JATIMTIMES – Pagelaran wayang kulit yang digelar dalam rangkaian Bulan Bung Karno di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, Senin (15/6/2026) malam, menjadi ruang refleksi tentang kepemimpinan, pengabdian, dan keberanian membela kebenaran. Di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi acara, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak masyarakat menjadikan kisah pewayangan sebagai sumber pembelajaran karakter dan nilai kebangsaan.
Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Blitar tersebut menghadirkan beragam pertunjukan budaya, mulai macapat, ambya, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Dalang Ki Minto Darsono dengan lakon Lahirnya Gatotkaca. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal acara hingga pementasan wayang berlangsung.
Baca Juga : Hore! Besok 16 Juni 2026 Tanggal Merah, Libur Apa? Simak Penjelasannya
Dalam sambutannya, Hasto menegaskan bahwa kebudayaan memiliki posisi penting dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, Bung Karno sejak awal telah menempatkan kebudayaan sebagai salah satu fondasi utama pembentukan karakter nasional.
“Bung Karno mengajarkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar budayanya. Karena itu, pelestarian budaya harus terus dilakukan agar masyarakat tidak kehilangan jati diri,” ujarnya.
Hasto mengatakan tradisi Jawa yang hidup di tengah masyarakat masih menyimpan banyak nilai yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Salah satunya tercermin dalam tradisi malam satu Suro yang tahun ini bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
“Malam satu Suro ini merupakan hal yang sangat penting dan membedakan kita dengan bangsa-bangsa lain. Semua tradisi merayakan tahun baru dengan berpesta, tetapi bagi kita tradisi leluhur justru diisi dengan laku, dengan perenungan, dan memahami sangkan paraning dumadi,” kata Hasto.
Menurutnya, kebudayaan tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter. Cerita wayang yang diwariskan secara turun-temurun mengandung nilai moral dan kepemimpinan yang tetap relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hasto menilai lakon Lahirnya Gatotkaca menyimpan banyak pelajaran tentang pengabdian seorang ksatria kepada bangsa dan negara. Dalam berbagai kisah pewayangan, tokoh-tokoh seperti Gatotkaca, Arjuna, Werkudara, hingga Adipati Karna menunjukkan pentingnya keberanian, kesetiaan, dan dedikasi dalam menjalankan amanah.
Namun, menurutnya, seorang pemimpin tidak akan mampu menjalankan tugas dengan baik tanpa kedekatan dengan rakyat. Karena itu, dalam pewayangan selalu hadir tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang menjadi simbol suara rakyat.
“Seorang ksatria akan selamat apabila didampingi para punakawan. Mereka adalah simbol rakyat yang selalu hadir dalam perjalanan kehidupan,” ujarnya.
Hasto menambahkan, pelajaran paling penting dari sosok Gatotkaca adalah keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan. Nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Pesan moral dari cerita malam hari ini adalah bagaimana kita mengisi kehidupan dan membuat sejarah. Seorang ksatria tidak pernah meninggalkan tugas dan setia membela bangsa serta negaranya dengan menegakkan kebenaran,” tegasnya.
Baca Juga : Tak Sekadar Cetak Aktor, GoodPlay Acting Space di Kota Batu Fokus Bangun Karakter Anak dan Remaja
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak takut memperjuangkan keadilan ketika menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa.
“Akhir-akhir ini kita menjadi takut menegakkan kebenaran. Kita takut memperjuangkan ketika ketidakadilan merajalela. Maka belajar dari kepeloporan Gatotkaca, kita tidak boleh takut membela kebenaran dan keadilan,” lanjutnya.
Pandangan tersebut, kata Hasto, sejalan dengan gagasan Trisakti Bung Karno yang menempatkan berkepribadian dalam kebudayaan sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa, selain berdaulat di bidang politik dan berdikari di bidang ekonomi.
Bupati Blitar Rijanto yang turut hadir dalam kegiatan itu mengatakan Bulan Bung Karno menjadi momentum penting untuk mengenang jasa Sang Proklamator sekaligus menghidupkan nilai-nilai kebangsaan melalui pendekatan budaya yang dekat dengan masyarakat.
“Bulan Juni adalah Bulan Bung Karno. Salah satu di antaranya 1 Juni Hari Lahir Pancasila dan 6 Juni Hari Lahir Bung Karno. Karena itu berbagai kegiatan budaya terus kami hadirkan agar masyarakat semakin memahami nilai-nilai yang diwariskan Bung Karno,” ujar Rijanto.
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar sekaligus anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Guntur Wahono menilai seni dan budaya merupakan media efektif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat.
“Pelestarian budaya bagi kami bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi memastikan bahwa nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup di tengah arus modernisasi. Seni dan budaya Jawa yang ditampilkan dalam Bulan Bung Karno adalah bukti bahwa akar budaya kita mampu menjadi sumber inspirasi kebangsaan,” katanya.
Melalui pagelaran wayang kulit dan berbagai kesenian rakyat lainnya, Kabupaten Blitar terus memperkuat peran kebudayaan sebagai sarana pendidikan karakter. Dari panggung wayang, masyarakat diajak belajar tentang kepemimpinan, pengabdian, keberanian, dan semangat membela kebenaran sebagai fondasi membangun bangsa yang berkarakter dan berkepribadian kuat.