JATIMTIMES - Di tengah kerasnya tekanan pada masa awal dakwah Islam, sebuah kisah keteguhan iman dari keluarga sederhana di Makkah menjadi jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Sosok itu adalah Sumayyah binti Khayyat, perempuan yang dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam, yang mengorbankan hidupnya demi mempertahankan keyakinan.
Mengacu pada buku Mereka adalah Para Shahabiyah karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashir Asy-Syalabi, Sumayyah diceritakan sebagai seorang hamba sahaya milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Ia kemudian dinikahkan dengan Yasir, seorang pendatang yang hidup dalam keterbatasan di Makkah. Keduanya menjalani kehidupan yang tidak mudah, tanpa perlindungan kabilah besar yang dapat membela mereka di tengah kerasnya sistem sosial jahiliyah.
Baca Juga : Saat Surabaya Menjadi Kekuatan Besar di Jawa dan Menantang Mataram (1600–1625)
Dari pernikahan itu, lahirlah anak-anak mereka, termasuk Ammar bin Yasir yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan keimanan keluarga tersebut. Saat beranjak dewasa, Ammar mulai mengenal ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Ketertarikannya tumbuh dari nilai-nilai tauhid dan keadilan yang ia temukan dalam Islam.
Keyakinan itu kemudian membawanya memeluk Islam. Ia pun kembali ke rumah dan menceritakan pengalamannya kepada kedua orang tuanya. Tanpa ragu, Sumayyah dan Yasir menerima ajakan tersebut. Mereka memilih jalan yang sama, memeluk Islam di masa-masa awal penyebarannya. Bahkan, Sumayyah tercatat sebagai orang ketujuh yang masuk Islam.
Namun, pilihan itu membawa konsekuensi berat. Kabar keislaman keluarga ini memicu kemarahan kaum Quraisy, khususnya dari kalangan Bani Makhzum. Mereka menjadi sasaran penyiksaan yang kejam, dipaksa meninggalkan keyakinan yang baru mereka peluk.
Di bawah terik matahari padang pasir, keluarga ini diseret dan disiksa tanpa belas kasihan. Sumayyah mengalami perlakuan yang sangat keji. Tubuhnya ditindih batu berat, diselimuti pasir panas, dan dibiarkan menderita. Namun, tidak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Yang terdengar justru kalimat tauhid yang berulang, “Ahad, Ahad,” sebagai penegasan atas keesaan Allah.
Keteguhan serupa juga ditunjukkan oleh Yasir dan anak-anaknya. Dalam kondisi penuh tekanan, mereka tetap bertahan dengan iman yang tak tergoyahkan. Ketika Rasulullah SAW menyaksikan penderitaan mereka, beliau memberikan penguatan dengan bersabda, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”
Baca Juga : Qadha Puasa Ramadan Bisa Sekalian Puasa Syawal?
Ucapan itu menjadi sumber kekuatan bagi Sumayyah. Ia semakin teguh, bahkan dengan lantang menyatakan keyakinannya, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”
Penyiksaan yang terus berlangsung akhirnya mencapai puncaknya. Dalam kebiadaban yang tak terbendung, salah satu penyiksa menikam Sumayyah hingga wafat. Ia gugur dalam keadaan mempertahankan iman, menjadikannya perempuan pertama yang syahid dalam sejarah Islam.