JATIMTIMES - Gelontoran investasi yang masuk ke Kota Malang sepanjang 2025 bukan sekadar angka di atas kertas. Nilai fantastis Rp3,11 triliun itu menjelma menjadi 11.307 peluang kerja bagi warga ber-KTP Kota Malang.
Data Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang mencatat, investasi yang terealisasi sepanjang 2025 berhasil menyerap tenaga kerja lokal dari berbagai sektor, mulai UMKM hingga industri skala besar.
Baca Juga : Sinergi APQ dan SCARVAL 2026 dengan Kemenag Kota Malang: Qur’an dan Dakwah Didekatkan Lewat Seni
Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, menyebut tingginya realisasi investasi berdampak langsung terhadap pembukaan lapangan kerja.
“Semakin tinggi investasi yang terealisasi, maka semakin besar pula peluang kerja yang terbuka bagi warga kita. Berdasarkan laporan satu data investasi, sudah mampu menyerap 11.307 tenaga kerja Kota Malang,” ujarnya.
Tak berhenti pada serapan tenaga kerja, efek berantai itu juga terlihat dari menurunnya angka pengangguran. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2025 berada di angka 5,69 persen. Angka tersebut turun dibanding 2024 yang mencapai 6,1 persen.
Menurut Arif, konsistensi kenaikan investasi dalam dua tahun terakhir menjadi sinyal positif. Pada 2024, realisasi investasi tercatat Rp2,96 triliun. Target 2025 yang dipatok Rp3,06 triliun bahkan terlampaui menjadi Rp3,11 triliun per 31 Desember 2025, berdasarkan rilis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
“Kota Malang termasuk yang diberi target kenaikan dua persen oleh kementerian. Rata-rata kota lain, kecuali Surabaya, hanya sekitar 0,5 sampai 1 persen,” ungkapnya.
Optimisme pun dipasang lebih tinggi pada 2026. Pemerintah Kota Malang membidik investasi menembus Rp3,4 triliun. Target tersebut diharapkan tak hanya mempertebal capaian statistik, tetapi kembali mendorong penurunan TPT dari angka 5,69 persen.
Baca Juga : Bupati Jember Bergerak Senyap Atasi Banjir, Tim Pemprov Jatim Inventarisir Kerusakan
Arif menegaskan, investasi bukan sekadar kompetisi nominal antar daerah. Yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Harapannya, dengan target Rp3,4 triliun di 2026, tingkat pengangguran terbuka kita juga bisa turun lagi,” tegasnya.
Di sisi lain, fondasi pertumbuhan investasi diperkuat melalui sistem Online Single Submission (OSS) yang berjalan sejak 2020 dan penerapan Risk Based Approach (RBA) pada 2022. Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat memetakan perkembangan usaha sekaligus mengukur kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja.
Hingga kini, tercatat hampir 90 ribu unit usaha di Kota Malang, mulai skala kecil hingga besar, yang terdata sejak era OSS hingga RBA. Angka itu menjadi cerminan denyut ekonomi kota pendidikan ini. Dimana setiap rupiah investasi diharapkan terus bertransformasi menjadi peluang kerja nyata bagi warganya.