free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pemerintahan

Masuk Desil 10 Padahal Rumah Masih KPR, Ini Kata BPS

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

13 - Aug - 2026, 10:58

Loading Placeholder
Unggahan warganet yang mengaku masuk desil 10 padahal rumah masih KPR alias menyicil. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Keluhan warga soal hasil pemeringkatan desil ekonomi kembali ramai di media sosial. Sejumlah warganet mengaku kaget setelah mengetahui dirinya masuk Desil 10, kelompok dengan peringkat ekonomi tertinggi dalam pembagian desil 1-10.

Salah satunya datang dari akun Threads @herianiyulia. Ia menceritakan pengalaman keluarganya saat didata petugas sensus. Menurutnya, pertanyaan yang diajukan petugas antara lain mengenai kepemilikan rumah, pekerjaan, kendaraan hingga sejumlah barang di rumah.

Baca Juga : Rumah Menghadap Utara? Ini 4 Tips Fengsui agar Energi Positif Mengalir dan Bawa Hoki

"Waktu sensus ditanyainnya cuma: 'Boleh liat KK nya bu?' 'Ini rumah milik pribadi ya?' 'Suami kerja apa? Dimana?' 'Ibu sendiri kerja?' 'Di rumah ada kulkas? Mesin cuci? AC ada? Oh ada 1?' 'Motor ada berapa?' 'Sebulan listrik berapa bu?' 'Oke bu terima kasih ya'," tulisnya.

Ia kemudian mengaku terkejut ketika mengetahui hasil pemeringkatan keluarganya. Pasalnya, ia merasa kondisi ekonominya masih jauh dari kategori orang kaya. "Hasilnya JENG JENG: gue termasuk EXTREMELY RICH," tulis akun tersebut dengan mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan desil 10. 

Dalam unggahannya, @herianiyulia kemudian membeberkan kondisi keluarganya. Ia menyebut masih tinggal di rumah yang dibeli dengan skema KPR dan cicilannya belum lunas.

"Profil gue: Tinggal di perumahan kabupaten, MASIH KPR belum lunas. Mobil seken ex taxi. Motor Vario 110. Anak 1. Listrik sebulan 500k (dengan AC 1). Suami kerja di pabrik. Gue kerja remote," ungkapnya.

Ia lantas menyindir hasil pemeringkatan tersebut karena keluarganya berada dalam desil yang sama dengan keluarga konglomerat. "Terus tiba-tiba jadi si paling kaya, satu desil sama keluarga Salim dong gw," tulisnya disertai emoji tertawa.

Menurutnya, persoalan yang dipermasalahkan bukan petugas yang datang melakukan pendataan. Ia justru mempertanyakan bagaimana klasifikasi desil tersebut ditentukan.

"DEAR PARA PETUGAS SENSUS, Biasakan BACA utas yang lengkap. Poin utas ini ada di postingan nomor 2. Please BACA. Ga usah merasa diserang karena gue ga lagi nyerang petugas," tulisnya.

Ia juga mempertanyakan bagaimana data keluarganya bisa sudah tercatat dalam desil tertentu sebelum proses sensus yang disebutnya belum selesai.

"Sensus belum selesai, data kamu belum diolah, belum masuk pusat, hasil desil sekarang bukan hasil sensus 2026. LAH LEBIH GONG LAGI DONG," tulisnya.

"Perasaan sensus itu harusnya periodik tapi kenyataannya baru disensus sekarang, tapi ternyata datanya udah masuk duluan. Data darimana ini?" sambungnya.

Keluhan tersebut kemudian mendapat beragam respons dari warganet. Sebagian mengaku memiliki pengalaman serupa karena merasa desil yang diperoleh tidak menggambarkan kondisi ekonomi mereka.

"Oohh jadi ini tujuan Sensus Ekonomi, menjadikan seolah olah angka kemiskinan menurun dan terlihat bahwa masyarakat Indonesia itu orang Kaya semua, sehingga anggaran Subsidi bisa dipangkas, dan dialihkan jadi bancakan Prabowo dan Kroni2 nya melalui Proyek MBG dan Kopdes!!! Mulai terlihat motif nya..." tulis akun @yauda*****.

Ada pula yang mempertanyakan perubahan parameter kemiskinan.

"Ya gitu, kalo emang g bisa nurunin angka kemiskinan, ya mending parameter kemiskinannya yang dirubah, gmpangan ngubah parameter daripada ngubah kesejahteraan orangnya," tulis @retya*****.

"Pantes angka kemiskinan turun, lah banyak yg masuk Desil 10," komentar @ud*****.

Keluhan lain datang dari warganet yang mengaku tinggal di rumah kontrakan tetapi mendapatkan desil tinggi.

"Data aku bisa2 nya masuk desil 8 padahal rumah nyewa. Gk punya AC, gk punya kulkas. Elektronik dirumah cuma rice cooker sama kipas angin 1. Ini gimna cara perbaharui datanya ya," tulis @ukhwatu******.

Ada juga yang menyoroti dampak penetapan desil terhadap akses sejumlah program pemerintah.

"Jika hanya sebatas survei, itu oke. Masalahnya, desil ini juga berpengaruh pada layanan yang didapatkan keluarga tersebut. Misalnya KIPK, juga yang ramai diperbincangkan, bensin ke depannya," tulis @fattah****.

Sementara akun @apre**** mengaku berada di posisi masyarakat kelas menengah yang menurutnya serba sulit.

"Yg paling berasa ini yg kelas ekonomi menengah, di blg miskin juga engga, tapi berasa juga kalo apa² serba mahal. Anakku masih TK tp sudah kepikiran UKT anak pas kuliah, takut banget gabisa kuliahin anak," tulisnya.

Menanggapi ramainya pembahasan tersebut, akun Threads BPS Cilegon memberikan penjelasan mengenai cara kerja desil.

Baca Juga : Jelang HUT RI, Disperindag Tulungagung Geber Pasar Murah di Desa Domasan Kalidawir

BPS menjelaskan bahwa secara sederhana, desil merupakan pembagian keluarga menjadi 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi.

"Secara gampangnya, desil itu membagi jumlah keluarga menjadi 10 bagian/kotak sama banyak," tulis BPS Cilegon.

Sebagai contoh, apabila terdapat 270 keluarga, maka keluarga tersebut dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok berisi 27 keluarga yang telah diurutkan berdasarkan peringkat kondisi ekonominya.

Kotak pertama berisi ranking 1-27, kotak kedua ranking 28-54, hingga kotak kesepuluh berisi ranking 243-270.

"Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off pointnya. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil x, atau aset sekian masuk desil y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga," jelasnya.

Artinya, tidak ada batas tunggal seperti penghasilan tertentu yang secara otomatis membuat sebuah keluarga masuk Desil 1, Desil 5 atau Desil 10.

BPS juga menjelaskan bahwa pemeringkatan dilakukan terhadap keluarga, bukan individu.

"Pemeringkatannya itu untuk satu keluarga ya. Bukan per individu. Jadi, kalau ada yang bilang 'aku nganggur kok desilku tinggi', dilihat dulu di keluarga tersebut bagaimana kondisi ekonomi anggota keluarga lainnya," tulis BPS Cilegon.

Penentuan ranking juga tidak hanya menggunakan satu indikator. Ada banyak variabel yang diperhitungkan, antara lain kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset dan barang, demografi dan pendidikan, ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, kesehatan dan variabel lainnya.

Karena menggunakan banyak variabel dengan bobot yang berbeda, BPS mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menggunakan tabel sederhana seperti "penghasilan sekian berarti Desil X".

"Penentuan rankingnya itu dari puluhan variabel dengan bobot yang berbeda-beda," jelas BPS.

Lantas, mengapa keluarga dengan kondisi ekonomi yang dirasakan biasa saja bisa masuk Desil 10, bahkan berada dalam kelompok yang sama dengan orang-orang superkaya?

BPS menjelaskan hal tersebut justru menunjukkan adanya kesenjangan yang sangat lebar di kelompok dengan peringkat ekonomi tertinggi.

"Kontras yang begitu tajam di dalam desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia," tulis BPS Cilegon.

Dalam Desil 10 bisa terdapat keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat berbeda. Di satu sisi ada konglomerat dan kelompok ultra-rich dengan penghasilan sangat besar. Di sisi lain terdapat keluarga dengan penghasilan jutaan rupiah per bulan yang secara relatif berada di bagian teratas ketika seluruh keluarga diranking.

Dengan kata lain, masuk Desil 10 bukan berarti semua keluarga di dalamnya memiliki tingkat kekayaan yang sama.

BPS mencontohkan, kelas menengah dan konglomerat dapat berada dalam satu kelompok desil karena jumlah keluarga dengan kekayaan luar biasa besar relatif sangat sedikit dibandingkan keseluruhan populasi.

"Kelas menengah dan konglomerat berada dalam satu kotak bernama desil 10, padahal daya beli mereka bagai langit dan bumi," tulis BPS.

BPS mengungkapkan, desil pada dasarnya menggambarkan posisi relatif sebuah keluarga dalam distribusi ekonomi, bukan label yang menyatakan seluruh anggota dalam satu desil mempunyai tingkat kekayaan yang sama.

"Jadi, bukan karena data keliru atau salah memasukkan desil ya. BPS hanya memotret kenyataan: batas antara kelas menengah dan konglomerat adalah berupa angka pada desil yang sama," pungkas keterangan BPS Cilegon dalam Threadsnya.


Topik

Pemerintahan desil ekonomi bps cilegon warganet



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan

--- Iklan Sponsor ---