JATIMTIMES - Sejarah perjuangan Indonesia bermula dari angkat senjata menjadi perjuangan modern terorganisasi. Riwayat itu dapat ditelusuri dari organisasi kaum terpelajar Budi Utomo (1908), Sarekat Islam (1911), Indische Partij (1912), Taman Siswa (1922), dan lain-lain.
Jejak organisasi terpelajar itu pun memberi catatan bagi perjalanan bangsanya di masa depan. Sebab, kehadiran kelompok terpelajar ini memiliki kesaamaan perjuangan: melawan penjajahan dan mengangkat derajat martabat bangsa Indonesia.
Baca Juga : 7 Tips Merawat Anak Kucing dengan Promo Home Living Royal Canin Mother and Baby Cat
Dikutip dari Koran Pembebasan yang terbit pada 23 Juli 2013 dalam pidato peringatan hari lahir Partai Rakyat Demokratik, Danial Indra Kusuma mengatakan, bagaimana mungkin sebuah organisasi yang benar-benar berkeinginan mencapai sukses, yang memutuskan untuk memikul tugas mendapatkan kekuasaan politik, mendapatkan kekuasaan negara dan menyatukan ke bawah panji-panjinya sendiri para pembaru, para pejuang dan para petarung yang paling pemberani, hidup dan berkembang, bila tanpa pertukaran pemikiran, bila tanpa pengelompokan dan pembentukan formasi perbedaan pemikiran.
Rangkaian misi perjuangan dan kemampuan mengorganisasikan diri itu pun tergambar dalam berbagai organisasi terpelajar lainnya hari ini, terutama lembaga kajian hukum dan politik Participation, Action and Research (PAR) Alternatif Indonesia.
Direktur Eksekutif PAR Alternatif Indonesia Andi Saputra menyebut lembaga ini sebagai rumah besar anak muda pulang, sebelum, saat dan pasca melawan.
Menurut dia, sejarah panjang bangsa Indonesia menjadi alasan kuat mengapa anak muda menjadi subjek perjuangan di dalam lembaga ini.
Selain itu, diksi "melawan" yang disebut Andi merujuk pada kemampuan sistematis dan terorganisir untuk mengubah dan menciptakan individu agar menjiwai nilai kapasitas dan integritas.
"Lembaga ini (PAR Alternatif Indonesia) adalah rumah bagi anak muda. Baik saat mereka pulang, sebelum, saat dan pascamelawan," ujarnya kepada media ini, Senin (9/3/2026).
Sebagaimana unggahan edukasi di akun Instagram @paralternatif, lembaga ini fokus menyoroti isu hukum dan politik. Belakangan, akun tersebut memperoleh jangkaun pemirsa luas dalam unggahan "3 hal utama advokasi kebijakan publik" dengan 1.633 like, 160 posting ulang dan 390 dibagikan serta 15.506 tayangan.
Menurut Andi, perhatian publik dalam postingan tersebut menunjukkan dua hal, yakni minimnya edukasi pengetahuan kebijakan dan manfaat unggahan.
Selama ini, kata Andi, banyak kelompok dan individu yang menyuarakan hal demikian.
Baca Juga : Ramadan 2026 di Matos Meriah, Ada Ngabuburit, Lomba Fashion Muslim hingga Charity Anak Yatim
"Kalau semakin banyak itu bagus. Semua kelompok dan individu progresif dapat berkolaborasi," ungkapnya.
Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Maulana Rafi Anwar menyebut, PAR Alternatif memiliki kemampuan dalam menjangkau sekaligus mengedukasi publik, terutama anak muda untuk melek hukum dan politik.
Bahkan menurut Rafi, sistem kaderisasi dan produk ide lembaga ini menggambarkan nilai dan sikap kerja-kerja intelektual yang baik. Sehingga, manfaat dan dampak baik akan dirasakan publik.
"Dengan mekanisme kaderisasinya yang cukup selektif, sungguh menjadi optimisme tersendiri bahwa PAR Alternatif akan menjadi wadah progresif dan revolusioner kedepannya," harapnya.
Senada dengan Rafi, mahasiswa Universitas Islam Jember Ahmad Fauzan Bakri mengatakan, anak muda punya kesempatan untuk belajar di PAR Alternatif Indonesia.
"PAR Alternatif ini menjadi wadah sekaligus punya dampak positif. Apalagi kontennya mengedukasi generasi muda untuk terlibat aktif dalam dunia hukum dan politik," tegasnya.