JATIMTIMES - Di sudut wilayah RT 12 RW 10 Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, terdapat sebuah kawasan yang sejak lama dikenal warga sebagai Kampung Pemulung.
Julukan itu bukan tanpa alasan. Puluhan tahun lalu, sebagian besar penghuni kampung tersebut memang menggantungkan hidup dari mengumpulkan barang-barang bekas. Namun seiring waktu, wajah kampung ini perlahan berubah.
Baca Juga : Kodim 0818 Bakal Lanjutkan Bangun Jembatan Garuda di 7 Titik Kabupaten Malang
Kader RT 12 RW 10 Kelurahan Kotalama, Erna, menceritakan bahwa sebutan Kampung Pemulung mulai dikenal sejak kawasan itu dihuni warga sekitar tahun 2002. Saat itu, sebagian besar warga yang tinggal di lokasi tersebut merupakan pemulung yang direlokasi dari bantaran sungai. “Sejak didirikan tahun 2002 sudah dikenal seperti itu,” ujar Erna saat ditemui.
Ia menjelaskan, para pemulung tersebut sebelumnya tinggal di bantaran sungai di kawasan Gang Lima. Ketika wilayah itu ditertibkan, mereka kemudian direlokasi ke permukiman yang berada di sekitar pertemuan Sungai Brantas dan Sungai Bango.
Sejak saat itu, kawasan tersebut menjadi tempat tinggal baru bagi para pemulung. “Dulu rumahnya di bantaran sungai di Gang Lima. Terus digusur dan direlokasi ke sini. Kebanyakan yang pindah memang pemulung,” terang Erna.
Pada masa awal berdirinya, mayoritas warga di lingkungan itu bekerja sebagai pemulung. Mereka mengais barang bekas dari berbagai tempat untuk dijual kembali demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun kondisi tersebut kini tidak lagi sama seperti dulu. Menurut Erna, jumlah pemulung yang tinggal di kampung itu semakin berkurang. Banyak rumah yang telah berpindah tangan karena dijual kepada pendatang.
“Sekarang sudah berkurang. Banyak rumah yang dijual-belikan ke orang Madura. Yang masih pemulung mungkin sekitar 15 orang saja,” ungkapnya.
Saat ini, di RT 12 RW 10 tercatat sekitar 75 kepala keluarga (KK) yang tinggal di kawasan tersebut. Sebagian warga masih bertahan dengan pekerjaan lama sebagai pemulung, meski tidak semuanya mengandalkan pekerjaan itu sebagai sumber penghasilan utama.
Pendapatan para pemulung pun tidak menentu. Hasil yang didapat sangat bergantung pada keberuntungan dan banyaknya barang yang berhasil dikumpulkan.
“Enggak mesti. Kalau dapatnya banyak ya banyak, kalau sedikit ya sedikit,” kata Erna.
Selain memulung di jalanan, beberapa warga juga mencari barang logam di sungai. Aktivitas itu dikenal warga dengan istilah ngendang, yakni menyusuri sungai untuk mencari paku atau potongan besi yang terbawa arus. Sesekali, mereka bahkan bisa menemukan logam berharga.
“Kadang ada yang dapat emas, tapi ya jarang. Kalau setiap hari dapat emas, ya pemulung sudah kaya semua,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam kondisi normal, penghasilan pemulung biasanya berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari, tergantung jumlah barang yang berhasil dijual ke pengepul.
Baca Juga : Kuto Bedah di Malang Ternyata Bekas Pusat Pemerintahan Tumapel yang Ditaklukkan VOC
Saat momen tertentu seperti bulan Ramadan, pendapatan mereka bisa sedikit meningkat. Hal itu karena lebih banyak sampah botol dan barang bekas dari aktivitas masyarakat, seperti acara buka bersama atau hajatan.
“Kalau pas Ramadan biasanya ada sisa botol-botol, jadi kadang bisa sampai Rp100 ribu. Tapi kalau hari biasa seringnya di bawah itu,” jelas Erna.
Di balik dinamika kehidupan kampung tersebut, tersimpan pula kisah warga yang menghadapi masa sulit.
Salah satunya dialami Encit, warga lanjut usia yang kini berusia sekitar 80 tahun. Dulu, Encit dikenal sebagai penjual pisau yang berkeliling untuk berdagang. Namun sekitar dua tahun lalu, ia mengalami kecelakaan saat perjalanan untuk mengambil barang dagangan.
“Waktu itu mau kulakan pisau, diserempet pemulung yang bawa obrok. Bukan orang sini, kalau enggak salah dari Bumiayu,” cerita Erna.
Benturan tersebut membuat Encit sempat tidak sadarkan diri dan mengalami koma. Sejak kejadian itu, ia tidak lagi mampu bekerja seperti dulu.
Kini, kebutuhan sehari-hari Encit ditopang oleh anak dan menantunya yang berusaha mencari nafkah dengan berjualan barang bekas.
Meski julukan Kampung Pemulung masih melekat hingga sekarang, kehidupan warga di kawasan tersebut perlahan berubah. Jumlah pemulung tidak lagi sebanyak dulu, sementara sebagian rumah telah dihuni pendatang dengan pekerjaan yang beragam.
Namun bagi warga lama, jejak sejarah kampung itu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka, berawal dari relokasi bantaran sungai, hingga bertahan dengan kerja keras di tengah keterbatasan.