free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ekonomi

Stok Sapi Terbatas, Harga Daging Tak Stabil, Pemkot Malang Siapkan Impor

Penulis : Riski Wijaya - Editor : A Yahya

04 - Aug - 2026, 19:12

Loading Placeholder
Ilustrasi.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mendatangkan 100 ekor sapi hidup dari Australia belum serta-merta membuat harga daging sapi di pasar tradisional terkendali. Di tengah pasokan lokal yang menipis, pemerintah justru masih harus menghitung kebutuhan impor berikutnya.

Kondisi itu menunjukkan upaya stabilisasi pasokan belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi pasar. Sebab, dari target 100 ekor sapi impor yang disiapkan melalui Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas), baru 35 ekor yang tiba di Rumah Potong Hewan (RPH) Tunas hingga pekan ini.

Baca Juga : Vietnam Diguyur Bonus Rp 2 Miliar usai Hajar Indonesia 3-0 di Piala AFF 2026

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang sekaligus Plt Direktur Utama Perumda Tunas, Slamet Husnan, mengakui pasokan sapi lokal saat ini terbatas. Kondisi tersebut terjadi ketika aktivitas sekolah, perkuliahan, hingga dapur SPPG kembali berjalan.

"Memang sapi lokal ketersediaannya kurang. Karena dibarengi juga dengan aktivitas sekolah, kuliah yang mulai berjalan, termasuk dapur SPPG juga berjalan," ujar Slamet, Selasa (4/8/2026).

Di lapangan, harga daging sapi pun masih berada pada level tinggi. Pemantauan Dispangtan mencatat harga daging sapi di Pasar Bunul sekitar Rp148 ribu per kilogram, sedangkan daging kualitas baik di Pasar Klojen telah mencapai Rp160 ribu per kilogram.

Harga tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pasokan belum sepenuhnya teratasi. Terlebih, pemerintah sendiri masih membuka opsi menambah sapi impor apabila kebutuhan pasar kembali meningkat.

"Kalau minggu ini habis, akan ditambah lagi minggu depan," kata Slamet.

Rencana tersebut membuat impor sapi hidup berpotensi menjadi penyangga pasokan jangka pendek. Namun di sisi lain, ketergantungan pada sapi impor juga muncul ketika pemerintah mengakui stok sapi lokal belum kembali pulih setelah tingginya permintaan saat Iduladha.

Slamet menyebut sapi lokal selama ini didatangkan dari Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bali hingga Madura. Hanya saja, populasi ternak tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat karena sapi membutuhkan waktu untuk tumbuh.

"Tetapi sekarang kondisinya memang masih kurang. Sapi juga butuh waktu untuk tumbuh sehingga stok belum bisa langsung memenuhi permintaan," jelasnya.

Sementara itu, mekanisme impor yang dilakukan Perumda Tunas bukan melalui proses impor secara langsung. Perumda bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki izin impor sapi hidup, kemudian sapi didatangkan ke RPH Tunas untuk dijual kepada jagal.

Baca Juga : Bobol Rumah, Pria 27 Tahun Gasak Uang Rp18 Juta Ditangkap Polisi

Dari sana, sapi dipotong dan dagingnya didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional. Selain pasokan melalui Perumda Tunas, sekitar 25 ekor sapi impor juga dilaporkan masuk melalui jagal yang mendatangkannya secara mandiri.

Artinya, tambahan pasokan impor memang mulai masuk ke Kota Malang. Namun, efektivitasnya dalam menekan harga masih harus diuji karena harga daging di sejumlah pasar tetap berada pada kisaran Rp150 ribu per kilogram.

Pemkot Malang juga menghadapi dilema dalam menjalankan kebijakan tersebut. Perumda Tunas dituntut menjalankan fungsi pelayanan publik dengan menjaga pasokan dan membantu pengendalian harga, tetapi pada saat yang sama harus menghindari kerugian usaha.

"Jangan sampai Perumda Tunas juga terlalu rugi, karena fungsinya selain mencari keuntungan, juga melakukan pengendalian harga dan menjaga pasokan," tutur Slamet.

Dengan kondisi tersebut, kebijakan impor 100 sapi belum bisa dipandang sebagai jawaban akhir atas persoalan harga daging sapi. Apalagi pemerintah masih mengakui pasokan lokal terbatas dan kebutuhan impor berikutnya belum dapat dipastikan.

"Nanti kami berhitung lagi kapan harus mendatangkan sapi impor berikutnya. Kami juga tetap mencari sapi lokal," pungkas Slamet.


Topik

Ekonomi impor sapi slamet husnan tunas dispangtan kota malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Riski Wijaya

Editor

A Yahya

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---