JATIMTIMES - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik. Salah satunya dari dokter dan ahli gizi dr. Tan Shot Yen, M.Hum. Ia menilai pelaksanaan program tersebut justru memecah masyarakat di tingkat bawah. “Ini adalah politik devide et impera. Kenapa saya bilang begitu?” ujarnya, dikutip dari akun Instagram @watchdoc_insta, Selasa (10/2/2026).
dr. Tan menyoroti keterlibatan kader Posyandu dalam distribusi MBG. Menurutnya, kebijakan ini membuat kader terbelah antara yang tetap berpegang pada Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) dan yang menjalankan distribusi karena faktor ekonomi. “Sekarang kader posyandu dilibatkan sebagai orang yang ditugasi membagi MBG. Dan sehingga di kader posyandu mereka split.” jelasnya.
Baca Juga : Daftar 10 Finalis Terbaik Lomba Baca Berita Jatim Times 2026
Ia menyebut sebagian kader memilih mundur karena merasa bertentangan dengan prinsip konseling gizi yang selama ini mereka pegang. “Yang betul-betul masih setia dengan pendoman-pendoman PMBA, mereka mundur teratur. Saya takut jadi dosa karena bagi makanan yang sebetulnya waktu saya kasih konsoling ini gak begini bunyinya.” ungkapnya.
Sementara itu, ada kader yang tetap menjalankan tugas distribusi. “Nah sedangkan yang kader-kader yang memang butuh duit malah mengutip syahadat dari Dewan pakar. Jadi kalau ada orang yang mengadu atau bersyukur napa, bagus dikasih. Syukurlah Bapak. Kamu mesti syukur, Pak Prabowo.” tandasnya.
Ia juga menyinggung narasi yang menurutnya terus diulang. “Jadi itu ada syahadat-syahadat yang keluar dari orang-orang pentingnya dari BGN yang akhirnya dihafalkan mentah-mentah oleh para kadet ini.” ujarnya.
Menurut dr. Tan, perpecahan tak berhenti di level kader. Di kalangan ibu-ibu, perbedaan sikap terhadap MBG juga semakin tajam. “Nah, sekarang yang lebih ngeri lagi, di kalangan ibu-ibu juga dipecah. Sekarang yang tinggal dia lagi.” ungkapnya.
Ia menyebut ada ibu yang menilai isi paket MBG bermasalah dari sisi kesehatan. “Jadi ibu-ibu yang otaknya jalan, apalagi di bawah pimpinan Mbak Sari, mereka tentu akan mengatakan ini sampah. Ya kan, ngapain dimakan? Ya kan, isinya UPF, isinya gula. Ini adalah cairan MBDK, minuman batu manis dalam kemasan.” tandasnya.
Baca Juga : Kalender Jawa Selasa Pon 10 Februari 2026: Jangan Nekat Bepergian Jauh
Namun ada pula yang merasa terbantu secara finansial. “Tapi yang ono, yang sebelah sono mengatakan, kamu itu sok gaya, sok sehat. Kita mesti bersyukur, kita jadi gak usah keluar duit buat uang jajan anak.” ungkap dr. Tan.
Menurutnya, kondisi ini membuat masyarakat saling berhadap-hadapan. “Jadi mereka yang udah biasa jajanin anaknya di minimarket, itu justru masa beruntung. Karena mereka dapat biskuit, dapat coklat, dapat MBDK, dan mereka gak usah kasih uang.” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, dr. Tan menyampaikan kegelisahannya. “Jadi saya udah gak ngerti dengan tanah air kita lagi, dimana kita selalu dipecah belah seperti itu.” tutup dr. Tan.