JATIMTIMES - Menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) yang diterima oleh siswa di Desa Klatakan Kecamatan Tanggul, pada Selasa 24 Februari 2026 lalu bermasalah. Salah satu jenis suguhan sudah basi, yakni pada jenis puding atau Jelly.
Hal itu diketahui setelah salah satu wali murid menggunggah kejadian tersebut pada media sosial dalam story WhatsApp.
Baca Juga : Pondok Ramadan MTsN 2 Kota Malang Diikuti 805 Siswa, Kenalkan Tradisi Pesantren Salafiyah dan Modern
Menanggapi persoalan tersebut, kepala dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Desa Klatakan, Muhammad Irsyad mengatakan hal itu sudah dia ketahui. Dia menyatakan bahwa awal mula ditemukannya Puding atau Jelly pada menu MBG yang dibagikan ke sekolah-sekolah, bermula saat proses pendistribusian MBG, dirinya melihat salah satu isi di MBG berupa Jelly seperti tidak layak konsumsi.
Pihaknya pun melakukan pengecekan, dan memang benar ditemukan, bahwa Jelly atau puding sudah mengalami perubahan pada aroma, karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya langsung menghentikan pendistribusian.
"Awalnya saya melihat jelly yang ada di MBG seperti mengalami perubahan, setelah saya cek, ternyata memang aromanya sudah berubah, sehingga pendistribusian kami hentikan untuk diambil jellynya saja, sedangkan sebagian yang sudah terdistribusikan, kami langsung menyampaikan ke pihak sekolah, agar item jenis jelly tidak dikonsumsi karena basi," ujar Irsyad.

Dari penyampaian dirinya ke pihak sekolah itulah, kemudian oleh wali murid dijadikan status, dan menjadi viral.
"Kami bersyukur bisa mengetahui lebih dulu terkait dengan menu MBG yang sudah tidak layak konsumsi, dan hari itu juga kami umumkan, untuk jelly kami ganti di hari berikutnya dengan kurma," jelasnya.
Baca Juga : Sekda Budiar Tekankan Pentingnya Pengelolaan Dana BOS di Kabupaten Malang
Muhammad Irsyad menjelaskan, bahwa kue kue yang dikelola oleh SPPG di Desa Klatakan, selama ini memang mengambil dari UMKM dan bulan pabrikan, namun meski demikian, pihaknya memastikan bahwa makanan yang disajikan layak dikonsumsi.
"Ada regulasi yang kami pedomani, yakni tidak boleh menyajikan menu MBG dari pabrikan, sehingga kami bekerjasama dengan UMKM, termasuk pembuatan puding, karena jelly nya basi, jelly tersebut kami kembalikan ke UMKM," paparnya.
Ke depan, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, pihaknya akan lebih selektif dalam memilih menu MBG yang diambil dari UMKM, dan memastikan menu yang diberikan kepada siswa tidak mudah basi. "Nanti kami akan lebih selektif dan akan menyampaikan ke UMKM agar membuat menu yang tidak mudah basi," pungkasnya.(*)