free web hit counter
Jatim Times Network
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Tradisi Puter Kayun Banyuwangi Tetap Lestari, Warga Boyolangu Napak Tilas Leluhur Naik Dokar Hias

Penulis : Nurhadi Joyo - Editor : Nurlayla Ratri

31 - Mar - 2026, 10:31

Loading Placeholder
Pelaksanaan ritual Puter Kayun di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi. (Istimewa)

JATIMTIMES - Tradisi Puter Kayun yang digelar setiap 10 Syawal masih terus dijaga oleh masyarakat Kelurahan Boyolangu, Banyuwangi. Di tengah perkembangan zaman, ritual ini tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan warga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Puter Kayun merupakan tradisi menepati janji warga kepada leluhur yang berjasa membuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi. Dalam pelaksanaannya, warga melakukan napak tilas dengan menaiki dokar atau delman yang telah dihias, dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol.

Baca Juga : Heboh Kabar Pertamax Naik Tembus Rp 17 Ribu, Ini Penjelasan Resmi Pertamina

Sejak pagi, dokar-dokar hias telah disiapkan sebagai simbol pelaksanaan ritual. Para kusir yang akan mengemudikan dokar juga turut ambil bagian, salah satunya Abdul Mufid (65), yang telah puluhan tahun menjalani profesi tersebut.

“Saya sudah menjadi kusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama-sama warga disini. Karena pada tradisi ini yang terpenting adalah napak tilasnya,” ujarnya.

Ketua panitia sekaligus tokoh pemuda Boyolangu, Risyal Alfani, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan napak tilas perjalanan Ki Buyut Jakso, sosok yang diyakini sebagai leluhur pembuka jalan di wilayah utara Banyuwangi.

"Konon, saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," ujar Risyal.

Ia menambahkan, Ki Buyut Jakso berpesan agar keturunannya rutin melakukan napak tilas ke Pantai Watu Dodol sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan tersebut.

"Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar untuk napak tilasnya,” tambahnya.

Namun pada pelaksanaan tahun ini, iring-iringan dokar tidak sampai ke Pantai Watu Dodol dan hanya berputar di wilayah kota. Hal itu disebabkan kemacetan menuju kawasan tersebut akibat antrean kendaraan ke Pelabuhan Ketapang.

Baca Juga : Halal Bihalal Desa Tambakrejo Tulungagung, Momentum Pererat Kebersamaan dan Semangat Bangun Desa

Salah satu warga menyebut, kondisi tersebut membuat peserta yang biasanya mengiringi dengan kendaraan roda empat harus beralih menggunakan sepeda motor agar bisa menembus kemacetan.

Pelaksana Tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyatakan bahwa tradisi Puter Kayun akan terus dilestarikan sebagai bagian dari budaya lokal sekaligus potensi wisata daerah.

“Banyuwangi berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu ini. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, tradisi ini juga bagian dari atraksi wisata di Banyuwangi,” kata Hartono.

Sebelum puncak acara Puter Kayun, warga Boyolangu menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Boyolangu Traditional Culture. Kegiatan diawali pada 7 Syawal dengan Lebaran Kopat berupa selamatan dan makan ketupat bersama, dilanjutkan pada 9 Syawal dengan tradisi Kebo-keboan, sebelum akhirnya ditutup dengan pelaksanaan Puter Kayun.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya banyuwangi puter kayun tradisi unik dokar hias



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Indonesia Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nurhadi Joyo

Editor

Nurlayla Ratri

Hiburan, Seni dan Budaya

Artikel terkait di Hiburan, Seni dan Budaya

--- Iklan Sponsor ---