Guru Besar FSTeM UB Prof Fatchiyah Bawa Isu Nutrigenomik ke Forum Internasional Malaysia
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
12 - Aug - 2026, 06:27
JATIMTIMES - Persoalan penyakit metabolik tidak lagi cukup dijelaskan hanya dari pola makan dan gaya hidup. Perbedaan respons tubuh terhadap makanan membuat pendekatan gizi mulai bergerak menuju pemahaman yang lebih personal dengan melihat hubungan antara nutrisi dan genom manusia.
Isu inilah yang dibawa Guru Besar Genetika Molekuler Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dra. Fatchiyah, M.Kes., Ph.D., dalam forum The 6th Seminar on Biological Security and Sustainability (BIOSES 2026) di Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Kuala Terengganu, Malaysia.
Baca Juga : Jaga Marwah Muktamar NU ke 35, Kedepankan Bashiroh Dibanding Bisyaroh
Prof. Fatchiyah, yang juga Ketua Program Studi S1-Bioinformatika FSTeM UB, hadir sebagai invited speaker pada 4 hingga 6 Agustus 2026. Ia membahas “Nutrigenomics: Deciphering the Molecular Interplay Between Diet and the Genome in Disease Modulation”, yang menguraikan hubungan molekuler antara makanan, genom dan modulasi penyakit.
“Ilmu gizi tradisional sedang mengalami pergeseran paradigma, dari pedoman diet umum yang bersifat seragam atau one-size-fits-all menuju ilmu presisi yang dikenal sebagai nutrigenomik,” kata Fatchiyah.
Pergeseran tersebut berangkat dari kenyataan bahwa makanan yang sama tidak selalu menghasilkan respons biologis yang sama pada setiap orang. Faktor genetik ikut menentukan bagaimana tubuh merespons zat gizi maupun senyawa bioaktif yang masuk melalui makanan.
Nutrigenomik kemudian mencoba membaca hubungan tersebut pada tingkat molekuler. Kandungan senyawa aktif dalam makanan, baik berasal dari tumbuhan maupun hewan, dipelajari interaksinya dengan genom dan pengaruhnya terhadap ekspresi gen yang berkaitan dengan penyakit.
Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika pola hidup sehat semakin populer, tetapi penyakit metabolik dan degeneratif tetap menjadi persoalan di berbagai belahan dunia. Perbedaan budaya pangan antara masyarakat Barat dan Timur juga belum menunjukkan perbedaan signifikan dalam persoalan tersebut.
Masyarakat Timur, khususnya di wilayah tropis, memiliki sumber pangan yang relatif beragam. Rempah-rempah dan berbagai bahan alam menjadi bagian dari tradisi konsumsi. Namun, kekayaan bahan pangan tersebut tidak dengan sendirinya menghilangkan risiko penyakit metabolik.
“Peningkatan jumlah penderita penyakit metabolik di kedua belahan bumi itu tidak berbeda secara signifikan. Adanya perkembangan IPTEK saat ini menunjang pengembangan ilmu gizi menjadi ilmu nutrigenomik dan nutrigenetik yang mengupas lebih dalam faktor makanan penyebab penyakit metabolik atau degeneratif serta mekanisme metabolisme tubuh,” jelasnya.
Di sinilah nutrigenomik dan nutrigenetik menawarkan sudut pandang berbeda terhadap persoalan gizi. Nutrigenomik berfokus pada bagaimana komponen makanan dapat memengaruhi gen yang berkaitan dengan penyakit. Sementara nutrigenetik melihat bagaimana variasi genetik seseorang dapat digunakan untuk menentukan pola konsumsi yang lebih sesuai.
Pendekatan tersebut berpotensi mengubah konsep rekomendasi makanan yang selama ini cenderung bersifat umum menjadi lebih individual. Profil genetik seseorang dapat menjadi salah satu dasar untuk memahami kebutuhan dan respons tubuh terhadap makanan.
Perkembangan teknologi membuat pendekatan itu semakin luas. Data genomik, proteomik dan metabolomik dapat digabungkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi biologis seseorang. Kecerdasan buatan kemudian membuka kemungkinan untuk mengolah kumpulan data tersebut dalam skala yang lebih besar.
“Dengan menyelaraskan asupan nutrisi dan profil genetik unik individu, nutrigenomik menawarkan pendekatan transformatif berbasis bukti untuk mencegah penyakit kronis dan meningkatkan kesehatan global,” ujar Fatchiyah.
Persoalan gizi juga tidak hanya berkaitan dengan zat yang menghasilkan energi. Tubuh membutuhkan berbagai mikronutrien, termasuk mineral dan vitamin, untuk menjalankan fungsi fisiologis.
Kebutuhan setiap mineral berbeda. Sodium dan kalsium dibutuhkan dalam jumlah gram per hari, zat besi dalam ukuran miligram, sementara sejumlah elemen lainnya hanya diperlukan dalam ukuran mikrogram. Vitamin pun dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi berperan dalam menjaga fungsi tubuh dan integritas metabolisme.
Sejumlah vitamin tidak dapat disintesis tubuh dalam jumlah yang mencukupi sehingga harus diperoleh melalui makanan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hubungan makanan dan tubuh tidak sesederhana persoalan jumlah kalori atau kandungan gizi.
Baca Juga : Dari Petani hingga Tukang Becak, Wali Kota Blitar Serahkan Santunan JKM kepada Ahli Waris
Isu berikutnya yang muncul adalah bagaimana pengetahuan mengenai nutrisi pada tingkat seluler dapat diterjemahkan menjadi produk. Persoalan itu turut dibahas Prof. Fatchiyah ketika memberikan kuliah dalam agenda Guest Lecturer di Fakulti Sains dan Sekitaran Marine (FSSM) UMT.
Ia mengangkat tema “Innovation Key: Transforming the Science of Cellular Nutrition Toward Sustainability in Natural Cosmetics”. Fokusnya berkaitan dengan bagaimana hasil penelitian biologi dan biomedik dapat dikembangkan menjadi inovasi, termasuk produk kosmetik berbasis bahan alami.
Diskusi dengan mahasiswa kemudian mengarah pada persoalan hilirisasi. Mahasiswa mempertanyakan strategi yang diperlukan agar sebuah temuan ilmiah tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang memiliki peluang masuk pasar.
Persoalan tersebut menjadi penting karena salah satu tantangan dunia akademik bukan hanya menghasilkan temuan, tetapi juga menjembatani jarak antara laboratorium dan kebutuhan masyarakat maupun industri.
Di UMT, mahasiswa menjalani pembelajaran berbasis mini proyek. Prosesnya dimulai dari pencarian ide, penyusunan rencana, eksekusi pembuatan produk hingga menghasilkan produk jadi dan prototipe.
“Yang menarik, mata kuliah mereka hampir sama dengan mata kuliah kewirausahaan di UB, tetapi berlangsung seratus persen dalam bentuk mini proyek. Dimulai dengan ide, perencanaan, eksekusi pembuatan produk jadi, dan prototipe produk,” tutur Fatchiyah.
Dua isu tersebut, nutrisi presisi dan hilirisasi riset, memperlihatkan perkembangan baru dalam hubungan antara sains, kesehatan dan industri. Nutrigenomik tidak hanya membuka peluang memahami penyebab penyakit dari sisi genetik, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan intervensi yang lebih personal.
Sementara riset nutrisi seluler dapat menjadi dasar bagi pengembangan produk berbasis bahan alam apabila didukung proses hilirisasi yang memadai.
Kiprah Prof. Fatchiyah di UMT sekaligus menjadi bagian dari UB PIONEER (Universitas Brawijaya Professors' International Outreach Network), program yang dirancang untuk memperluas jejaring internasional UB melalui keterlibatan sekitar 50 hingga 100 profesor dari berbagai fakultas, sekolah vokasi dan pascasarjana.
Dalam konteks tersebut, isu yang dibawa FSTeM UB bukan sekadar pertukaran materi akademik. Genetika molekuler, nutrigenomik, nutrigenetik, kecerdasan buatan dan hilirisasi riset bertemu dalam satu persoalan besar: bagaimana ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk memahami risiko penyakit sekaligus menghasilkan solusi kesehatan yang lebih tepat bagi individu.
Pembahasan itu memiliki irisan dengan SDGs 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, SDGs 8 mengenai pertumbuhan ekonomi, serta SDGs 9 yang berkaitan dengan industri, inovasi dan infrastruktur.
