JATIMTIMES - Halalbihalal yang dirangkai dengan penanda dimulainya Lustrum IX menjadi momentum reflektif sekaligus strategis bagi Universitas Islam Malang dalam menatap masa depan. Di tengah suasana Idulfitri 1447 Hijriah, kampus ini menegaskan arah besarnya untuk melesat menuju perguruan tinggi berkelas dunia.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Bundar Unisma, Selasa 31 Maret 2026, tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi keluarga besar kampus. Di dalamnya, terselip peringatan hari lahir ke-45 yang sebelumnya jatuh pada 27 Maret, namun baru diperingati secara terintegrasi karena masih berada dalam suasana libur Lebaran.

Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi Mistar, PhD menegaskan bahwa penggabungan dua momentum tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat makna refleksi sekaligus arah pengembangan institusi.
Baca Juga : 45 Link Pengumuman SNBP 2026 Resmi dan Mirror: Cek Hasil Hari Ini Pukul 15.00 WIB
“Acara ini memang kami gabungkan antara halal bihalal dalam suasana Lebaran 1447 Hijriah dan peringatan hari lahir Unisma yang ke-45. Karena tanggal 27 Maret masih dalam masa libur Lebaran, maka kami integrasikan dalam kegiatan hari ini,” ujarnya.

Menurutnya, usia 45 tahun atau Lustrum ke-9 menjadi titik penting untuk melihat kembali fondasi awal berdirinya kampus yang berangkat dari cita-cita menghadirkan perguruan tinggi mandiri dan berkualitas. Dari refleksi tersebut, Unisma kini menegaskan langkahnya menuju target besar sebagai World Class University.
“Kita tidak hanya melihat ke belakang, tetapi juga menatap masa depan. Capaian yang sudah diraih saat ini menjadi modal untuk melangkah menuju World Class University,” kata Junaidi.

Ia memaparkan, posisi Unisma saat ini telah menunjukkan tren positif. Pada 2026, Unisma menempati peringkat 173 di kawasan Asia Tenggara. Sementara berdasarkan pemeringkatan Scimago, Unisma berada di posisi ke-51 di tingkat perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.
“Secara global, kita juga sudah masuk dalam Asia University Ranking, meskipun masih di klaster 1100. Namun kami optimistis pada periode 2027 hingga 2031, Unisma bisa masuk kategori World Class University,” ungkapnya.
Untuk mempercepat pencapaian tersebut, penguatan riset dan publikasi ilmiah menjadi fokus utama. Pusat-pusat studi didorong aktif melakukan penelitian sekaligus mempublikasikan hasilnya di jurnal internasional bereputasi.

“Penelitian saja tidak cukup kalau tidak dipublikasikan. Karena itu, kami dorong dosen dan mahasiswa untuk menembus jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus atau Web of Science,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa setiap fakultas kini memiliki pusat studi unggulan sebagai basis pengembangan keilmuan.
“Kami bahkan meminta dosen untuk mencantumkan identitas pusat studi dalam setiap publikasi ilmiahnya, agar ekosistem riset di Unisma semakin kuat,” imbuhnya.
Baca Juga : Doa Agar Lulus SNBP 2026 dan Diterima di Kampus Impian, Lengkap untuk Menenangkan Hati
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Unisma Malang, Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, S.P., M.P menyoroti pentingnya halalbihalal sebagai ruang rekonsiliasi di tengah dinamika internal kampus. Ia menyebut tradisi ini memiliki peran strategis dalam membangun keharmonisan.
“Halalbihalal ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang dialog untuk saling mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan. Ini penting untuk mengurangi potensi konflik di lingkungan akademik,” ujarnya.
Menurutnya, dalam perjalanan panjang sebuah institusi, perbedaan dan gesekan antarindividu tidak bisa dihindari. Karena itu, momentum seperti ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat budaya saling menghormati.
“Kita ingin membangun budaya santun, saling menghargai, dan yang paling penting adalah mendorong kolaborasi, bukan rivalitas,” tegas Agus.
Ia juga mengingatkan bahwa tradisi halalbihalal memiliki akar kuat dalam sejarah Indonesia, sekaligus nilai-nilai keislaman yang telah lama hidup di masyarakat.
“Tradisi ini sudah populer sejak era Soekarno, tetapi sejatinya nilai saling memaafkan itu sudah diajarkan jauh sebelumnya. Bahkan simbol seperti ketupat mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan dan membuka diri untuk memaafkan orang lain,” jelasnya.
Melalui perpaduan refleksi perjalanan institusi, penguatan budaya, serta strategi akademik berbasis riset, Unisma menjadikan momentum usia ke-45 sebagai pijakan untuk mempercepat langkah menuju panggung pendidikan tinggi dunia.