Benarkah Real Foods Cuma Makanan Dikukus dan Direbus? Dokter Ungkap Faktanya
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
29 - Jan - 2026, 11:03
JATIMTIMES - Istilah real foods belakangan makin sering terdengar di media sosial, terutama di kalangan pegiat hidup sehat. Banyak orang mulai berlomba-lomba mengganti makanan olahan dengan makanan yang dianggap “lebih alami”. Namun, ternyata pemahaman soal real foods masih sering keliru.
Certified Nutrition & Health Coach sekaligus dokter umum, dr Dion Haryadi, mengingatkan bahwa real foods bukan berarti makanan yang harus selalu dikukus atau direbus saja.
Baca Juga : 10 Tradisi Tahun Baru Imlek di Indonesia yang Sarat Makna dan Harapan Baik
“Real foods itu makanan yang paling mendekati bentuk aslinya tanpa proses pengolahan yang berlebihan. Jadi contohnya yah daging, telur, sayur, tempe yang ditambahin seasonings lalu dimasak sederhana, dikukus, rebus, tumis, panggang, goreng, oven, airfry,” jelas dr Dion.
Artinya, metode memasak bukan satu-satunya penentu apakah makanan itu termasuk real foods atau tidak.
Menurut dr Dion, salah kaprah paling sering muncul ketika orang menganggap real foods hanya sebatas makanan yang dimasak dengan cara “sehat” seperti direbus atau dikukus.
“Nah, salah paham yang sering saya liat adalah anggapan bahwa real foods itu CUMA makanan yang dikukus atau direbus saja. Padahal sebenarnya digoreng, dibakar, ditumis, airfry, itu juga masih real foods semuanya,” tegasnya.
Jadi, ayam yang dipanggang, tempe yang ditumis, hingga telur yang digoreng pun tetap bisa masuk kategori real foods selama bahan dasarnya masih alami dan tidak melalui proses pengolahan berlebihan.
Meski sering dianggap sebagai pilihan terbaik, dr Dion menekankan bahwa real foods pun tidak otomatis selalu sehat jika pola makan tidak seimbang.
“Salah paham berikutnya yang sering muncul adalah bahwa cuma makanan real foods yang terbaik dan sudah pasti sehat. Padahal yah belum tentu juga, kalau kamu makan real foods doang tapi pola gizinya gak seimbang,” ujarnya.
Ia mencontohkan, seseorang bisa saja makan makanan rebusan setiap hari, tetapi jika hanya karbohidrat saja dan kurang protein, hasilnya tetap tidak baik bagi kesehatan.
“Kukusan terus tapi cuma karbo doang, dikonsumsi berlebihan, proteinnya kurang, yah bisa jadi gak sehat juga,” tambahnya.
Di sisi lain, dr Dion juga mengingatkan bahwa makanan olahan atau processed foods tidak serta-merta harus dijauhi sepenuhnya.
Ia mencontohkan roti sebagai salah satu makanan olahan yang masih bisa dikonsumsi dengan bijak.
“Di lain sisi, tetap makan processed foods kayak roti (atau kayak yang di video, KOK ENAK BANGET ITU HEI) juga gak akan bikin kamu langsung gak sehat,” katanya.
Baca Juga : Kronologi Suami Boiyen Rully Anggi Akbar Dilaporkan Polisi soal Dugaan Penipuan Investasi
Kuncinya adalah tanggung jawab dalam konsumsi, termasuk memperhatikan porsi dan frekuensi. “Apalagi kalau kamu mengkonsumsinya secara bertanggung jawab, kamu tahu batasan porsi dan frekuensinya,” jelas dr Dion.
Ia menyarankan agar makanan olahan tetap dikombinasikan dengan asupan lain yang bergizi. “Dimakan sama bahan makanan lain dengan protein, lemak dan serat yang cukup,” lanjutnya.
Dr Dion menilai, terlalu fokus pada label real foods atau bukan justru bisa membuat orang makin bingung dan tidak membantu membangun pola makan sehat.
“Pengkotak2an real foods atau bukan itu juga kurang efektif dalam membantu kamu makan lebih baik, lebih sehat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tidak semua real foods pasti sehat, dan tidak semua makanan olahan pasti buruk. “Gak semua real foods pasti sehat, gak semua processed foods atau UPF pasti gak sehat,” ujarnya.
Bahkan, penamaan seperti ini kadang membuat orang salah menilai makanan tertentu. “Penamaan begini juga bikin orang bingung, perkara nugget homemade aja bisa dibilang gak sehat karena namanya nugget. Padahal bahan-bahannya semua dari real foods,” jelasnya.
Pada akhirnya, dr Dion menekankan bahwa pola makan terbaik bukan hanya soal “paling sehat di atas kertas”, tetapi juga yang realistis dan bisa dijalankan dalam jangka panjang. “Pola makan yang terbaik itu yang tentunya menyehatkan tapi juga bisa kita jalankan jangka panjang,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa makanan bukan sekadar soal gizi, tapi juga bagian dari kehidupan sosial. “Makanan itu bukan cuma gizi, makanan juga berkumpul bersama keluarga dan teman-teman, makanan juga soal pengalaman dan memori,” kata dr Dion.
Karena itu, menikmati makanan olahan sesekali pun tidak masalah selama tetap bertanggung jawab. “Dan seringkali processed foods juga masih masuk di situ dan gak ada salahnya kok menikmatinya secara bertanggung jawab," pungkas dr. Dion.
