JATIMTIMES - Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Wilayah Jawa Timur di Kota Malang kembali menjadi titik temu sejarah persaudaraan lintas iman. Di tempat inilah jejak pengabdian Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terawat rapi, dikenang, dan disusuri ulang pada rangkaian Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama.
Sejak pagi hingga malam, para Nahdliyin tampak bergiliran menapaki ruangan demi ruangan di kantor tersebut. Perhatian mereka tertuju pada ruang peristirahatan Gus Dur yang selama puluhan tahun tetap dijaga keasliannya. Di dalamnya, bendera Merah Putih dan bendera NU terpasang berdampingan, ditemani foto-foto Gus Dur saat beraktivitas di Kantor Majelis Agung GKJW Malang.
Baca Juga : Ribuan Jamaah Mujahadah Kubro dari Surabaya Transit di GKJW Malang, Disambut Hangat Biarawati
Momen napak tilas itu kian terasa istimewa karena kantor GKJW juga menjadi tempat transit sekitar 1.200 jemaah dari PCNU Kota Surabaya. Para jemaah singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Stadion Gajayana untuk mengikuti rangkaian Mujahadah Kubro 1 Abad NU yang berlangsung pada 7 hingga 8 Februari 2026.
Ketua Majelis Agung GKJW Pendeta Natanael Hermawan menuturkan bahwa hubungan antara GKJW, umat Kristen, dan Nahdlatul Ulama bukanlah hubungan yang lahir tiba-tiba. Menurutnya, relasi itu berakar kuat dalam sejarah panjang yang saling bersisian.
“NU berdiri pada 1926 dari Tebuireng, Jombang. Sementara GKJW berdiri pada 1931 dari Mojowarno, Jombang. Sama-sama Jombang dan rentang waktunya tidak berbeda jauh,” ujar Pendeta Natanael, Minggu 8 Februari 2026 dini hari.
Ia menjelaskan, salah satu simpul sejarah paling penting adalah masa pengabdian Gus Dur di Kantor Majelis Agung GKJW Wilayah Jawa Timur. Pada kurun waktu 1974 hingga 1981, Gus Dur tercatat mengajar Teologi Islam atau Islamologi kepada para pendeta GKJW.
“Beliau memiliki pemahaman yang sangat terbuka. Gus Dur berpendapat, jika ingin belajar tentang Islam, maka pengajarnya harus seorang Muslim. Begitu pula jika belajar tentang Kristen, seharusnya diajarkan oleh orang Kristen. Prinsip itu beliau praktikkan langsung di sini,” jelasnya.
Bagi GKJW, kehadiran Gus Dur bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol kepercayaan dan dialog yang hidup. Hingga kini, ruang istirahat dan ruang kelas yang pernah digunakan Gus Dur tetap dirawat dengan penuh kehati-hatian.
Baca Juga : Gelombang Jemaah NU Terus Mengalir ke Malang Jelang Mujahadah Kubro 1 Abad
“Ada ruangan khusus tempat beliau beristirahat, lengkap dengan meja dan kursi yang masih kami jaga. Ruang kelas tempat beliau mengajar juga tetap kami rawat karena ini sangat berharga bagi kami,” ungkap Natanael.
Ia menambahkan, setelah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, almarhum Gus Dur juga sempat kembali mengunjungi Kantor Majelis Agung GKJW untuk mengenang masa-masa pengabdiannya di Malang. Pendeta Natanael menegaskan bahwa napak tilas ini bukan semata nostalgia, melainkan pengingat bagi generasi hari ini untuk terus menjaga persaudaraan lintas iman yang telah diwariskan.
“Peristiwa ini menjadi napak tilas kami terhadap sejarah persaudaraan yang sudah terjalin. Harapannya, baik GKJW, umat Kristen, maupun Nahdlatul Ulama dapat terus merawat relasi ini sebagai bagian dari anak bangsa, khususnya di Jawa Timur dan lebih khusus lagi di Kota Malang,” tandasnya.
Jejak Gus Dur di GKJW Malang pun kembali menegaskan bahwa dialog, keterbukaan, dan persaudaraan lintas iman bukan sekadar gagasan. Nilai-nilai itu telah hidup, dipraktikkan, dan diwariskan jauh sebelum gaung 1 Abad NU menggema di Kota Malang.