JATIMTIMES - Air dikenal sebagai zat yang tidak bisa basi. Namun, banyak orang masih bertanya-tanya, mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) tetap memiliki tanggal kedaluwarsa atau expired date di botolnya.
Pertanyaan ini dijelaskan oleh praktisi food technology Erwin Setiawan melalui akun Instagram miliknya, @anakpanganindonesia. Ia menjelaskan bahwa yang memiliki batas waktu konsumsi bukanlah airnya, melainkan kualitas kemasan yang digunakan.
Baca Juga : Tak Banyak yang Tahu, 4 Penyakit Ini Bisa Dicegah Pakai Labu Siam
“Air kan nggak basi. Air tidak bisa basi karena air murni (H₂O) adalah senyawa kimia yang stabil dan tidak memiliki nutrisi untuk membusuk seperti makanan,” jelas Erwin.
Menurut Erwin, tanggal kedaluwarsa pada botol air mineral sering disalahpahami. Banyak yang mengira airnya bisa rusak atau basi, padahal kenyataannya tidak demikian. “Bukan karena airnya rusak, tapi karena kemasannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar botol air mineral terbuat dari bahan polietilen tereftalat (PET). Meski aman untuk pangan, bahan ini tidak sepenuhnya kedap.
“Botol PET itu nggak 100% kedap. Jadi, oksigen dan aroma bisa rembes pelan-pelan. Kalau disimpan lama atau terkena panas, ada risiko komponen plastik pindah sedikit ke air, dan kualitasnya jadi turun, rasanya jadi nggak fresh lagi,” jelasnya.
Karena itulah, tanggal kedaluwarsa berfungsi sebagai penanda batas mutu optimal, yakni jaminan rasa dan keamanan terbaik hingga tanggal tersebut. “Jadi, bukan airnya yang basi, tapi stabilitas kualitas kemasannya yang dijagain,” tegas Erwin.
Selain soal kedaluwarsa, penggunaan ulang botol plastik bekas minuman juga kerap disorot. Botol plastik sekali pakai berpotensi melepaskan zat berbahaya jika digunakan berulang-ulang, terutama dalam jangka panjang.
Kebanyakan botol air minum sekali pakai dibuat dari plastik jenis PET atau PETE. Mengutip International Bottled Water Association, botol PET sebenarnya masih aman digunakan kembali, tetapi dengan batas tertentu.
Asosiasi tersebut merekomendasikan agar botol PET hanya digunakan ulang satu hingga dua kali. Setelah itu, botol sebaiknya didaur ulang atau diserahkan ke bank sampah, seperti dilaporkan oleh Sustainability Nook.
Sementara itu, jenis plastik lain seperti polycarbonate dan polypropylene tidak dianjurkan untuk digunakan kembali. Pasalnya, material ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan karena dapat melepaskan bahan kimia berbahaya.
Seiring waktu, plastik dalam botol minuman bisa terurai dan melepaskan zat kimia seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates. Kedua senyawa ini telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.
Baca Juga : Menutup Tahun dengan Apresiasi: Graha Bangunan Blitar Umumkan Pemenang Pesta Hadiah Akhir Tahun 2025
Dampaknya antara lain gangguan keseimbangan hormon hingga risiko masalah perkembangan pada anak-anak. Risiko ini bisa meningkat jika botol sering terkena panas atau terpapar sinar matahari langsung.
Para ahli juga mengingatkan bahwa botol plastik yang digunakan berulang kali dan tidak dibersihkan dengan benar dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri. Akumulasi bakteri ini berpotensi mencemari air minum di dalamnya.
Selain risiko kesehatan, penggunaan botol plastik sekali pakai juga menimbulkan persoalan lingkungan. Produksi botol plastik membutuhkan energi dan bahan baku besar, sementara sebagian besar botol berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari lingkungan.
Botol plastik bekas minuman membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Selama proses tersebut, bahan kimia berbahaya dapat meresap ke tanah dan air, sehingga mengancam ekosistem.
Sampah plastik juga menjadi ancaman serius bagi satwa liar dan kehidupan laut. Banyak hewan yang salah mengira plastik sebagai makanan atau terjerat limbah tersebut.
Karena itu, meski mengisi ulang botol dapat mengurangi jumlah sampah, langkah paling bijak tetaplah mendaur ulang atau menyerahkan botol bekas ke bank sampah agar bisa diproses dengan benar.
Dengan memahami alasan di balik tanggal kedaluwarsa air minum kemasan, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menyimpan, menggunakan, dan membuang dengan cara didaur ulang botol plastiknya demi kesehatan dan kelestarian lingkungan. Semoga informasi ini bermanfaat ya.