Lebaran 2026 Hari Apa? Ini Prediksi BRIN, BMKG, Muhammadiyah hingga Pemerintah dan NU
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
16 - Mar - 2026, 05:36
JATIMTIMES - Umat Islam di Indonesia mulai menunggu kepastian kapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 akan dirayakan. Menjelang akhir Ramadan, pertanyaan mengenai tanggal 1 Syawal kembali menjadi perbincangan.
Penetapan awal Syawal menjadi momen penting karena menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan sekaligus dimulainya Hari Raya Idul Fitri. Karena itu, banyak masyarakat menanti keputusan resmi pemerintah.
Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku
Di Indonesia, penentuan awal bulan Hijriah biasanya diputuskan melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam sidang tersebut, pemerintah menggunakan dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Hasil perhitungan posisi Bulan akan dipadukan dengan laporan pengamatan hilal dari berbagai wilayah sebelum pemerintah menetapkan tanggal resmi Lebaran.
Meski begitu, sejumlah lembaga dan organisasi Islam telah lebih dulu menyampaikan prediksi mereka mengenai kapan Idul Fitri 1447 Hijriah kemungkinan jatuh. Perbedaan metode yang digunakan membuat tanggal Lebaran berpotensi berbeda.
Berikut prediksi Lebaran 2026 dari berbagai lembaga, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.
1. BRIN
Menurut perhitungan astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Idul Fitri 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan posisi hilal pada 19 Maret 2026 saat waktu Maghrib di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria yang digunakan negara-negara anggota MABIMS.
Kriteria MABIMS sendiri digunakan oleh negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Kriteria tersebut menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal dianggap mungkin terlihat.
"Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026," kata Thomas dalam tulisan di blognya pada Juni 2025.
Thomas menambahkan, jika menggunakan kriteria lain seperti yang dipakai di Turki, hasilnya bisa berbeda. "Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026," tambahnya.
2. BMKG
Perkiraan serupa juga muncul dari data astronomi milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan perhitungan BMKG, posisi hilal pada 19 Maret 2026 saat pengamatan direncanakan kemungkinan belum memenuhi kriteria MABIMS.
Ketinggian hilal saat Matahari terbenam diperkirakan berada di kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.
Sementara itu, elongasi geosentrisnya diperkirakan berada pada rentang 4,54 derajat di Waris, Papua hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.
BMKG juga mengingatkan bahwa dalam proses rukyat, pengamat harus memperhatikan kemungkinan adanya objek astronomi lain seperti planet atau bintang terang yang posisinya berdekatan dengan Bulan. Objek tersebut bisa saja disalahartikan sebagai hilal.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
Jika hilal benar-benar tidak terlihat pada 19 Maret, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari dan Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
3. Muhammadiyah
Berbeda dengan prediksi di atas, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026.
Penetapan tersebut menggunakan metode hisab yang mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Dengan metode tersebut, Muhammadiyah tidak menunggu hasil rukyat hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah.
Perbedaan metode inilah yang membuat kemungkinan perbedaan tanggal Lebaran di Indonesia masih terbuka.
4. Pemerintah dan NU
Sementara itu, pemerintah baru akan memastikan tanggal resmi Lebaran melalui sidang isbat.
Kementerian Agama Republik Indonesia dijadwalkan menggelar sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah pada 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 Hijriah. Sidang tersebut akan berlangsung di Jakarta mulai pukul 16.00 WIB.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan keputusan penetapan awal Syawal akan diambil berdasarkan kombinasi data hisab dan hasil rukyatul hilal.
"Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik," ujarnya.
Sambil menunggu hasil sidang isbat, perkiraan tanggal Lebaran versi pemerintah juga dapat dilihat di Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama.
Dalam kalender tersebut, tertulis bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Informasi yang sama juga tercantum dalam Almanak 2026 yang diterbitkan Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Bojonegoro.
Dengan demikian, kemungkinan besar Lebaran 2026 jatuh pada 20 atau 21 Maret 2026, tergantung metode penetapan yang digunakan. Kepastian resminya tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
