free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Musim Hujan 2026 Kapan Terjadi? Ini Prediksi BMKG

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

21 - Aug - 2026, 16:42

Loading Placeholder
Ilustrasi hujan. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Musim hujan 2026 kapan terjadi? Pertanyaan ini mulai banyak dicari masyarakat, terutama karena hujan masih turun di sejumlah daerah meski Indonesia saat ini secara umum berada dalam periode musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru menyebut sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi kondisi kering. Bahkan, pada periode 21-27 Agustus 2026, fenomena El Niño berada pada intensitas sangat kuat dan turut memperkuat kondisi kemarau.

Baca Juga : MIN 1 Kota Malang Garap Film Mini Drama, Kreativitas Siswa Satukan Topeng Malangan dan Pesan Lingkungan

Namun, bukan berarti hujan sama sekali tidak turun. BMKG memprakirakan hujan lokal dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah dalam sepekan ke depan. 

Lantas, kapan musim hujan 2026 dimulai?

BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada periode Juli-September, dengan Agustus menjadi salah satu bulan yang paling dominan. 

Dalam perkembangan terbaru, BMKG memprediksi kondisi kemarau masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Bahkan, El Niño diperkirakan bertahan setidaknya sampai awal kuartal I 2027, meski dampak terbesarnya terhadap Indonesia terutama dirasakan saat bersamaan dengan musim kemarau. 

BMKG juga memprakirakan curah hujan kategori tinggi baru mulai muncul secara bertahap pada Oktober-November 2026. 

Artinya, musim hujan tidak datang serentak di seluruh Indonesia. Pergantian musim sangat bergantung pada wilayah dan pola iklim setempat.

Berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut juga tercermin dari curah hujan. Sebanyak 90,79% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan 87,28% wilayah tercatat mengalami sifat hujan di bawah normal.

Situasi ini berkaitan dengan menguatnya El Niño dan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase positif. Kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

BMKG menyebut kondisi kering tersebut turut meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. 

Meski sebagian besar wilayah Indonesia sedang dilanda kemarau, hujan tetap bisa turun. BMKG mencatat sejumlah daerah bahkan mengalami hujan lebat hingga ekstrem pada 17-19 Agustus 2026.

Curah hujan tinggi tercatat antara lain di:
• Sumatera Barat: 159 mm/hari
• Banten: 131 mm/hari
• Bengkulu: 127 mm/hari
• Sumatera Utara: 110 mm/hari
• Riau: 109 mm/hari
• Jawa Barat: 77 mm/hari
• Aceh: 69 mm/hari

Fenomena tersebut dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer, termasuk aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Mixed-Rossby-Gravity (MRG).

Selain itu, adanya belokan dan pertemuan angin serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat Sumatera ikut meningkatkan suplai uap air dan memicu pertumbuhan awan hujan.

Faktor lokal seperti pemanasan permukaan, topografi dan interaksi angin darat-laut juga dapat memicu hujan meski wilayah tersebut secara umum sedang memasuki kemarau.

Untuk periode 21-23 Agustus 2026, BMKG memprakirakan cuaca Indonesia secara umum didominasi hujan ringan hingga sedang.
Namun, masyarakat diminta mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang di:
• Sumatera Utara
• Sumatera Barat
• Kalimantan Utara
• Papua

Sementara potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan dan Maluku Utara. 

Kemudian pada 24-27 Agustus 2026, kondisi cuaca diprakirakan bervariasi dari cerah berawan hingga hujan lebat.

Hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Barat dan Riau.

BMKG juga mengeluarkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan kategori peringatan Siaga di Sumatera Barat.

Selain itu, angin kencang berpotensi terjadi di Lampung, Banten, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. 

Salah satu faktor yang membuat masyarakat perlu bersabar menunggu datangnya musim hujan adalah perkembangan El Niño.

Baca Juga : Musda VII Demokrat Jatim: Emil Dardak Siap Lanjutkan Kepemimpinan

BMKG menyebut El Niño 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah. 

Pada akhir Juni, indeks Niño 3.4 bahkan telah menembus angka 1,56, melewati ambang kategori kuat.

BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus untuk sekitar 48,84% wilayah Indonesia, sementara September mencakup sekitar 25,41% wilayah daratan. 

Karena itu, hujan yang turun di sejumlah daerah saat ini belum bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa seluruh Indonesia telah memasuki musim hujan.

BMKG menjelaskan dinamika atmosfer dalam sepekan ke depan masih memungkinkan terbentuknya awan hujan.

MJO diprakirakan aktif di sebagian besar Sumatera, Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Natuna, Laut China Selatan, sebagian Kalimantan hingga Pasifik barat.

Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator juga diprakirakan aktif di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara hingga Samudra Pasifik utara Papua.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.

Adanya pusat tekanan rendah di Samudra Pasifik utara Papua, sirkulasi siklonik di Selat Makassar, serta daerah konvergensi dan konfluensi di sejumlah wilayah Indonesia juga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.

Di tengah pertanyaan kapan musim hujan 2026 tiba, BMKG justru mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai dampak kemarau.

Masyarakat diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla.

BMKG juga mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar dan hutan.

Jika menemukan titik api, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait.

Kondisi kemarau yang lebih kering memang meningkatkan risiko karhutla. Hingga akhir Juli, BMKG telah mendeteksi ribuan titik panas dan memperkirakan risiko karhutla meningkat di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan dan Papua Selatan.

Jadi, musim hujan 2026 belum dimulai secara serentak pada Agustus. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau.

BMKG memprediksi kondisi curah hujan tinggi mulai muncul secara bertahap pada Oktober-November 2026, tetapi waktu masuk musim hujan dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. 

Dengan demikian, hujan yang turun di sejumlah daerah pada Agustus lebih tepat dipahami sebagai hujan lokal akibat dinamika atmosfer, bukan berarti seluruh Indonesia sudah memasuki musim hujan.

Masyarakat disarankan tetap memantau informasi resmi BMKG melalui website BMKG, aplikasi InfoBMKG dan akun media sosial resmi @infoBMKG. 


Topik

Peristiwa musim hujan prakiraan cuaca bmkg



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---