JATIMTIMES – Aksi lingkungan dan sosial mewarnai peringatan menjelang Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE di Kota Batu. Umat Budha dan warga mengikuti gerakan penuangan Eco Enzyme massal dan tradisi Pindapata di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan tersebut kental dengan toleransi antarumat beragama lantaran diikuti ratusan peserta wsrga dari berbagai latar belakang keyakinan atau lintas agama. Vihara Padepokan Dhanmadioa Amara menjadi pusat rangkaian kegiatan hingga prosesi pindapata.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda nasional yang dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia. Untuk wilayah Malang Raya, penuangan cairan organik ini dilakukan di sejumlah titik aliran Sungai, Desa Beji, Kota Batu yang biasa disebut warga dengan nama Kali Basin.
Ketua Wanita Theravada Indonesia (WANDANI) Kota Batu, Lusiana Dewi, menjelaskan bahwa aksi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan gerakan kolaborasi peduli lingkungan dan kegiatan sosial. Tercatat sekitar 170 peserta terlibat, mulai dari anggota Sangha, perangkat Desa Beji dan Mojorejo, hingga ibu-ibu PKK dari tingkat kota hingga desa.
“Ini adalah agenda nasional menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE. Kami berkolaborasi dengan komunitas Eco Enzyme Malang Raya, pemerintah desa, hingga umat non-Buddha. Total ada sekitar 170 peserta yang ikut terjun hari ini,” ujar Lusiana Dewi saat ditemui di Vihara, Minggu siang.
Penuangan dilakukan di lima titik strategis sepanjang aliran Kali Basin. Pemilihan titik ini didasarkan pada rekomendasi ahli lingkungan guna merehabilitasi kondisi air sungai yang dinilai mulai tidak sehat. Titik-titik tersebut meliputi Jembatan Watu Anyar Sarimun, Jembatan Warung Ijo belakang pabrik tahu, Jembatan Indomaret Beji, area Hotel Singhasari, hingga di Jembatan depan Warung Mbok Sri.
“Tujuan utamanya adalah edukasi masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa Kali Basin ini kondisinya kurang sehat, terutama masalah bau dan limbah. Dengan penuangan berkala, minimal dua minggu sekali, kita berharap ekosistem sungai kembali pulih,” imbuhnya.

Usai aksi lingkungan, acara dilanjutkan dengan tradisi Pindapata atau pemberian dana makanan kepada para Bhikkhu Sangha. Meski secara tradisi merupakan kegiatan umat Buddha, masyarakat lintas agama di Desa Beji tampak antusias ikut berbaris menyerahkan makanan dan sedekah.
Baca Juga : Manten Tebu Meriah! Plt Bupati Tulungagung Optimistis PG Modjopanggoong Dongkrak Produksi Gula 2026
Lusiana mengaku terharu dengan tingginya antusiasme warga non-Buddha, termasuk anggota PKK desa yang ingin terlibat langsung dalam Pindapata. Hal ini membuktikan bahwa toleransi beragama di Kota Batu, khususnya di wilayah Junrejo, terjalin sangat erat.
Melalui penuangan Eco Enzyme dan Pindapata ini, ia berharap kesadaran masyarakat terhadap kebersihan sungai meningkat, sekaligus memperkokoh predikat Kota Batu sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerukunan dan gotong royong.
“Pindapata sebenarnya khusus untuk umat menyerahkan dana makan kepada Bhikkhu. Namun, warga non-Buddha juga ingin terlibat dan kami sangat terbuka. Inilah indahnya kebersamaan, masyarakat ikut bergabung tanpa memandang sekat agama,” pungkasnya.