JATIMTIMES - Kabar mengenai tiga bank internasional yang menarik aliran dana dari Indonesia menjadi sorotan publik. Sekretaris Jenderal International Economic Association (IEA), Lili Yan Ing, menjelaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti ketiga bank itu hengkang dari Indonesia, melainkan bagian dari perubahan strategi bisnis global.
Penjelasan itu disampaikan Lili melalui unggahan di akun TikTok pribadinya. Dalam video tersebut, ia mengulas fenomena capital outflow yang dilakukan sejumlah bank asing sekaligus menjelaskan faktor di balik keputusan tersebut.
Baca Juga : Rentetan Event dari Paralayang hingga Bantengan Nuswantoro Diprediksi Picu Lonjakan Wisatawan di Kota Batu
"Terima kasih telah bergabung bersama saya. Pada kesempatan kali ini kita akan mendiskusikan mengenai bank-bank yang menarik aliran dananya keluar dari Indonesia." jelasnya.
Menurut Lili, terdapat tiga bank internasional yang melakukan penarikan aliran dana dengan nilai sekitar US$640 juta atau setara sekitar Rp11,5 triliun. Ketiga bank tersebut adalah Standard Chartered, Citibank, dan HSBC.
Namun, ia menjelaskan bahwa dana tersebut bukan ditarik karena ketiga bank menutup seluruh operasinya di Indonesia.
Lili menjelaskan, ketiga bank tersebut memilih melepas bisnis retail consumer banking sebagai bagian dari strategi global untuk memusatkan perhatian pada layanan wealth management atau pengelolaan kekayaan.
"Alasan utama mereka mengalihkan dana keluar dari Indonesia adalah karena mereka melepaskan bisnis retail consumer dan mengalihkannya ke wealth management pada tingkat global." ungkapnya.
Langkah itu sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Standard Chartered melepas bisnis retail consumer banking kepada Bank Danamon, Citibank menjual bisnis konsumennya kepada UOB Indonesia, sedangkan HSBC mengalihkan bisnis serupa kepada OCBC.
Meski demikian, ketiga bank tersebut masih tetap beroperasi di Indonesia dengan fokus pada segmen korporasi, nasabah prioritas, layanan investasi, hingga pengelolaan aset.
Lili menilai perubahan strategi tersebut tidak sepenuhnya berdampak negatif. Justru, pengambilalihan bisnis oleh bank domestik maupun bank regional Asia dinilai menjadi peluang bagi industri perbankan nasional untuk berkembang.
Baca Juga : 15 Ide Dekorasi Kampung dan Kantor untuk Memeriahkan HUT ke-81 RI 2026, Kreatif, Meriah, dan Hemat Biaya
"Dari sisi positif, ada pengalihan bisnis dari bank-bank besar dunia kepada bank domestik dan bank regional. Ini sebetulnya merupakan indikasi yang baik bagi perkembangan bank domestik dan bank regional di Asia." ungkapnya.
Dengan berpindahnya bisnis ritel ke pemain regional, bank-bank di Asia dinilai memiliki kesempatan lebih besar memperluas pangsa pasar dan memperkuat daya saing di sektor layanan perbankan konsumen.
Di balik sisi positif tersebut, Lili juga melihat adanya sinyal yang patut menjadi perhatian. Menurutnya, keputusan tiga bank global itu menunjukkan bahwa mereka tidak lagi melihat peluang ekspansi bisnis consumer banking di Indonesia sebesar beberapa tahun lalu.
"Dari sisi negatifnya, bank-bank besar dunia tidak melihat adanya harapan ekspansi atau perkembangan bisnis consumer retail mereka di Indonesia." jelasnya.
Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan perlambatan ekonomi domestik, terutama menyusutnya jumlah masyarakat kelas menengah (middle class) dan melemahnya daya beli masyarakat.
"Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami penurunan jumlah kelas menengah dan melemahnya daya beli masyarakat. Karena itu, mereka mengalihkan fokus dari bisnis consumer retail dan kembali menjalankan strategi global dengan memusatkan perhatian pada wealth management." pungkas Lili.