JATIMTIMES - Ketergantungan masyarakat terhadap beras masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Malang. Karena itu, Pemkot Malang mulai mendorong pangan lokal sebagai alternatif sumber karbohidrat.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pangan Olahan Berbasis Sumber Daya Lokal 2026. Kegiatan itu diikuti 640 peserta dari berbagai kelurahan selama empat hari.
Pelatihan tidak hanya mengajarkan cara mengolah bahan pangan lokal. Warga juga dibekali keterampilan menciptakan produk bernilai jual dari hasil pertanian sekitar.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, Elfiatur Roikhah mengatakan potensi pangan lokal masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal banyak komoditas memiliki kandungan gizi yang baik.
"Lingkungan sekitar kita memiliki beragam sumber daya pangan lokal yang kaya nutrisi," ujar Elfi sapaan akrabnya, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, ubi jalar, singkong, labu kuning, hingga pisang dapat diolah menjadi pangan sehat dan aman. Produk tersebut juga berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah menilai pola konsumsi masyarakat masih terlalu bergantung pada beras. Kondisi itu menjadi salah satu alasan percepatan program diversifikasi pangan.
Elfi menyebut capaian pola pangan harapan masih belum ideal. Ketergantungan pada satu komoditas dinilai perlu dikurangi.
"Konsumsi masyarakat masih sangat tergantung pada bahan tertentu, dalam hal ini adalah beras," kata Elfi.
Karena itu, ubi jalar dan labu kuning dipilih sebagai komoditas utama program. Keduanya dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif.
Program tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2024. Dispangtan menyalurkan bibit dan sarana pendukung kepada 115 kelompok urban farming di 57 kelurahan.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan, budidaya dilakukan menggunakan media karung. Pemkot Malang juga menggandeng Universitas Brawijaya melalui pengembangan Varietas Brawijaya.
Baca Juga : Mengapa Anak Yatim Mendapat Tempat Istimewa dalam Islam?
Hasil uji lapangan menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi. Satu karung media tanam mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram ubi jalar dalam satu siklus panen.
Jika budidaya menjadi fokus sektor hulu, pelatihan kali ini menyasar sektor hilir. Peserta diajari mengolah ubi dan labu menjadi mi, roti, serta produk pangan modern lainnya.
Bahkan, sebagian produk telah masuk program pemenuhan gizi nasional. "Dalam satu minggu memang diwajibkan ada menu pangan lokal," ujar Elfi.
Ia menambahkan, roti berbahan ubi dan labu sudah didistribusikan ke SPPG sebagai bagian diversifikasi pangan.
Masyarakat diharapkan mampu mengembangkan pola konsumsi yang B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) di keluarga masing-masing.
Sekaligus menciptakan peluang usaha baru demi memperkuat fondasi ketahanan pangan Kota Malang secara berkelanjutan.