JATIMTIMES - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar menegaskan bahwa hambatan terbesar lembaga pendidikan saat ini bukan semata persoalan sarana atau anggaran, melainkan pola pikir sumber daya manusianya.
Menurut dia, madrasah akan sulit berkembang jika guru dan tenaga kependidikan masih terbiasa mencari alasan dibanding mencari solusi. Pesan itu ia sampaikan saat memberikan pembekalan kepada guru dan tenaga kependidikan di MTsN 2 Kota Malang, belum lama ini.

Dalam arahannya, Akhmad Sruji Bahtiar menyebut banyak institusi sebenarnya memiliki potensi besar, namun bergerak lambat karena budaya kerja yang stagnan. Energi pegawai kerap habis untuk menjelaskan kendala, bukan merumuskan terobosan.
“Jangan membuat alibi yang membuat kita jalan di tempat,” tegasnya.
Menurutnya, alasan seperti keterbatasan fasilitas, beban administrasi, atau tantangan eksternal tidak boleh dijadikan pembenar untuk menurunkan standar kerja. Dunia pendidikan berubah cepat dan menuntut tenaga pendidik terus belajar, beradaptasi, serta meningkatkan kompetensi.
Ia menilai transformasi madrasah harus dimulai dari perubahan mindset. Guru tidak cukup hanya hadir mengajar, tetapi juga perlu memastikan kehadirannya memberi dampak nyata bagi peserta didik dan kemajuan lembaga. Disiplin, tanggung jawab, pelayanan yang baik, dan integritas disebut sebagai kebiasaan kecil yang akan menentukan kualitas institusi.

Dalam forum itu, ia juga mengibaratkan manusia seperti makanan. Ada yang dicari karena memberi manfaat, ada pula yang dijauhi karena tidak membawa nilai positif. Karena itu, seluruh guru dan tenaga kependidikan diminta menjadi sosok yang dibutuhkan lingkungan.
“Semakin kita mengenal Tuhan, maka semakin kita mampu memanusiakan manusia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan madrasah tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun empati dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Pemkab Bondowoso Perkuat Perlindungan Buruh Tani Tembakau Lewat Program Jaminan Sosial DBHCHT 2026
Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Achmad Shampton dalam kesempatan yang sama mendorong MTsN 2 Kota Malang untuk terus meningkatkan daya saing. Menurut dia, madrasah harus memiliki keberanian memasang standar tinggi agar mampu sejajar bahkan melampaui lembaga pendidikan unggulan lainnya.

“Madrasah harus terus memacu diri, jangan cepat puas dengan capaian yang sudah ada,” katanya.
Sementara itu, Kepala MTsN 2 Kota Malang Anita Yusianti menyampaikan bahwa kehadiran pimpinan wilayah menjadi suntikan motivasi bagi seluruh civitas akademika. Ia berharap arahan tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat kualitas akademik sekaligus pelayanan publik di lingkungan madrasah.
“Kami memohon bimbingan agar MTsN 2 Kota Malang terus bertumbuh dalam kualitas pendidikan maupun integritas pelayanan,” ungkapnya.
Kegiatan pembekalan itu menjadi momentum evaluasi internal bagi madrasah, terutama dalam membangun budaya kerja yang progresif, adaptif, dan berorientasi pada mutu layanan pendidikan.