JATIMTIMES - Masa depan Bus Halokes Kota Malang masih belum memiliki kepastian setelah Pemkot Malang resmi menggulirkan program angkutan pelajar gratis menggunakan 66 armada angkutan kota (angkot).
Bus Halokes yang sebelumnya menjadi salah satu moda transportasi pelajar kini berada dalam posisi transisi. Pemkot Malang belum memastikan apakah layanan tersebut akan terus dipertahankan dengan pola lama atau dialihkan untuk kebutuhan lain.
Baca Juga : Usai Viral Ortu War Bimbel, Kini Giliran War Pendaftaran SD: Antre Sejak Jam 9 Malam
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, Bus Halokes nantinya berpeluang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan lain. Salah satunya untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan sektor pariwisata di Kota Malang.
“Ini kita akan gunakan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Banyak sekarang orang-orang yang datang ke Malang meminta kepada Pemerintah Kota Malang untuk memfasilitasi terkait dengan pariwisata dan lain-lain,” kata Wahyu.
Meski begitu, ia belum memberikan gambaran rinci mengenai skema baru maupun kapan perubahan fungsi Bus Halokes tersebut akan dilakukan. “Nanti kita akan manfaatkan untuk yang lebih maksimal,” ujarnya.
Di tengah ketidakjelasan itu, Bus Halokes masih tetap dioperasikan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana mengatakan, operasional tersebut setidaknya dipertahankan selama masa transisi satu bulan.
“Untuk sementara selama satu bulan ini, tetap Bus Halokes kami operasionalkan juga. Saling mengisi,” kata Suwarjana.
Menurut dia, masa transisi diperlukan agar perubahan moda transportasi tidak membuat masyarakat, khususnya pelajar, mengalami kebingungan. Pada saat bersamaan, sopir angkot yang terlibat program angkutan pelajar gratis juga diberi waktu untuk menyesuaikan diri.
“Supaya masyarakat juga tidak begitu kaget perubahannya, sopir angkot pelajar juga bisa menyesuaikan. Masih kami dampingi selama satu bulan ini,” jelasnya.
Namun, keberadaan Bus Halokes bukan berarti seluruh siswa yang sebelumnya mengandalkan bus tersebut akan tetap mendapatkan layanan dengan pola yang sama. Keterbatasan jumlah pengemudi membuat pendampingan terhadap angkot pelajar gratis juga belum bisa dilakukan secara menyeluruh.
Baca Juga : Ogoh-Ogoh Babi Hutan dari Barang Bekas Tampil di Karnaval Dinoyo, Bawa Pesan Jaga Mata Air
“Jumlah driver Bus Halokes kami lebih sedikit dibanding jumlah angkot pelajar gratis. Sehingga tidak semua driver angkot kami dampingi,” ungkap Suwarjana.
Bus Halokes untuk sementara juga masih difungsikan sebagai moda cadangan. Bus tersebut menyisir sejumlah titik untuk mengantisipasi siswa yang belum terangkut angkot pelajar gratis, termasuk pelajar yang tertinggal dari layanan angkot.
“Bus Halokes kami juga masih menyisir kalau misalnya ada siswa yang tidak terangkut di angkutan pelajar, yang mungkin ketinggalan,” ujarnya.
Kondisi ini membuat posisi Bus Halokes kini berada di persimpangan. Di satu sisi, Pemkot Malang mulai mengandalkan angkot sebagai tulang punggung baru transportasi pelajar gratis. Di sisi lain, fungsi Bus Halokes belum sepenuhnya dihentikan dan justru masih dibutuhkan untuk menutup celah layanan.
Persoalannya, setelah masa transisi satu bulan berakhir, belum jelas apakah Bus Halokes tetap menjadi moda transportasi pelajar, beralih fungsi untuk pariwisata, atau menjalankan skema lain.
Kepastian itu penting agar perubahan kebijakan transportasi tidak berhenti pada pergantian armada, tetapi benar-benar menjamin seluruh pelajar tetap terlayani.