JATIMTIMES - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan kontroversial. Di tengah memanasnya konflik global, termasuk perang Iran–Israel, Trump justru menyatakan keinginannya untuk “mengambil alih” Kuba.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir AFP, Selasa (17/3/2026). Trump mengaku selama ini selalu mendengar soal hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba, dan mempertanyakan kapan negaranya akan benar-benar bertindak.
Baca Juga : Dari Dapur Sederhana, Opak Gambir Maharis Tembus Hampers Lebaran ke Berbagai Kota
“Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?” ujar Trump.
Ia bahkan menambahkan bahwa dirinya merasa akan mendapatkan “kehormatan” untuk mengambil alih negara tersebut.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut kondisi Kuba saat ini sedang berada di titik lemah. Ia menilai situasi tersebut membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk mengambil langkah lebih jauh.
“Saya percaya saya akan mendapatkan kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Entah membebaskannya atau mengambilnya—saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya,” katanya.
Pernyataan ini menjadi salah satu sikap paling tegas Trump terkait Kuba dalam beberapa waktu terakhir.
Kuba saat ini memang tengah menghadapi krisis serius, terutama di sektor energi. Pemadaman listrik besar terjadi akibat gangguan pada jaringan listrik nasional.
Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur pembangkit listrik yang sudah tua. Di beberapa wilayah, pemadaman bahkan bisa berlangsung hingga 20 jam per hari.
Selain itu, tekanan ekonomi juga meningkat setelah pasokan minyak terhenti sejak awal Januari 2026 akibat kebijakan embargo. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga merembet ke transportasi dan pariwisata, termasuk berkurangnya penerbangan ke Kuba.
Situasi semakin rumit setelah Amerika Serikat menggulingkan sekutu utama Kuba, Nicolas Maduro, yang sebelumnya menjadi pemasok utama minyak.
Baca Juga : 10 Tradisi Unik Menyambut Lebaran Idulfitri di Indonesia, dari Meugang hingga Meriam Karbit
Sejumlah laporan juga menyebut bahwa pemerintah AS memberi sinyal agar Presiden Kuba saat ini, Miguel Diaz-Canel, digantikan dari posisinya.
Langkah ini menunjukkan meningkatnya tekanan politik Washington terhadap Havana di tengah krisis yang sedang berlangsung.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Kuba mulai mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Salah satunya dengan membuka peluang investasi, termasuk bagi warga Kuba yang tinggal di luar negeri.
Menteri Perdagangan Luar Negeri Kuba, Oscar Perez-Oliva, menyatakan bahwa negaranya kini terbuka untuk menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan Amerika Serikat maupun diaspora Kuba. Langkah ini diharapkan dapat membantu pemulihan ekonomi yang sedang terpuruk.
Pernyataan Trump tentang “mengambil alih” Kuba menambah ketegangan baru di kawasan Karibia. Apalagi, hal ini terjadi di tengah situasi global yang juga sedang tidak stabil akibat konflik di berbagai wilayah.
Meski belum jelas apa yang dimaksud dengan “pengambilalihan” tersebut, pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba berpotensi kembali memanas dalam waktu dekat.