Mengapa Gempa Magnitudo 3.5 Tetap Perlu Diwaspadai? Ini Penjelasan BMKG

Reporter

Pipit Anggraeni

Editor

Redaksi

19 - Jan - 2026, 03:16

Ilustrasi (Foto: Unsplash)


JATIMTIMES - Gempa bumi bermagnitudo 3,5 mengguncang wilayah Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Selasa (13/1/2026) dini hari. Dikutip dari portal informasi terpercaya Info Sulawesi, BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 00.52.36 WIB dengan pusat gempa berada di koordinat 3,52 Lintang Utara dan 126,87 Bujur Timur, sekitar 57 kilometer tenggara Melonguane. 

Kedalaman Gempa Magnitudo 3.5 Guncang Melonguane tercatat 23 kilometer, sehingga dikategorikan sebagai gempa dangkal yang umumnya lebih mudah dirasakan oleh masyarakat meskipun magnitudonya relatif kecil.

Baca Juga : Diskopindag Kota Malang Waspadai Lonjakan Harga Sembako di Awal Tahun

Kondisi ini kembali mengingatkan masyarakat bahwa gempa berskala kecil sekalipun tidak boleh diabaikan.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan berdasarkan laporan awal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa setiap aktivitas seismik tetap perlu diwaspadai sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.

BMKG menjelaskan bahwa gempa bermagnitudo kecil hingga menengah merupakan fenomena yang wajar di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi seperti Sulawesi Utara.  

Kawasan ini dipengaruhi oleh interaksi beberapa lempeng tektonik dan sesar aktif, sehingga potensi gempa bisa terjadi kapan saja dengan skala yang bervariasi.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan bahwa rilis cepat informasi gempa bertujuan memberikan gambaran awal kepada masyarakat. 

Data tersebut masih dapat berubah seiring proses pemutakhiran dan analisis lanjutan, namun tetap penting sebagai dasar kewaspadaan awal.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa kesiapsiagaan masyarakat tidak boleh hanya bergantung pada teknologi peringatan dini semata. 

Menurutnya, pemahaman publik terhadap risiko bencana justru menjadi kunci utama keselamatan.

“Untuk dapat menyelamatkan diri pada saat terjadi bencana, jangan merasa puas hanya dengan teknologi karena teknologi selalu memiliki keterbatasan,” ujar Dwikorita Karnawati dalam pernyataan resminya terkait edukasi kesiapsiagaan bencana.

Baca Juga : Wanita Diduga Meloncat di Jembatan Suhat Dini Hari Tadi, Begini Kronologinya

Hal tersebut relevan dengan kejadian gempa Melonguane, di mana meskipun magnitudo tergolong kecil, masyarakat tetap diimbau memahami langkah-langkah dasar penyelamatan diri saat gempa terjadi.

Respons cepat warga yang memantau informasi resmi BMKG melalui kanal digital juga dinilai sebagai bentuk kesadaran bencana yang positif.

Pemerintah daerah bersama BMKG terus memperkuat koordinasi dan edukasi kebencanaan, terutama di wilayah rawan gempa. 

Upaya ini mencakup penyebaran informasi yang akurat, latihan kesiapsiagaan, serta peningkatan pemahaman masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada.

BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut memang tidak menimbulkan dampak signifikan, tetapi tetap menjadi sinyal aktivitas alam yang perlu dicermati.

Kewaspadaan, literasi kebencanaan, dan kesiapan menghadapi situasi darurat menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko apabila gempa dengan skala lebih besar terjadi di masa mendatang.

.


Topik

Peristiwa, gempa, magnitudo, becana, peristiwa,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette