan seorang tokoh karismatik dari pegunungan selatan, yaitu Raden Kajoran. Panembahan Kajoran Ambalik bukanlah bangsawan biasa karena darah Sunan Tembayat dan Ki Ageng Giring mengalir dalam tubuhnya.

Sekitar tahun 1670, Trunojoyo dan Raden Kajoran menjalin hubungan dengan Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Mataram yang kelak menjadi Amangkurat II.  Ketiganya memiliki kepentingan bersama: menggulingkan Amangkurat I yang otoriter.  Mereka menyusun rencana rahasia untuk melancarkan pemberontakan.

 Trunojoyo akan memimpin pasukan pemberontak dengan dukungan dari Raden Kajoran, sementara Pangeran Adipati Anom akan tetap berada di dalam keraton, menyembunyikan keterlibatannya. Persekutuan ini menjadi fondasi dari pemberontakan besar yang akan terjadi beberapa tahun kemudian.

Lukisan realis Trunojoyo dan Raden Kajoran

Bukan hanya Trunojoyo dan Kajoran yang membenci Amangkurat I. Putra mahkota sendiri, Pangeran Adipati Anom (kelak Amangkurat II), juga memiliki niatan menggulingkan ayahnya. Konflik internal di istana Plered menciptakan peluang. 

Raden Kajoran dimintai nasihat dan restu oleh putera mahkota Mataram. Namun ia menolak terlibat langsung dan mengusulkan Trunojoyo sebagai tangan pelaksana. Ia sendiri akan berperan sebagai resi kerohanian dan penopang moral dari gerakan besar tersebut.

Maka terbentuklah konspirasi segitiga: Adipati Anom, Trunojoyo, dan Raden Kajoran. Dalam struktur ini, Raden Kajoran adalah konseptor ideologis dan pemegang otoritas spiritual.

Pada tahun 1674, Trunojoyo memulai pemberontakan dengan menyerang wilayah-wilayah Mataram di Jawa Timur.  Dengan dukungan pasukan dari Madura dan Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Galesong, Trunojoyo berhasil merebut Surabaya pada September 1676.  Pertempuran besar terjadi di Gegodog pada 13 Oktober 1676, di mana pasukan Trunojoyo mengalahkan pasukan Mataram yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom. 

Kemenangan ini membuka jalan bagi pemberontak untuk merebut kota-kota penting di pesisir utara Jawa, termasuk Kudus dan Demak. Raden Kajoran tidak hanya memberikan dukungan moral dan spiritual, tetapi juga terlibat langsung dalam pemberontakan.  Pasukannya bergabung dengan Trunojoyo. 

Hubungan Raden Trunojoyo dan Raden Kajoran tidak dimulai dari sekadar kesamaan tujuan politik, tetapi juga pertautan darah melalui pernikahan. Trunojoyo menikahi putri Raden Kajoran, dalam suatu perjodohan strategis yang dikukuhkan secara resmi pada 15 Maret 1677 oleh pejabat istana, Jagapati Japara. 

Pernikahan ini bukan hanya mempertemukan dua keluarga bangsawan yang terpinggirkan oleh Mataram, tetapi juga mengikat dua tokoh besar yang kemudian mengguncang tatanan kekuasaan di Jawa.

Dalam pandangan Raden Kajoran, menantunya ini bukanlah pemberontak biasa, tetapi seorang pahlawan dan pemimpin masa depan. Cerita tutur menyebutkan bahwa sang mertua menganggap Trunojoyo sebagai "pahlawan besar yang akan mengguncangkan seluruh Jawa." Kedekatan mereka melampaui ikatan keluarga, menjadi hubungan mentor dan murid dalam misi keagamaan dan politik untuk menjatuhkan dominasi Mataram yang dianggap zalim.

Lukisan realis Trunojoyo dan Karaeng Galesong

Sumber Belanda menyebutkan bahwa pada 1678, hubungan antara Raden Kajoran dan Trunojoyo masih sangat dekat. Speelman sendiri menulis bahwa mereka adalah sekutu yang setia. Bahkan ketika pernikahan Trunojoyo dengan putri Kajoran tampaknya tidak bertahan lama, hubungan keduanya tidak merenggang. Hubungan ideologis dan politik mereka justru menguat di tengah tekanan militer Mataram dan VOC.

Motif Raden Kajoran dalam mendukung pemberontakan ini tampaknya lebih bersifat religio-politis daripada sekadar dendam pribadi atau ambisi kekuasaan. Dalam konteks Jawa abad ke-17, peran seorang wali atau ulama besar seperti Raden Kajoran melampaui batas duniawi. Ia adalah penghubung antara langit dan bumi, antara nilai Islam puritan dengan realitas politik yang korup. Maka, ketika Trunojoyo muncul sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi dan kemerosotan moral Mataram, Raden Kajoran melihatnya sebagai alat perubahan, bahkan jika itu berarti perang dan kehancuran.

Pemberontakan Trunojoyo yang dimulai sekitar 1674 mulai menunjukkan taringnya di tahun 1676 saat pasukan gabungannya dengan laskar Kajoran menyerbu wilayah-wilayah Mataram. Mereka bergerak dari pesisir utara dan memasuki daerah pedalaman Jawa dengan mudah. Hal ini sebagian besar karena karisma Trunojoyo dan pengaruh religius Raden Kajoran. Rakyat yang lama menderita di bawah pemerintahan Amangkurat I banyak yang menyambut pasukan ini sebagai pembebas.

Pada Juni 1677, koalisi pemberontak menyerbu ibu ibukota Mataram di Plered. Pasukan Mataram tak mampu menahan serangan. Istana jatuh, dan Amangkurat I melarikan diri ke barat, lalu wafat dalam pelarian di Tegalarum, Tegal. Trunojoyo yang tahu Adipati Anom kini berada di pihak Belanda tidak lantas menyerahkan kekuasaan kepada Adipati Anom seperti yang dijanjikan. Ia menetapkan markas di Kediri dan menyatakan diri sebagai raja baru dengan gelar Panembahan Maduretno.

Raden Kajoran, dalam peranannya yang lebih tenang, kembali ke Kajoran, memelihara sisa kekuatan, dan menjaga api pemberontakan tetap menyala di antara kalangan ulama dan petani di pedalaman. 

Baca Juga : Targetkan Jadi Lumbung Swasembada Pangan Nasional, HKTI Jatim Lantik 38 Pengurus Daerah

Amangkurat II, putra mahkota yang kini dinobatkan sebagai raja baru tanpa istana, tidak tinggal diam. Ia menjalin aliansi dengan VOC dengan menawarkan konsesi dagang dan wilayah demi memperoleh bantuan militer. Tahun 1678 hingga 1679 menjadi masa serangan balasan. Gubernur Jenderal Rijcklof van Goens mengirim Jan Albert Sloot, komandan Belanda yang berhasil menundukkan daerah pemberontak, termasuk wilayah Kajoran.

Pada September 1679, Raden Kajoran ditangkap. Dalam kondisi tua dan tidak bersenjata, ia dieksekusi atas nama raja Mataram dan VOC. Eksekusinya menjadi simbol pembunuhan terhadap poros spiritual gerakan rakyat. Trunojoyo sendiri ditangkap beberapa bulan kemudian di Gunung Kelud, dan dieksekusi pada Januari 1680.

Namun sejarah mencatat bahwa pemberontakan Trunojoyo dan peran Raden Kajoran sebagai arsitek spiritual-politiknya telah membuka bab baru dalam dinamika kekuasaan di Jawa. Mereka mewakili suara-suara yang terpinggirkan, tokoh-tokoh yang melampaui sekadar pemberontakan dan menjadi lambang resistensi terhadap tirani. Dalam sejarah Islam-Jawa, nama Kajoran tidak hanya diingat sebagai seorang kiai pegunungan, tetapi sebagai pemangku cita-cita tegaknya keadilan.

Naskah-naskah babad menyiratkan bahwa meski pemberontakan gagal secara militer, ia sukses mengguncang legitimasi moral dinasti Mataram. Ketika nama Trunojoyo dan Kajoran disebut, yang hadir bukan semata-mata kisah kekalahan, tetapi kisah keberanian dan pembangkangan bermartabat. Mereka adalah simbol perlawanan terhadap hegemoni istana yang kehilangan arah spiritual dan moral. Dan dalam panorama panjang sejarah Jawa, keduanya akan tetap dikenang sebagai murid dan guru, menantu dan mertua, pemimpin dan wali—yang bersama-sama mengguncang tatanan lama demi harapan akan yang baru.

Raden Kajoran wafat sebagai tokoh yang dilecehkan oleh penguasa, namun dihormati rakyat. Makamnya di Desa Kajoran, Klaten, menjadi tempat ziarah hingga hari ini. Dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa, ia dikenang bukan sebagai pemberontak, tetapi sebagai wali, seorang guru spiritual yang berani melawan tirani.

Lebih dari sekadar mertua Trunojoyo, Raden Kajoran adalah penggagas gerakan moral melawan kekuasaan absolut. Ia menjadikan agama sebagai fondasi perlawanan politik, dan menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kezaliman bisa dilakukan tanpa pedang di tangan, tapi dengan keberanian dan wibawa di hati.

Nasab dan Silsilah Raden Kajoran: Jejak Wangsa Kajoran dalam Lintasan Sejarah Jawa

Dalam jejak sejarah kekuasaan dan spiritualitas Jawa abad ke-16 hingga abad ke-18, Wangsa Kajoran muncul sebagai salah satu poros bangsawan religius yang menghubungkan jaringan kekuasaan Islam pesisiran dengan Mataram pedalaman. Di balik tokoh Raden Kajoran atau Panembahan Rama, mertua Trunajaya dan musuh politik Susuhunan Amangkurat I, tersimpan sebuah silsilah panjang yang menelusur hingga ke jantung dakwah Islam awal di Nusantara: para Walisongo.

Tanah Kajoran berada di wilayah selatan Klaten, sebuah kawasan agraris subur yang oleh masyarakat disebut sebagai bumi panenan. Secara simbolik, "Kajoran" bisa dimaknai sebagai bintang kejora, cerminan cahaya padi yang berkilau diterpa sinar rembulan. Namun, lebih dari metafora alam, Kajoran adalah pusat spiritualitas dan kekuasaan lokal yang lahir dari garis keturunan para wali.

Raden Kajoran, yang juga dikenal sebagai Panembahan Rama, merupakan cicit dari Sunan Ampel, salah satu Walisongo pelopor dakwah Islam di Jawa. Garis keturunannya bermula dari Sunan Ampel yang menurunkan Pangeran Tumapel atau Syekh Hambyah. Dari Pangeran Tumapel lahir dua tokoh besar: Sunan Pandanaran II dan Sayid Kalkum. Sayid Kalkum, bergelar Pangeran ing Wot Galeh atau Adipati Ponorogo II, menikah dengan putri Batoro Katong dan dari pernikahan ini lahirlah Pangeran Maulana Mas, yang kelak dikenal sebagai Panembahan Agung Kajoran atau Sunan Kajoran, pendiri Wangsa Kajoran di Klaten.

Panembahan Agung Kajoran merupakan pendiri Wangsa Kajoran yang memainkan peran penting dalam menyatukan kekuatan spiritual dan politik Jawa abad ke-16 hingga 17. Ia menikahi dua putri dari Sunan Pandanaran II, tokoh sentral Islamisasi di lereng Merapi. Dari pernikahan ini lahirlah sejumlah tokoh kunci. RAy Sindusena menikah dengan Kanjeng Pangeran Sindusena, putra Sultan Hadiwijaya, sehingga menjalin aliansi darah antara Kajoran dan Pajang. RAy Kajoran menikah dengan Panembahan Senapati, pendiri Mataram Islam, dan melahirkan dua adipati penting: Rio Menggala dan Jayaraga. Sementara itu, Pangeran Agus atau Raden Suroso menikahi Roro Subur, putri Ki Ageng Pemanahan. Dari pasangan ini lahir Pangeran Raden ing Kajoran yang menikah dengan RAy Wangsa Cipta, putri Panembahan Senapati. Dari garis ini muncul Panembahan Rama, tokoh ulama-pejuang yang memimpin pemberontakan Trunojoyo dan menantang legitimasi Amangkurat I atas dasar wahyu, warisan, dan luka sejarah.

Panembahan Rama tidak hanya berperan sebagai mertua Trunajaya, tetapi juga sebagai penyuplai legitimasi spiritual bagi gerakan perlawanan terhadap absolutisme Mataram. Dalam tradisi sejarah Jawa, perlawanan Rama dan Trunojoyo dipandang bukan sekadar pemberontakan politik, melainkan juga sebagai perlawanan atas distorsi moral dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam dalam istana.

Spiritualitas Kajoran, yang bersumber dari warisan Walisongo, memberikan kerangka ideologis bagi perlawanan tersebut. Dalam naskah-naskah babad, Raden Kajoran digambarkan sebagai ulama besar yang dihormati, tetapi kecewa dengan penyimpangan kekuasaan Amangkurat I. Kekecewaan ini menjelma dalam bentuk gerakan bersama menantunya, Trunojoyo, yang meletus menjadi pemberontakan besar pada tahun 1674.

Perkawinan politik antara Wangsa Kajoran dan keturunan Pangeran Benowo dari Pajang mempertegas peran strategis trah Kajoran dalam jejaring kekuasaan Islam Jawa abad ke-17. Raden Ayu Panembahan Raden, keturunan langsung dari Pangeran Raden ing Kajoran, menikah dengan Panembahan Raden, putra Pangeran Mas, cucu dari Pangeran Benowo dari Pajang. Dari pernikahan ini lahirlah Kangjeng Ratu Wetan, yang kelak menjadi permaisuri kedua Susuhunan Amangkurat I dan ibu dari Pangeran Puger, raja penerus yang naik takhta dengan gelar Pakubuwana I.

Sementara dari jalur lain, pengaruh Wangsa Kajoran juga mengalir ke ranah budaya dan spiritualitas Jawa. Pangeran Haryo Wiro Menggolo ing Kajoran menjadi leluhur dari generasi pujangga agung yang melahirkan silsilah sastra Jawa klasik: dari Raden Ngabehi Yosodipuro I, Yosodipuro II, hingga Ronggowarsito. Melalui warisan inilah, tradisi wirid, tafsir kebatinan, dan kosmologi Islam-Jawa terus mengalir, menjadikan Wangsa Kajoran sebagai simpul penting dalam sejarah politik dan spiritualitas Mataram.

Jika ditarik lebih jauh, Wangsa Kajoran menjembatani dua arus besar sejarah Jawa: Islamisasi yang dimulai dari pesisir oleh Walisongo, dan konsolidasi kekuasaan di pedalaman melalui dinasti Mataram. Dalam tubuh Wangsa Kajoran, darah wali, darah raja, dan darah pemberontak bersatu. Tidak heran jika perlawanan Raden Kajoran mengandung dimensi spiritual, dendam sejarah, dan idealisme tentang kekuasaan yang adil dan berbudi.

Panembahan Rama, sebagai tokoh utama dari Wangsa Kajoran pada abad ke-17, bukan sekadar bangsawan atau ulama. Ia adalah figur kompleks yang mewakili persimpangan sejarah antara legitimasi Islam, tradisi mistik Jawa, dan amarah terhadap kerusakan tatanan politik. Dalam konteks itu, peran Raden Kajoran bukan hanya sebagai mertua Trunojoyo atau musuh Amangkurat, tetapi sebagai penghubung masa lalu suci Jawa dengan masa depan yang diperjuangkan melalui darah dan doa.

_____________________
Catatan Redaksi: artikel ini merupakan has rangkuman dari berbagai sumber 


Topik

Ruang Sastra raden kajoran trunojoyo amangkurat



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri

--- Iklan Sponsor ---