free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Khutbah Jumat 14 Agustus 2026: Kemerdekaan Tak Berarti Jika Korupsi Masih Merajalela

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

14 - Aug - 2026, 10:29

Loading Placeholder
Potret khutbah Jumat. (Foto: Polres Berau)

JATIMTIMES - Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 telah membawa bangsa ini melewati perjalanan panjang. Memasuki usia 81 tahun, kemerdekaan tentu tidak cukup hanya dirayakan dengan upacara dan berbagai kegiatan seremonial. Ada tanggung jawab bersama untuk menjaga cita-cita para pendiri bangsa agar benar-benar terwujud dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu persoalan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan besar adalah korupsi. Praktik mengambil hak yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat tidak hanya merugikan negara secara materi, tetapi juga mencederai kepercayaan masyarakat dan menghambat terwujudnya kesejahteraan. Dalam perspektif Islam, amanah merupakan sesuatu yang harus dijaga dan setiap pengkhianatan terhadap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.

Baca Juga : Hari Pramuka ke-65, Bupati Situbondo Ajak Generasi Muda Perbanyak Teman dan Warnai Daerah dengan Prestasi

Khutbah Jumat kali ini mengajak jemaah melihat kembali makna kemerdekaan dari sudut pandang moral dan keagamaan. Menjaga Indonesia dari korupsi bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan kejujuran, integritas, dan kesadaran setiap warga untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ. الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنِ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ، وَجَعَلَ الْأَمَانَةَ سَبِيلًا لِصَلَاحِ الْإِنْسَانِ وَعِمَارَةِ الْأَوْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,

Marilah terlebih dahulu kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas segala limpahan rahmat, nikmat, dan kasih sayang-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dalam keadaan beriman, memeluk Islam, serta menikmati kesehatan dan berbagai karunia yang tidak mungkin kita hitung satu per satu.

Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti ajaran serta sunnahnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua kelak mendapatkan syafaat beliau. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Selanjutnya, melalui mimbar Jumat ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jemaah yang hadir. Marilah kita terus memperkuat iman dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sungguh-sungguh menjalankan apa yang diperintahkan-Nya serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya.

Sebab, ketakwaan bukan hanya urusan hubungan kita dengan Allah melalui ibadah mahdhah. Ketakwaan juga harus tercermin dalam cara kita menjalankan kehidupan, termasuk ketika memegang amanah, menggunakan harta, menjalankan pekerjaan, dan memperlakukan hak orang lain.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,

Pada tahun 2026 ini, bangsa Indonesia genap berusia 81 tahun sejak memproklamasikan kemerdekaannya. Usia yang tentu sudah cukup panjang bagi perjalanan sebuah negara.

Namun, di tengah perjalanan panjang tersebut, masih ada persoalan yang terus menjadi keprihatinan kita bersama. Salah satunya adalah praktik korupsi yang melibatkan sebagian orang yang diberi amanah untuk mengelola urusan negara.

Hampir setiap hari kita dapat menemukan pemberitaan mengenai kasus korupsi, baik melalui televisi maupun media sosial. Uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat justru diselewengkan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Padahal, sebagian besar uang negara berasal dari kontribusi masyarakat, termasuk melalui pajak yang dibayarkan rakyat. Dana tersebut semestinya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan, pelayanan publik, serta berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan.

Ketika uang tersebut disalahgunakan, yang dirugikan bukan hanya negara secara kelembagaan. Rakyat juga kehilangan hak yang semestinya mereka terima. Karena itu, dalam perspektif Islam, korupsi tidak bisa dipandang hanya sebagai pelanggaran hukum. Korupsi juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,

Korupsi pada hakikatnya tidak hanya merusak kepercayaan masyarakat kepada para pemegang jabatan. Lebih jauh, perilaku tersebut juga dapat dipandang sebagai bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia yang kini telah memasuki usia 81 tahun.

Kemerdekaan seharusnya menjadi pintu bagi terwujudnya keadilan, kesejahteraan, dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat. Kemerdekaan tidak pernah dimaksudkan sebagai kesempatan bagi segelintir orang untuk memperkaya diri dengan memanfaatkan jabatan yang dipercayakan kepadanya.

Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah tanggung jawab. Keduanya semestinya digunakan untuk memberikan pelayanan dan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi masyarakat, bukan menjadi jalan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,

Dalam ajaran Islam, korupsi merupakan perbuatan yang sangat tercela dan termasuk dalam kategori dosa besar. Perbuatan koruptif juga merupakan tindak pidana yang memiliki konsekuensi hukum dan harus dipertanggungjawabkan oleh pelakunya.

Korupsi dapat dikaitkan dengan istilah ghulul, yakni tindakan mengambil, menggelapkan, atau menyelewengkan harta yang bukan menjadi haknya. Karena itu, Islam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Orang yang melakukan ghulul tidak hanya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia. Harta yang telah diselewengkan juga akan menjadi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 161:

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

Artinya: “Tidak layak seorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang diselewengkannya itu. Kemudian, setiap orang akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang mereka lakukan dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Ali Imran: 161).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa harta yang diperoleh melalui penyelewengan tidak akan hilang begitu saja dari pertanggungjawaban. Apa yang diambil secara tidak benar akan kembali menjadi beban bagi pelakunya di hadapan Allah Swt. kelak.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,

Mengenai persoalan ini, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, Juz 4, halaman 151, menjelaskan bahwa suap, gratifikasi, korupsi, dan berbagai tindakan sejenis termasuk dalam kategori ghulul, yakni penyelewengan terhadap harta yang telah dipercayakan kepada seseorang.

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menerangkan bahwa orang yang melakukan perbuatan tersebut akan menghadapi pertanggungjawaban yang berat di akhirat. Harta yang diperoleh melalui penyelewengan akan menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh pelakunya pada hari kiamat.

Beliau menjelaskan:

وَمِنَ الْغُلُوْلِ: هَدَايَا الْعُمَّالِ أَوِ الْوُلَاةِ، وَحُكْمُهُ فِي الْفَضِيْحَةِ فِي الْآخِرَةِ حُكْمُ الْغَالِّ

Artinya: “Termasuk perilaku ghulul (penyelewengan harta) ialah memberi hadiah (gratifikasi) terhadap pegawai negeri atau pemerintahan. Hukumnya sama seperti pelaku ghulul akan ditampakkan di akhirat harta yang ia selewengkan.”

Baca Juga : Borong Juara Umum Lomba Logistik, BPBD Jember Gelar Tasyakuran

Dengan demikian, persoalan korupsi tidak boleh dipandang ringan. Harta yang diperoleh melalui jabatan dan amanah publik bukanlah milik pribadi yang dapat digunakan sesuka hati. Di dalamnya terdapat hak masyarakat yang harus dijaga.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,

Rasulullah saw. juga memberikan peringatan keras mengenai perilaku ghulul. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. sangat menegaskan beratnya persoalan ghulul. Imam Muslim dalam Shahih Muslim ala Nawawi meriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، فَذَكَرَ الْغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ

Artinya: “Dari Abi Hurairah, berkata: Kami bersama Rasulullah saw. pada suatu hari, lalu Rasulullah menyebutkan ghulul, Rasul menganggapnya berat dan menganggap persoalan terkait ghulul adalah sesuatu yang berat.” (HR. Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan betapa seriusnya dosa ghulul. Perbuatan mengambil sesuatu yang bukan hak, terlebih ketika berkaitan dengan amanah publik, bukan persoalan yang dapat dianggap sepele.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, juz 12, halaman 217, bahkan menjelaskan bahwa ghulul tidak hanya termasuk dosa besar. Pelakunya juga berkewajiban mengembalikan harta yang telah diselewengkan.

Imam An-Nawawi berkata:

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى تَغْلِيظِ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ وَأَنَّهُ مِنَ الْكَبَائِرِ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَلَيْهِ رَدَّ مَا غَلَّهُ فَإِنْ تَفَرَّقَ الْجَيْشُ وَتَعَذَّرَ إِيصَالُ حَقِّ كُلِّ وَاحِدٍ إِلَيْهِ

Artinya: “Umat Islam sepakat bahwa perilaku ghulul sangat diharamkan dan termasuk ke dalam dosa besar. Ulama sepakat bahwa pelaku ghulul wajib mengembalikan harta yang ia selewengkan meski para tentara sudah berpisah dan sulit untuk mengembalikan hak kepada setiap dari mereka.”

Karena itu, orang yang mendapatkan amanah untuk mengelola harta masyarakat harus menyadari bahwa amanah tersebut akan dimintai pertanggungjawaban. Apa yang mungkin tersembunyi dari pengawasan manusia tidak akan pernah tersembunyi dari pengetahuan Allah Swt.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dari uraian tersebut, kita dapat memahami bahwa korupsi bukan sekadar persoalan mengambil uang atau harta. Di baliknya terdapat pengkhianatan terhadap kepercayaan, pengabaian terhadap hak masyarakat, serta tindakan yang dapat merusak kemaslahatan bersama.

Karena itu, marilah kita mulai membangun sikap antikorupsi dari lingkungan yang paling dekat dengan diri kita. Jangan sampai kita hanya mengecam korupsi ketika dilakukan oleh pejabat, tetapi pada saat yang sama membiarkan bentuk-bentuk ketidakjujuran kecil dalam kehidupan kita sendiri.

Kejujuran harus dimulai dari diri sendiri. Amanah harus dijaga dalam pekerjaan. Hak orang lain harus dihormati. Dan setiap harta yang berada dalam tanggung jawab kita harus digunakan sesuai dengan ketentuannya.

Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan dan seremoni. Kemerdekaan harus kita isi dengan kejujuran, tanggung jawab, keadilan, serta upaya menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Ma’asyiral Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,

Pada akhirnya, marilah kita berdoa agar bangsa Indonesia yang akan memasuki usia kemerdekaan ke-81 ini semakin jauh dari berbagai bentuk kezaliman dan pengkhianatan terhadap amanah.

Semoga Allah Swt. menjauhkan kita semua dari sifat tamak, tidak jujur, dan segala perbuatan yang merugikan orang lain. Sebab, setiap perbuatan buruk bukan hanya membawa kerusakan bagi kehidupan bersama, tetapi juga dapat menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah Swt.

Mari kita doakan negeri ini agar senantiasa berada dalam lindungan Allah Swt. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju, aman, damai, adil, dan sejahtera. Semoga Allah menjauhkan negeri kita dari berbagai marabahaya dan bencana serta memberikan para pemimpin yang amanah, adil, dan mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Kita juga berdoa agar siapa pun yang telah mengkhianati amanah, terlebih mereka yang mengambil dan memanfaatkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi, dapat diproses secara adil dan mendapatkan hukuman sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Semoga Allah Swt. menjaga bangsa dan negara kita, melimpahkan keberkahan kepada Indonesia, serta menjadikan negeri ini tempat kehidupan yang penuh kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَأَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ.

وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ


Topik

Serba Serbi khutbah jumat islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---