Kurikulum Teknik Lingkungan UIN Malang Didorong Berubah, Tekanan Isu Lingkungan Kian Kompleks

08 - Apr - 2026, 11:00

Review Kurikulum bertema “Penguatan Kurikulum Teknik Lingkungan Berbasis Pemodelan untuk Menjawab Tantangan Kualitas Lingkungan Modern” (ist)


JATIMTIMES - Tekanan persoalan lingkungan yang semakin rumit mulai memaksa dunia pendidikan bergerak lebih cepat. Di tengah meningkatnya kasus pencemaran udara, air, dan tanah, kurikulum pendidikan tinggi dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan analisis berbasis data yang dibutuhkan di lapangan.

Situasi ini turut menjadi sorotan di lingkungan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. Program Studi Teknik Lingkungan menilai ada celah antara materi pembelajaran dengan kompleksitas persoalan riil yang terus berkembang, terutama dalam kemampuan mahasiswa membaca, memodelkan, dan memprediksi kualitas lingkungan.

Baca Juga : Harga Avtur Melonjak 70 Persen, Tiket Pesawat Naik Berapa?

Kesenjangan tersebut mengemuka dalam forum internal review kurikulum bertema “Penguatan Kurikulum Teknik Lingkungan Berbasis Pemodelan untuk Menjawab Tantangan Kualitas Lingkungan Modern” yang digelar pada Selasa, 7 April 2026. Meski hanya diikuti delapan peserta dari kalangan dosen dan pemangku kepentingan internal, diskusi justru mengerucut pada persoalan mendasar, yakni relevansi kurikulum terhadap kebutuhan industri dan tantangan global.

1

Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Aulia Fikriarini Muchlis, mengakui bahwa pembaruan kurikulum tidak bisa lagi diposisikan sebagai rutinitas administratif. Ia menilai, perubahan harus diarahkan pada kemampuan lulusan agar tidak tertinggal dari perkembangan ilmu dan kebutuhan dunia kerja.

“Kurikulum harus mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Isu lain yang mengemuka adalah pendekatan pembelajaran yang dinilai masih terlalu bertumpu pada konsep dasar, sementara persoalan lingkungan modern menuntut kemampuan analisis berbasis data dan prediksi. Dalam konteks ini, pendekatan pemodelan kualitas lingkungan mulai dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan lagi pelengkap.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Evy Hendriarianti yang hadir sebagai narasumber. Ia menyoroti bahwa tanpa integrasi pemodelan, lulusan berisiko hanya memahami teori tanpa kemampuan membaca dinamika lingkungan secara komprehensif.

“Kurikulum Teknik Lingkungan pada dasarnya bersifat dinamis dan harus selalu berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks tantangan kualitas lingkungan modern yang semakin kompleks, penguatan implementasi berbasis pemodelan menjadi sangat penting agar lulusan tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melakukan analisis dan prediksi secara komprehensif,” jelasnya.

Baca Juga : Gagal SNBP dan SPAN PTKIN 2026? Tenang Jalur UM-PTKIN Buka Pekan Depan, Cek Jadwalnya

Selain itu, standar nasional dan global juga menjadi tekanan tersendiri. Kurikulum yang ada saat ini harus mengacu pada pedoman asosiasi keilmuan hingga kriteria akreditasi internasional seperti IABEE dan ABET. Namun, penyelarasan tersebut tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika dihadapkan pada kebutuhan industri yang bergerak lebih cepat.

Diskusi juga menyinggung perlunya perombakan struktur pembelajaran, baik melalui penguatan materi pada mata kuliah yang sudah ada maupun pembukaan mata kuliah baru yang lebih aplikatif. Tanpa langkah tersebut, kemampuan analisis berbasis teknologi dikhawatirkan tetap menjadi titik lemah lulusan.

Hasil forum ini tidak hanya melahirkan rekomendasi teknis, tetapi juga menegaskan adanya dorongan perubahan yang lebih mendasar. Kurikulum diharapkan tidak sekadar mengikuti standar, tetapi mampu merespons realitas persoalan lingkungan yang terus berubah.

Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, tantangan bagi pendidikan tinggi tidak lagi sebatas mengajarkan teori. Lebih dari itu, perguruan tinggi dituntut mampu melahirkan lulusan yang bisa membaca pola, memprediksi dampak, dan menawarkan solusi berbasis data.


Topik

Pendidikan, uin malang, universitas islam negeri malang, teknik lingkungan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette