Industri Infrastruktur Digital Dituntut Kelola Dampak Lingkungan, TBIG Integrasikan Prinsip ESG Lintas Sektor
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
08 - Jul - 2026, 05:26
JATIMTIMES – Praktik bisnis modern saat ini menuntut korporasi tidak hanya fokus pada perolehan laba semata namun juga kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Salah satunya sektor infrastruktur telekomunikasi menghadapi tekanan regulasi yang ketat untuk mengintegrasikan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) guna memitigasi risiko non-finansial jangka panjang.
Tantangan ini direspons oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan merombak model bisnis perluasan jaringan digital agar selaras dengan pengelolaan dampak ekologi.
Baca Juga : Pelatihan Manajer Kopdes Dikritik: Anggaran Latsarmil Malah Lebih Besar dari Materi Koperasi
"Setiap program CSR harus memberikan manfaat nyata dan menciptakan perubahan positif bagi masyarakat," ujar Head of CSR Department TBIG, Arief Wibisono, dalam kelas Journalism Fellowship on CSR (JFC) III Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), belum lama ini.
Sektor penyedia menara telekomunikasi sering kali dikritik akibat tingginya konsumsi energi serta jejak material pembangunan, sehingga penataan sistem operasional yang transparan menjadi tuntutan wajib demi menjaga stabilitas valuasi saham perusahaan.
"Langkah mitigasi dampak lingkungan tersebut diwujudkan secara struktural melalui optimalisasi model bisnis kolokasi dan berbagai menara (tower sharing)," katanya.
Melalui metode ini, sambungnya, duplikasi material konstruksi dapat ditekan secara signifikan yang secara inheren langsung meminimalkan emisi karbon dari proses pembangunan fisik di lapangan.
Komitmen pengelolaan lingkungan ini dipertegas melalui penyusunan peta jalan menuju target net zero emission yang diproyeksikan terealisasi penuh pada tahun 2040 mendatang.
Transparansi TBIG dalam melaporkan indikator keberlanjutan tersebut berbuah capaian peringkat Gold Rank dalam ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT).
Di sisi lain, ekspansi infrastruktur telekomunikasi di wilayah pelosok kerap kali bersinggungan langsung dengan dinamika sosial masyarakat lokal.
Baca Juga : FIA UB Subsidi Sertifikasi BNSP, Bekali Mahasiswa Lebih Siap Masuk Dunia Kerja
Penanganan risiko di sekitar area operasional menara menuntut korporasi menciptakan program yang terukur dan berdampak konkret agar tidak memicu masalah sosial. Untuk itu, melalui pendekatan inovatif yang berorientasi pada penciptaan nilai bersama atau creating shared value perusahaan mengemas program corporate social responsibility ke dalam pilar-pilar yang terukur.
Sebagai langkah taktis perbaikan kualitas hidup di sekitar menara operasional, perusahaan mengoperasikan Mobil Klinik (Monik) guna menjangkau wilayah minim fasilitas.
Langkah intervensi kesehatan dasar serta program pemberdayaan ekonomi inklusif melalui wadah Rumah Batik bagi generasi muda dinilai sangat krusial dalam membentuk kemandirian daerah.
"Kolaborasi antara TBIG dan mitra strategis ini bertujuan menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan pemangku kepentingan," jelas Direktur Filantra, Asep Nurdin, selaku mitra strategis lapangan.
Ia menjelaskan, penyelarasan antara kinerja finansial, pengurangan dampak emisi, dan penanganan ketimpangan sosial ini pada akhirnya menjadi standar baku baru bagi industri infrastruktur digital di Indonesia. Dikatakannya, tata kelola bisnis yang bertanggung jawab merupakan instrumen penting untuk memenangkan kepercayaan pasar modal dan menjaga daya dukung lingkungan demi masa depan.
