JATIMTIMES - Komitmen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) dalam merespons persoalan sampah di Kota Malang diarahkan hingga ke sumber persoalan. Kampus tidak hanya melihat sampah sebagai persoalan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi juga mendorong perubahan pola pengelolaan di kawasan permukiman mahasiswa.
Langkah tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Biokonversi Sampah Organik Berbasis Komunitas (Maggot dan Kompos Cepat) di Kawasan Kos Mahasiswa Kota Malang”.
Baca Juga : Transisi Energi yang Tetap Menjaga Daya Saing Industri
Program ini menyasar kawasan tempat tinggal mahasiswa karena produksi sampah organik dari aktivitas harian cukup besar, sementara pemilahan dari sumber masih menjadi persoalan. Sisa makanan, sayuran dan dedaunan kerap bercampur dengan plastik, kertas serta residu lainnya sebelum masuk ke sistem pengangkutan.

Persoalan tersebut menjadi penting karena Kota Malang menghasilkan sekitar 731,24 ton sampah per hari atau sekitar 0,62 kilogram per penduduk. Sekitar 61 persen dari volume tersebut merupakan sampah organik yang sebenarnya masih memiliki peluang untuk diolah kembali.
Di sisi lain, kapasitas pengolahan di TPA Supit Urang belum sepenuhnya sebanding dengan volume sampah yang masuk. Fasilitas sorting mampu menangani sekitar 35 ton sampah per hari, sedangkan fasilitas composting hanya mampu mengolah sekitar 15 ton per hari.
Pada 2025, sekitar 239,9 ton sampah per hari berhasil dikurangi melalui kontribusi masyarakat dan mitra. Namun, sebanyak 490,29 ton per hari atau 70,63 persen lainnya masih ditangani hingga tuntas di TPA Supit Urang.

Kondisi tersebut, bagi Unikama menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan sampah perlu dimulai sebelum sampah tiba di TPA. Karena itu, pendekatan teknologi biokonversi dipadukan dengan pembentukan kebiasaan memilah sampah di lingkungan mahasiswa.
Ketua tim PkM Unikama, Rina Wijayanti, S.Psi., M.Psi., mengatakan keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting karena perubahan pengelolaan sampah harus dimulai dari komunitas yang menghasilkan sampah tersebut.
“Dengan menggandeng UPT TPA Supit Urang dan komunitas kos mahasiswa sebagai agen perubahan dalam pemilahan sampah di sumber,” ujar Rina.
Menurutnya, keterlibatan komunitas tidak berhenti pada pemilahan. Sampah organik yang sudah dipisahkan kemudian diarahkan agar dapat dimanfaatkan melalui teknologi yang sesuai.

“Kegiatan penerapan teknologi biokonversi maggot dan kompos cepat merupakan respons terhadap permasalahan sampah organik, dari beban lingkungan menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi,” katanya.
Program tersebut mempertemukan Unikama dengan UPT TPA Komposting Supit Urang Kota Malang. Kepala UPT TPA Supit Urang, Dr. Ir. Arif Dermawan, ST., MT., menjadi bagian dari kemitraan tersebut, sementara mahasiswa yang tinggal di Rusunawa Unikama menjadi mitra sasaran nonproduktif.
Komitmen Unikama juga terlihat dari pendekatan program yang tidak berhenti pada sosialisasi. Mahasiswa diberikan praktik pemilahan sampah dari sumber, sedangkan pengelola TPA memperoleh pelatihan pengomposan cepat serta penguatan manajemen pengelolaan usaha.
Baca Juga : Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Dibuka 20-24 Agustus, Cek Syarat dan Cara Daftar
Pelatihan tersebut melibatkan Dr. Yulius Effendi Rustan, M.Pd., dan Engelbertus Kukuh Widijatmoko, M.Pd., dari Program Studi PPKN Unikama.
Maggot dan kompos cepat menjadi dua pendekatan yang digunakan untuk menangani sampah organik yang sudah dipilah. Dengan demikian, sebagian material organik tidak langsung diarahkan menuju TPA, tetapi terlebih dahulu dimanfaatkan melalui proses biokonversi.
Langkah tersebut sekaligus menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari rantai pengelolaan sampah. Mereka tidak hanya menjadi pengguna fasilitas kos dan penghasil sampah, tetapi dilibatkan dalam proses pemilahan hingga pengolahan.
Program yang berlangsung selama delapan bulan tersebut didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui dukungan Direktorat Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP3M) Unikama.
Tim pengabdian yang dipimpin Rina Wijayanti juga didampingi Dr. Yulius Effendi Rustan dan Engelbertus Kukuh Widijatmoko sebagai anggota. Pelaksanaan program dilakukan dengan pendampingan dan evaluasi berkala.
Indikator evaluasi mencakup waktu pengomposan, tingkat pemilahan sampah dari sumber serta kapasitas produksi hasil pengolahan.
Pilihan Unikama menyasar kawasan kos mahasiswa sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan sampah dipandang sebagai isu yang dapat disentuh melalui pendidikan, perubahan perilaku dan penerapan teknologi secara bersamaan. Ketika sampah organik dipilah sejak dari tempat tinggal mahasiswa, material yang sebelumnya masuk sebagai beban pengangkutan memiliki jalur pengolahan yang berbeda sebelum mencapai TPA.