JATIMTIMES - Komitmen pendidikan inklusif tak lagi sekadar jargon di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang. Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027, madrasah ini resmi membuka jalur khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), berdampingan dengan jalur prestasi dan reguler. Pesannya tegas: setiap anak berhak tumbuh di ruang belajar yang setara, tanpa dikotak-kotakkan.
Kepala MIN 2 Kota Malang, Nanang Sukmawan, menegaskan bahwa kebijakan ini lahir dari visi madrasah prestasi yang tetap berjiwa humanis. “Untuk PPDB 2026/2027, kami menyiapkan beberapa jalur masuk. Ada jalur prestasi tahfiz, prestasi akademik, jalur terpadu, jalur reguler, dan kami tambahkan jalur khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya, Minggu, (4/1/2025).

Pada jalur prestasi tahfiz, MIN 2 Kota Malang memberi karpet merah bagi calon siswa yang memiliki hafalan Al-Qur’an minimal satu juz. Anak dengan kualifikasi ini dapat diterima tanpa seleksi. “Kalau memang memenuhi syarat tahfiz, bisa langsung masuk,” kata Nanang. Selain itu, tersedia jalur prestasi lomba akademik bagi siswa berprestasi di berbagai ajang kompetisi.
Baca Juga : Seorang Anak Terserempet KA di Singosari, Kapolres Imbau Masyarakat Waspada saat Dekat Rel KA
Yang membuat PPDB tahun ini terasa “naik level” adalah penguatan pendidikan inklusif. Anak berkebutuhan khusus tidak ditempatkan di kelas terpisah, melainkan belajar bersama siswa reguler. “Tidak ada kelas sendiri. Mereka akan bergabung dengan kelas reguler lainnya. Jadi ada kelas reguler biasa dan kelas reguler inklusif,” jelas Nanang. Di setiap kelas inklusif, madrasah menyiapkan guru pendamping khusus yang fokus mendampingi siswa dengan kebutuhan istimewa.
Tahun ini, MIN 2 Kota Malang juga melakukan perubahan pola seleksi. Jika sebelumnya pemetaan dilakukan setelah siswa diterima, kini tes psikologi dilakukan di awal, bersamaan dengan pemetaan. “Tes psikologi ini untuk mengetahui kemampuan awal anak-anak. Setelah itu baru pengumuman,” kata Nanang. Langkah ini diambil agar penempatan siswa lebih presisi dan proses belajar sejak awal berjalan optimal.
Soal kesiapan tenaga pendidik, madrasah tak setengah-setengah. Ada tiga model penguatan guru inklusif yang diterapkan. Pertama, studi banding ke sekolah rujukan di wilayah Lawang dengan melibatkan para guru. Kedua, pelatihan dan workshop bagi guru yang berminat memperdalam kompetensi inklusif. Ketiga, konsultasi dengan praktisi dan kampus yang memiliki pengalaman dalam pendidikan inklusif. “Nanti ada guru-guru yang memang fokus memegang anak-anak istimewa,” tambahnya.
Baca Juga : Penghujung Libur Nataru, 7 Ribu Penumpang Masih Padati Stasiun Malang
Untuk kuota PPDB, MIN 2 Kota Malang tetap menyiapkan 210 kursi yang terbagi dalam tujuh kelas, tanpa perubahan dari tahun sebelumnya. Adapun kuota khusus untuk jalur reguler inklusif masih dalam tahap finalisasi dan dijadwalkan diumumkan sekitar Februari 2026.
Dengan desain PPDB seperti ini, MIN 2 Kota Malang menegaskan arah barunya: madrasah prestasi yang inklusif. Bukan hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memastikan setiap anak, apa pun kondisinya, punya ruang belajar yang aman, setara, dan bermakna. Pendidikan yang merangkul, bukan menyisihkan. Itu visinya.