JATIMTIMES — Drama kolosal “Alap-Alap Daidan PETA Blitar” menggema di halaman Museum PETA, Sabtu (14/2/2026) malam. Pementasan itu menjadi puncak peringatan Hari Cinta Tanah Air dan Perjuangan Tentara PETA Blitar ke-81. Pemerintah Kota Blitar memanfaatkan momentum sejarah tersebut untuk meneguhkan kembali semangat nasionalisme sekaligus mengajak generasi muda menerjemahkan nilai perjuangan dalam kerja pembangunan.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin yang akrab disapa Mas Ibin, menegaskan bahwa peristiwa 14 Februari 1945 bukan sekadar memori masa lampau.
“Peristiwa PETA bukan hanya catatan sejarah dalam buku sekolah. Ia adalah roh, identitas, dan kebanggaan warga Kota Blitar,” ujarnya di hadapan jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, kepala OPD, tokoh masyarakat, pelajar, serta masyarakat yang hadir langsung maupun menyaksikan melalui siaran langsung YouTube.

Menghidupkan Kembali Detik-Detik Heroik 1945
Tepat 81 tahun silam, Blitar menjadi saksi perlawanan tentara PETA di bawah komando Supriyadi. Para pemuda Daidan PETA mengangkat senjata melawan penjajah Jepang demi satu cita-cita: Indonesia merdeka. Meski dihadapkan pada kekuatan militer yang lebih besar, semangat mereka tidak surut.
“Di bawah kepemimpinan Supriyadi, para pemuda pemberani itu menunjukkan determinasi, keberanian, dan cinta tanah air yang melampaui kepentingan pribadi,” kata Mas Ibin. “Api perjuangan itu tidak boleh padam ditelan zaman.”
Melalui drama kolosal “Alap-Alap Daidan”, penonton diajak menyelami kembali detik-detik heroik perlawanan tersebut. Tata panggung yang menggambarkan markas PETA, dentuman efek suara, dan dialog penuh semangat menghadirkan suasana dramatis. Sorak “Merdeka!” bergema, membangkitkan rasa haru sekaligus kebanggaan sebagai warga Blitar.

Transformasi Nilai Perjuangan di Era Pembangunan
Menurut Mas Ibin, tantangan di era 2026 berbeda dengan situasi perang fisik 1945. Namun, nilai perjuangan tetap relevan. “Perjuangan kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata. Perjuangan kita adalah meningkatkan kualitas pendidikan, mengentaskan kemiskinan, dan memperkuat nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai kedisiplinan, loyalitas, dan heroisme para pejuang PETA harus ditransformasikan menjadi energi pembangunan. “Nilai-nilai itu yang harus kita wujudkan dalam kerja nyata membangun Kota Blitar yang lebih maju dan sejahtera,” kata dia.
Pemerintah Kota Blitar memandang pendekatan budaya sebagai medium efektif untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Karena itu, drama kolosal ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. “Melalui pertunjukan ini, kita memutar kembali memori kolektif bangsa. Kita ingin memastikan bahwa semangat Supriyadi dan para pahlawan tidak pernah padam,” ujar Mas Ibin.

Museum PETA dan Monumen Potlot, Jejak Sejarah yang Menguatkan
Di kawasan Museum PETA, berdiri pula Monumen Potlot, tempat pertama kali bendera Merah Putih dikibarkan oleh Shudanco Parto Harjono. Monumen tersebut diresmikan oleh Jenderal Soedirman sebagai bentuk penghormatan atas keberanian para pejuang. Keberadaan monumen itu memperkuat posisi Blitar sebagai kota dengan jejak sejarah perjuangan yang kokoh.
“Kita patut berbangga. Para pendahulu kita memiliki nasionalisme tinggi dan rela berkorban demi bangsa dan negara,” tutur Mas Ibin. Ia menambahkan, kebanggaan itu harus dirawat melalui pendidikan dan keteladanan.

Pesan untuk Generasi Muda: Jas Merah
Baca Juga : Pemkot Blitar Hidupkan Spirit Perjuangan Supriyadi Lewat Drama Kolosal “Alap-Alap Daidan PETA Blitar”
Secara khusus, Wali Kota menyampaikan pesan kepada generasi muda, terutama siswa siswi se Kota Blitar. Ia mengutip semboyan yang pernah disampaikan oleh Soekarno, Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah.
“Mengerti, mempelajari, menghayati, dan meneladani peristiwa sejarah sangat penting bagi kelangsungan bangsa ke depan,” ujarnya.
Pesan tersebut selaras dengan arah pembangunan Kota Blitar yang menempatkan penguatan karakter sebagai fondasi. Pemerintah kota tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan manusia melalui pendidikan, pengentasan kemiskinan, serta penguatan nilai kebangsaan.

Apresiasi untuk Seniman dan Komitmen Pembangunan Berbasis Nilai
Mas Ibin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman, budayawan, dan panitia yang terlibat. “Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras mewujudkan pertunjukan ini. Semoga pesan moral yang disampaikan dapat meresap, khususnya bagi generasi muda,” katanya.
Peringatan ke-81 PETA Blitar menjadi refleksi bahwa sejarah dapat menjadi energi positif untuk membangun masa depan. Pemerintah Kota Blitar memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat identitas daerah sekaligus meneguhkan komitmen pembangunan berbasis nilai perjuangan.
Di bawah langit malam Kota Blitar, bait penutup yang dibacakan Wali Kota menggema: burung alap-alap terbang tinggi, mengitari langit menembus cahaya; gelora perjuangan terus bersemi, bersatu padu menuju Indonesia jaya. Pesan itu menjadi simbol bahwa semangat 14 Februari 1945 tak berhenti sebagai cerita, melainkan hidup dalam denyut nadi pembangunan Kota Blitar hari ini.
Dengan menghidupkan kembali spirit “Alap Alap Daidan”, Pemerintah Kota Blitar menegaskan komitmennya untuk menjaga sejarah, memperkuat karakter generasi muda, dan membangun kota yang maju serta sejahtera, berlandaskan nasionalisme yang kokoh dan nilai perjuangan yang tak lekang oleh waktu.