JATIMTIMES – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) Ke-208 menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan daerah sekaligus menatap arah pembangunan ke depan. Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membawa Situbondo menuju daerah yang lebih maju dan berdaya saing.
Menurut Mas Rio, generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan Situbondo. Ia mengingatkan bahwa setiap periode kepemimpinan memiliki batas waktu, sementara generasi baru akan terus tumbuh dan menggantikan generasi sebelumnya.
Baca Juga : Gempa M 7,7 Guncang NTT: 2 Orang Meninggal, RSUD Ruteng hingga Hotel di Labuan Bajo Rusak
"Saya selalu sama ya, bahwa umur generasi itu enggak lama kok. Periode saya jadi bupati lima tahun, akan tumbuh generasi-generasi yang baru," kata Mas Rio dalam usai laripurna peringatan Harjakasi Ke-208 di DPRD Situbondo, Sabtu (15/8/2026).
Karena itu, menurut Mas Rio, hal yang paling penting bukan sekadar pergantian generasi, tetapi perubahan pola pikir. Setiap warga yang menjadi bagian dari Situbondo dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membangun daerah.
Mas Rio menjelaskan, membangun Situbondo harus diawali dengan komitmen untuk menempatkan kepentingan masyarakat dan kabupaten di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Ia menilai sikap tersebut menjadi fondasi penting agar pembangunan daerah tidak terjebak pada kepentingan sektoral.
"Membangun itu adalah satu komitmen yang di benak dan pikirannya itu mendahulukan orang lain atau kabupaten ketimbang dirinya atau golongannya," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Situbondo pernah berada dalam situasi yang menurutnya terlalu mengedepankan kepentingan kelompok dan ego sektoral. Kondisi tersebut justru tidak memberikan keuntungan bagi perkembangan daerah.
"Kita lama sekali dalam situasi yang terlalu keakuan, terlalu sektarian. Dan itu nyatanya tidak menolong Situbondo," tegasnya.
Mas Rio kemudian mengajak generasi muda untuk membangun semangat kebersamaan. Ia menggunakan ungkapan “aku harus kalah dengan kita” sebagai pesan moral agar kepentingan pribadi tidak ditempatkan di atas kepentingan bersama.
Menurut dia, sejarah Situbondo menunjukkan bahwa sejumlah wilayah seperti Besuki dan Panarukan pernah memiliki posisi penting. Namun, perkembangan daerah saat ini menuntut adanya evaluasi dan semangat baru agar Situbondo mampu mengejar ketertinggalan.
"Dulu besar, Besuki, Panarukan besar, nyatanya sekarang kita menjadi apa? Yang paling kecil di antara lima kabupaten di Sekarkijang," katanya.
Selain berbicara mengenai generasi muda, Mas Rio juga menyoroti arah pembangunan wilayah Situbondo bagian barat dan timur. Ia mengatakan pemerintah daerah perlu menentukan skala prioritas dalam mengembangkan berbagai kawasan yang memiliki karakter dan potensi berbeda.
Besuki menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus karena memiliki nilai sejarah dan warisan budaya yang besar. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sektor pariwisata dan heritage.
"Di barat ada pernah ibu kota kabupaten, dan bangunan sejarahnya itu masih sangat besar. Kita mencoba memprioritaskan Besuki karena Besuki punya segala-galanya. Punya heritage di situ yang bisa kita kembangkan," jelasnya.
Sementara itu, untuk kawasan timur Situbondo, Mas Rio menyebut wilayah tersebut selama ini lebih dikenal sebagai pusat aktivitas perekonomian. Menurut dia, pengembangan kawasan timur tetap penting, namun pendekatannya akan disesuaikan dengan potensi yang dimiliki.
"Kalau di timur ya memang sudah menjadi hanya sebagai pusat perekonomian. Tidak berbicara konteks budaya, heritage atau pariwisata," ujarnya.
Baca Juga : Cuaca Jatim Sabtu 15 Agustus: Panas di Surabaya Tembus 33°C
Ia menambahkan, setelah prioritas pengembangan Besuki dilakukan, pemerintah daerah akan memberikan perhatian lebih besar terhadap kawasan timur pada tahun-tahun mendatang. Pendekatan bertahap tersebut diharapkan mampu menciptakan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Situbondo.
Sementara itu, momentum Harjakasi Ke-208 juga diperkuat dengan agenda DPRD Kabupaten Situbondo melalui Rapat Paripurna Istimewa yang mengusung tema “Refleksi Perjalanan, Konsolidasi Pembangunan, dan Menatap Situbondo Naik Kelas.”
Ketua DPRD Kabupaten Situbondo Mahbub Junaidi dalam pidato pengantarnya menyampaikan sejumlah capaian pembangunan daerah sepanjang 2025. Di antaranya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Situbondo mencapai 71,87, melampaui target awal sebesar 71,49.
Pertumbuhan ekonomi juga menjadi salah satu indikator yang mendapat perhatian. Pertumbuhan ekonomi Situbondo disebut mencapai 5,25 persen. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kawasan Sekarkijang pada triwulan III mencapai 6,16 persen.
Dari sisi kemiskinan, angka kemiskinan Situbondo turun menjadi 11,17 persen, lebih baik dibandingkan target daerah sebesar 11,51 persen. Pendapatan asli daerah (PAD) juga terealisasi sekitar Rp320,97 miliar dan disebut melampaui target yang telah ditetapkan.
Namun, Mahbub mengingatkan agar berbagai capaian tersebut tidak membuat pemerintah daerah cepat berpuas diri. Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah masih tingginya ketergantungan fiskal Situbondo terhadap dana transfer pemerintah pusat.
Proyeksi penurunan dana transfer pada 2026 yang diperkirakan mencapai sekitar Rp198,75 miliar menjadi salah satu tantangan serius bagi kemampuan fiskal daerah. Selain itu, sektor ketenagakerjaan membutuhkan perhatian karena sekitar 71,49 persen pekerja di Situbondo masih menggantungkan penghidupan pada sektor informal.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, DPRD Situbondo mendorong delapan agenda pembangunan. Agenda tersebut meliputi percepatan pengentasan kemiskinan permanen, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta transformasi ekonomi melalui hilirisasi potensi lokal.
Agenda lainnya mencakup peningkatan kemandirian fiskal daerah, reformasi pelayanan publik berbasis teknologi, pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dan tangguh terhadap bencana, serta penguatan karakter Situbondo sebagai Kota Santri.
Mahbub juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun daerah. Perbedaan pandangan maupun strategi, menurut dia, tidak boleh menjadi penghalang untuk mencapai tujuan bersama.
"Mari kita bangun Situbondo dengan semangat ‘Tak Atokaran’. Kita boleh berbeda strategi. Tetapi kita harus satu tujuan: Situbondo yang lebih maju, adil, sejahtera dan mandiri," pungkas Mahbub.