JATIMTIMES - Komitmen perubahan di tubuh Aremania kembali ditegaskan menyusul adanya insiden pelanggaran yakni ditemukannya puluhan botol minuman keras jelang pertandingan Arema FC vs Persis Solo di Stadion Kanjuruhan. Akibatnya, oknum yang kedapatan membawa minuman keras tersebut dibawa ke Mapolres Malang.
Koordinator Presidium Aremania Utas, Ali Rifki, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf sekaligus penegasan sikap untuk terus berbenah demi menjaga marwah suporter Arema.
Baca Juga : Tagar #BebaskanIbamArief Trending di X, Ini Awal Mula Kasus dan Tuntutan 15 Tahun Penjara
Dalam pernyataannya, Ali Rifki mengakui bahwa berbagai imbauan sebenarnya telah rutin disampaikan kepada seluruh Aremania dalam setiap momentum pertandingan maupun kegiatan lainnya. Imbauan tersebut mencakup larangan membawa minuman keras, senjata tajam, flare, hingga tindakan anarkis dan rasis.
"Pertama-tama saya memohon maaf mewakili adik-adik saya ataupun nawak saya yang sebetulnya yang sudah selalu kita imbau setiap match, setiap apa pun kegiatan selalu kita imbau. Baik itu tanpa minuman keras, tanpa senjata tajam, tanpa flare, tanpa anarkis, tanpa rasis. Itu kan imbauan yang selalu kita sampaikan bahwa imbauan ini bukan hanya template yang dibaca-dibaca. Itu kan sebetulnya imbauan-imbauan yang benar-benar kita tekankan," ujar Ali Rifki.
Ia menegaskan bahwa permohonan maaf tersebut menjadi bagian dari komitmen besar Aremania untuk berubah ke arah yang lebih baik. Menurutnya, upaya pembenahan terus dilakukan, termasuk menjalin sinergi dengan aparat kepolisian guna meminimalisasi pelanggaran yang merugikan suporter itu sendiri.
"Maka, ya di kesempatan ini mungkin saya mewakili nawak-nawak atau saudara-saudara semua, yang pertama meminta maaf. Yang kedua, sesuai dengan komitmen perubahan, Aremania ingin berbenah, Aremania ingin berubah, ya inilah wujud dari komitmen tersebut. Salah satunya kita bersama Pak Kapolres berkomitmen untuk mengurangi hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri," lanjutnya.
Ali juga menyoroti dampak langsung yang dialami oleh oknum suporter yang melanggar aturan. Selain tidak dapat menyaksikan pertandingan di stadion, mereka juga harus berhadapan dengan proses penanganan di kepolisian, bahkan hingga menanggung kerugian pribadi.
"Termasuk hari ini (kemarin, red), adik-adik, nawak-nawak kita ini merugikan dirinya sendiri. Harusnya mereka bisa menonton bola di stadion, akhirnya mereka ada di aula Polres. Dan dapat kerugian dengan tiketnya hangus. Belum nanti orang tuanya kalau tahu, kan pasti kepikiran, pasti ketakutan," ungkapnya.
Baca Juga : Coban Sewu Kembali Bergejolak, DPRD Kabupaten Malang Desak Pemprov Jatim segera Bertindak
Meski demikian, Ali menilai bahwa mayoritas Aremania telah mematuhi imbauan yang selama ini disampaikan. Ia menyebut, pelanggaran yang terjadi hanya dilakukan oleh sebagian kecil oknum yang dinilai masih lalai.
"Makanya imbauan yang selalu organisasi sampaikan itu bukan hanya untuk dibaca. Tapi, mungkin ini baru sepersekian orang ya, tapi Alhamdulillah menurut saya selama ini imbauan itu juga banyak dituruti. Cuma ini mungkin adik-adik yang hadir ini mungkin lalai dan mungkin masih nyoba-nyoba," katanya.
Ke depan, pihaknya berharap dapat terus berdiskusi dengan jajaran kepolisian untuk menentukan langkah penanganan yang lebih efektif. Tujuannya tak lain adalah memperkuat komitmen bersama dalam mengakhiri berbagai pelanggaran demi menjaga citra Aremania.
"Ya, kami dari organisasi mungkin memohon kepada Pak Kapolres agar nanti mungkin kita bisa diskusi bagaimana penanganan yang harus dilakukan. Jadi harapan kami, sesuai komitmen bahwa hal-hal terlarang ini ayo kita sudahi bersama. Kita berkomitmen membangun citra, membangun nama Arema ataupun Aremania-Aremanita semakin bermartabat," tegasnya.