JATIMTIMES - Di antara gemuruh sejarah awal Islam, ada satu nama yang melintas tajam seperti kilatan kata-kata yang dulu pernah ia lontarkan, dialah Suhail bin Amr.
Sosok terpandang Makkah ini awalnya berdiri di kubu yang berseberangan dengan Nabi Muhammad SAW. Namun hidup sering bermain dengan plot twist, dan Suhail adalah bukti paling keras bahwa hati bisa berbalik arah ketika cahaya mengetuk.
Baca Juga : Viral Wanita di Malang Alami Luka Serius, Diduga Dianiaya Kekasih, Polisi Turun Tangan
Sebelum Islam sempurna tegak di jazirah Arab, Suhail dikenal sebagai jurubicara utama Quraisy. Retorikanya tajam, logikanya licin, dan keberaniannya tak perlu dipertanyakan.
Ia menjadi garda terdepan yang membakar semangat kaumnya untuk menolak dakwah Nabi. Tak heran namanya dihormati sekaligus ditakuti.
Namun sikap keras itu mulai berbalik arah setelah Perang Badar. Di medan itu, takdir menyeret Suhail ke posisi yang tidak pernah ia bayangkan: tawanan perang.
Sebagai tawanan, ia bertemu langsung dengan pribadi Rasulullah SAW, sosok yang selama ini ia serang lewat pidato-pidatonya. Umar bin Khattab yang melihat Suhail sempat mengusulkan agar gigi serinya dicabut agar ia tak lagi mampu mencela Nabi. Tetapi Rasulullah menolak dengan ketegasan penuh kasih.
Beliau berkata, “Aku tidak ingin merusak tubuh seseorang, agar Allah tidak merusak tubuhku sekalipun aku seorang Nabi.”
Sikap mulia itu bahkan dibungkus optimisme: “Wahai Umar, suatu hari nanti pendirian Suhail akan menjadi sesuatu yang kamu sukai.”
Kalimat itu terkesan biasa saat diucapkan, tetapi sejarah membuktikan ketepatannya.
Beberapa tahun berselang, Quraisy mengutus Suhail mewakili mereka dalam perundingan dengan Rasulullah SAW. Kehadirannya di Hudaibiyah memberi sinyal jelas bahwa Makkah ingin berdamai.
Dalam dialog panjang itu, Suhail berusaha keras mempertahankan posisi kaumnya, namun kesabaran Nabi membuat proses menuju kesepakatan berjalan tanpa pertumpahan darah.
Peran Suhail sebagai negosiator membuatnya makin memahami siapa sebenarnya Muhammad SAW, bukan seperti gambaran musuh besar yang dulu ia suarakan.
Tahun ke-8 Hijriah, Makkah akhirnya ditaklukkan kaum muslimin setelah Quraisy sendiri melanggar perjanjian. Kota itu jatuh tanpa perlawanan berarti. Semua mata menatap satu orang: Rasulullah SAW. Mereka takut, siap menerima pembalasan.
Suhail, yang sejak awal menjadi oposisi keras, maju dan berkata jujur, “Kami yakin engkau akan berbuat baik, karena engkau adalah saudara kami yang mulia.”
Baca Juga : Komika Mudy Taylor Meninggal Dunia Diduga Sesak Napas dan Cairan di Jantung, Ini Profilnya
Dan benar saja, Nabi menjawab dengan kalimat yang melelehkan dendam: “Pergilah kalian, kalian bebas.”
Bagi Suhail, kata-kata itu menghantam jantungnya seperti petir, hangat, mematahkan ego, sekaligus membangunkan iman.
Setelah pembebasan itu, Suhail masuk Islam dengan kerelaan total. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan. Yang ada hanya takjub pada akhlak seorang nabi yang ia lawan sejak bertahun-tahun.
Ia meneguhkan diri untuk menebus masa lalunya. Kehidupannya berubah drastis: rajin beribadah, sering berpuasa, dan hatinya mudah luluh hingga ia digambarkan sebagai lelaki yang gemar menangis karena takut kepada Allah. Dari orator penentang Islam, kini ia menjadi penyampai risalah kebenaran.
Transformasi itu mencapai puncaknya ketika Suhail turun ke berbagai medan jihad. Salah satu yang paling monumental adalah Perang Yarmuk, bentrokan besar kaum muslimin melawan pasukan Romawi.
Di medan itu ia bertarung dengan nyala tekad yang tak pernah padam. Suhail memandang perang sebagai cara membersihkan jejak lama yang pernah ia tinggalkan. Ia tidak mundur selangkah pun, hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada.
Sebelum wafat, ia pernah mengingatkan sebuah sabda Nabi: “Berada di jalan Allah sesaat saja lebih baik daripada amal seseorang sepanjang hidupnya.”
Dan ia membuktikan ucapan itu dengan pengorbanan terakhirnya.
Kisah Suhail bin Amr adalah perjalanan yang penuh tikungan emosional, dari seorang penentang sengit menjadi pejuang sejati Islam. Ia membuktikan bahwa hidayah bukan hadiah untuk orang suci, tetapi pintu yang bisa terbuka untuk siapa saja yang berani mendekat.
Kisah ini disarikan dari berbagai rujukan klasik dan literatur modern, termasuk Sirah Ibn Hisyam, Ar-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, serta Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir. Beberapa riwayat hadits diambil dari koleksi sahih seperti Bukhari dan Muslim, sementara detail biografis tokoh merujuk pada buku Biografi 60 Sahabat Nabi karya Khalid Muhammad.