JATIMTIMES - Isu pembukaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2026 kembali ramai dibicarakan. Banyak masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah pendaftaran CPNS tahun depan sudah dibuka atau setidaknya tinggal menunggu waktu.
Perbincangan soal CPNS 2026 ini juga ramai di media sosial. Salah satunya datang dari konten kreator Vina Maulina yang kerap membagikan tips seputar dunia kerja dan rekrutmen aparatur sipil negara. Dalam salah satu konten di TikToknya, Vina menyebut sudah ada sinyal awal terkait CPNS 2026, meski prosesnya masih berjalan.
Baca Juga : Berat Bangun Senin Pertama 2026? Ini Cara Bangkit dari Post Holiday dan Kembali Semangat Kerja
Vina menyampaikan bahwa informasi CPNS 2026 sudah disampaikan langsung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini. Saat ini, kata dia, pemerintah masih melakukan penghitungan kebutuhan pegawai di setiap kementerian dan lembaga.
Penghitungan tersebut dilakukan untuk memetakan posisi mana yang sudah terpenuhi dan jabatan mana yang masih membutuhkan tambahan pegawai melalui jalur CPNS, apabila memang diperlukan.
“Update CPNS 2026 sudah di-spill langsung sama Menteri PAN-RB. Sekarang kementerian dan lembaga lagi ngitung kebutuhan pegawainya,” ujar Vina dalam kontennya.
Pemerintah sendiri menegaskan bahwa hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait pembukaan seleksi CPNS 2026. Hal ini disampaikan langsung oleh MenPAN-RB Rini Widyantini.
Rini menjelaskan, Kementerian PAN-RB masih menunggu arahan Presiden Prabowo Subianto terkait rekrutmen CPNS 2026. Di sisi lain, pihaknya juga masih melakukan pemetaan kebutuhan pegawai pemerintah di seluruh kementerian dan lembaga (K/L).
“Kita lihat dulu, belum ada arahan dari bapak presiden. Kan kita harus hitung lagi, karena ini kan per 5 tahunan, ini sudah kemarin kan yang 2024,” ujar Rini dikutip dari detikFinance, Senin (5/1/2026).
Menurut Rini, proses penghitungan kebutuhan pegawai ini menjadi langkah penting agar rekrutmen CPNS benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil pemerintah.
Saat ini, Kementerian PAN-RB telah meminta seluruh K/L melakukan analisis kebutuhan pegawai berdasarkan strategi masing-masing untuk lima tahun ke depan. Dari pemetaan ini, akan terlihat jabatan mana yang kekurangan pegawai dan posisi mana yang justru sudah berlebih.
Dengan begitu, pemerintah dapat menentukan apakah suatu jabatan perlu ditambah, dikurangi, atau tetap dipertahankan jumlahnya.
“Saya sudah meminta mereka (kementerian) untuk melakukan analisis kebutuhan sesuai dengan strategi lima tahun ke depan. Jadi, kan kita supaya bisa lihat apakah nanti akan ada positif growth terhadap jabatan-jabatan tentu. Apakah ada harus minus growth atau memang harus tetap seperti itu,” jelas Rini.
Meski jadwal resmi CPNS 2026 belum ditetapkan, dua kementerian/lembaga sudah lebih dulu memberikan sinyal kesiapan membuka formasi. Keduanya adalah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dari Kemenkeu, sinyal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut seleksi CPNS ke depan akan difokuskan untuk lulusan PKN STAN dan lulusan SMA.
Baca Juga : Energi Semesta Bergerak di Awal Pekan: 6 Zodiak Dilimpahi Keberuntungan, 6 Lainnya Diuji Kesabaran
Kemenkeu disebut akan membuka kuota 279 formasi bagi lulusan STAN. Selain itu, tersedia pula sekitar 300 formasi untuk lulusan SMA yang akan ditempatkan sebagai tenaga lapangan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
“Bea Cukai perlu tenaga lapangan. Tenaga teknis Bea Cukai itu kan ada di mana-mana. Karena kurang orang, kami akan rekrut 300 orang lulusan SMA di seluruh Indonesia, direkrut di masing-masing lokasinya,” ujar Purbaya dikutip dari Antara, Senin (5/1/2026).
Sementara itu, penempatan lulusan STAN nantinya akan disesuaikan dengan jurusan dan kebutuhan unit kerja di lingkungan Kemenkeu.
Sinyal pembukaan formasi CPNS 2026 juga datang dari BRIN. Kepala BRIN Arif Satria menyebut pihaknya berencana membuka formasi periset di berbagai bidang prioritas.
Bidang yang dibutuhkan antara lain pemuliaan tanaman, nanoteknologi, genomics, antariksa, sains material, hingga teknologi keberlanjutan. Menurut Arif, jumlah peneliti di Indonesia saat ini masih tergolong minim.
Ia menyebut rasio peneliti di Indonesia baru sekitar 300 orang per satu juta penduduk. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan negara maju yang bisa mencapai 4.000 peneliti per satu juta penduduk.
Tak hanya bidang sains dan teknologi, BRIN juga menilai pentingnya periset dari bidang sosial. Hal ini diperlukan agar riset yang dihasilkan bisa lebih tepat guna dan berdampak luas melalui kolaborasi lintas disiplin.
Arif menegaskan penguatan jumlah dan kualitas peneliti menjadi keharusan. Salah satu jalannya adalah dengan membuka peluang menjadi periset melalui jalur CPNS.
“Jadi kita mau tidak mau, talent spotting untuk peneliti tangguh ini harus benar-benar kita perkuat. Dan karena itu ekosistem riset ini harus kita jaga, membuat orang nyaman dan membuat orang tertarik untuk menjadi peneliti, menjadi periset,” tutup Arif.