JATIMTIMES - Pelaksanaan Mujahadah Kubro dalam rangka peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana pada 7-8 Februari 2026, memberikan dampak positif terhadap tingkat hunian hotel di Kota Malang. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang mencatat adanya peningkatan okupansi, khususnya di hotel-hotel yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, mengatakan peningkatan okupansi mulai terasa pada akhir pekan pelaksanaan kegiatan. Meski secara umum masih dalam kategori normal, sejumlah hotel mencatat lonjakan tamu yang berasal dari kalangan jemaah, pejabat, hingga petinggi organisasi NU.
Baca Juga : Dari Lumbung Desa ke Bank Tabungan: Transformasi Keuangan di Hindia Belanda
“Untuk Sabtu dan Minggu memang masih tergolong biasa, hanya saja ada peningkatan karena banyak tamu dari jamaah. Namun, yang paling banyak justru tamu dari pejabat, petinggi NU, maupun organisasi,” kata Agoes, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, hotel-hotel yang berada di sekitar Stadion Gajayana sebagai lokasi utama Mujahadah Kubro mengalami lonjakan okupansi cukup signifikan. Tingkat hunian di kawasan tersebut bahkan mencapai 90 hingga 100 persen pada 7 hingga 8 Februari.
Secara keseluruhan, rata-rata okupansi hotel di Kota Malang selama momentum kegiatan keagamaan tersebut berada di kisaran 70 hingga 80 persen. Meski demikian, tingkat hunian mulai mengalami penurunan pada 8 Februari, dengan rata-rata okupansi berada di angka 50 hingga 60 persen.
Selain sektor perhotelan, kegiatan Mujahadah Kubro juga berdampak pada sektor kuliner dan restoran. Namun, Agoes menyebut peningkatan kunjungan ke restoran tidak sebesar saat momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Hal itu dipengaruhi tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Harlah NU yang banyak disertai pembagian makanan gratis kepada jemaah.
“Untuk restoran juga meningkat, tetapi tidak sebagus momen Nataru. Karena banyak kegiatan yang membagikan makanan gratis, sehingga berpengaruh pada kunjungan ke restoran. Namun, itu tetap berdampak positif,” jelas Agoes.
Menurut Agoes, kondisi okupansi hotel di Kota Malang saat ini masih tergolong stabil. Selain dampak dari kegiatan Mujahadah Kubro, tingkat hunian juga didukung adanya agenda lain seperti kompetisi Proliga serta kegiatan pemerintahan yang berlangsung di Kota Malang.
Ia pun mendorong para pelaku usaha perhotelan untuk terus berinovasi dalam memberikan penawaran menarik guna menjaga tingkat hunian tetap stabil.
Baca Juga : 10 Jurusan SNBP dengan Persaingan Terketat, Cek Sebelum Daftar
“Hotel harus pandai-pandai memberikan penawaran dan promo agar okupansi tetap terjaga,” kata Agoes.
Terpisah, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama, Sugito Adhi, mengaku bahwa hotel yang menjadi penginapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 7-8 Februari mencatat tingkat hunian maksimal selama puncak kegiatan Mujahadah Kubro.
“Untuk periode 7 hingga 8 Februari, Grand Mercure Malang Mirama dalam kondisi full occupied. Tingginya permintaan kamar didominasi tamu yang menghadiri rangkaian kegiatan Harlah Satu Abad NU,” terang Sugito.
Ia menambahkan, momentum kegiatan berskala nasional tersebut memberikan dampak signifikan terhadap sektor perhotelan, khususnya hotel berbintang yang menjadi rujukan tamu VIP, pejabat negara, serta rombongan organisasi.
Sugito juga menilai kegiatan Mujahadah Kubro Satu Abad NU menjadi momentum positif dalam mendorong pergerakan sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Ia berharap kegiatan berskala nasional maupun internasional dapat terus digelar di Kota Malang untuk menjaga stabilitas tingkat hunian hotel serta pertumbuhan industri pariwisata.