free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

Ingin Mendapat Empat Kebahagiaan Dunia? Jangan Pernah Lakukan Hal Ini

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

13 - Aug - 2026, 12:31

Loading Placeholder
Ilustrasi kerukunan antara tetangga yang menjadi salah satu kunci dalam mendapatkan kebahagiaan hidup (ist)

JATIMTIMES - Kehidupan yang tenang ternyata tidak hanya ditentukan oleh kondisi rumah, pekerjaan, atau kendaraan yang dimiliki seseorang. Dalam ajaran Islam, kualitas hubungan dengan orang-orang yang tinggal di sekitar juga menjadi bagian penting dari kebahagiaan hidup.

Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan keras kepada orang yang membuat tetangganya tidak merasa aman. Ancaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan bertetangga bukan sekadar etika sosial, melainkan berkaitan erat dengan keimanan.

Baca Juga : Enam Siswa MTsN 1 Kota Malang Terpilih dalam Kontingen Jamnas XII 2026

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR Muslim).

Pesan tersebut mencakup berbagai bentuk gangguan, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Menghina, mencela, menyebarkan aib, membuat keributan, mengganggu ketenangan, hingga tindakan yang merugikan tetangga termasuk perilaku yang harus dihindari.

Al-Qur'an juga mengingatkan mengenai beratnya dosa menyakiti orang lain. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 58:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Peringatan Nabi SAW bahkan disampaikan dengan penegasan berulang. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dari Abu Syuraih RA, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, jangan beriman! Demi Allah, jangan beriman! Demi Allah, jangan beriman!” Para sahabat kemudian bertanya siapa yang dimaksud. Nabi SAW menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

Artinya, ukuran kebaikan seseorang tidak berhenti pada hubungan personal dengan keluarga atau lingkungan terdekatnya. Cara seseorang memperlakukan tetangga juga menjadi cermin dari kualitas akhlaknya.

Ibnu Umar RA meriwayatkan peringatan Nabi SAW kepada orang-orang yang hanya menampilkan Islam melalui ucapan, tetapi belum menghadirkannya dalam hati dan perilaku. Rasulullah SAW melarang mereka menyakiti, mencela, serta mencari-cari kesalahan orang lain.

Nabi SAW juga mengingatkan bahwa orang yang gemar membuka aib saudaranya akan berhadapan dengan konsekuensi serupa. Allah dapat membuka aibnya sendiri, bahkan ketika ia berada di dalam rumahnya.

Kisah para ulama terdahulu menggambarkan betapa besar pengaruh seorang tetangga terhadap ketenteraman hidup. Abu Al-Aswad Ad-Du'ali pernah memiliki rumah di Basrah dan menghadapi tetangga yang terus mengganggunya. Ketika akhirnya rumah itu dijual, ia menjawab dengan ungkapan yang terkenal, “Saya tidak menjual rumah, tetapi menjual tetangga saya.”

Ungkapan tersebut memang bernada satir, tetapi menyimpan pesan sosial yang kuat. Rumah yang nyaman dapat kehilangan nilainya ketika orang-orang di sekitarnya membuat kehidupan menjadi penuh gangguan.

Baca Juga : Regenerasi Kepemimpinan Unisba Blitar, Supriyono Dikukuhkan sebagai Plt Rektor

Karena itu, menjadi tetangga yang baik tidak selalu berarti harus terus memberikan bantuan dalam bentuk materi. Ada bentuk kebaikan yang justru lebih sederhana, yakni tidak mengganggu, menjaga ucapan, menghormati privasi, tidak mencari-cari kesalahan, serta mampu menahan diri ketika menghadapi perilaku yang tidak menyenangkan.

Islam juga tidak mengajarkan seseorang membalas keburukan dengan keburukan. Kesabaran dan kemampuan menjaga diri dari tindakan yang merugikan orang lain merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

Bahkan ketika seseorang berada dalam lingkungan yang sulit, terdapat doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW berdoa agar dilindungi dari tetangga buruk di tempat tinggal yang menetap.

Menurut Al-Munawi dalam At-Taisir bi Syarh Al-Jami' Ash-Shaghir, yang dimaksud tetangga buruk adalah orang yang terus menimbulkan keburukan dan gangguannya berlangsung dalam waktu lama. Kondisi semacam itu tentu berbeda dengan lingkungan tempat seseorang hanya tinggal sementara.

Ajaran tentang tetangga membawa satu pesan penting, bahwa kebahagiaan tidak hanya lahir dari apa yang seseorang miliki, tetapi juga dari suasana lingkungan tempat ia menjalani kehidupan.

Sebuah hadis memperlihatkan bahwa tetangga yang baik ditempatkan sejajar dengan sejumlah hal yang menjadi sumber kenyamanan hidup. Sebaliknya, tetangga yang buruk dapat mengubah tempat tinggal yang semestinya menjadi ruang untuk beristirahat menjadi sumber tekanan.

Sa'd bin Abi Waqqash RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Empat perkara termasuk kebahagiaan: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara termasuk kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang buruk.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).


Topik

Pendidikan rasulullah saw islam tetangga masa gitu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan

--- Iklan Sponsor ---