Praktisi Pendidikan Ungkap 70 Persen Anak Indonesia Alami Buta Huruf Fungsional

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

15 - Jul - 2026, 09:42

Potret anak membaca. (Foto: Shutterstock)


JATIMTIMES - Video praktisi pendidikan Indra Charismiadji yang membahas kondisi pendidikan Indonesia tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video yang diunggah akun @sintesis.idn, Indra menyoroti data Bank Dunia (World Bank) yang menyebut sekitar 70 persen anak Indonesia usia 10 tahun mengalami buta huruf fungsional (functional illiteracy).

Pernyataan itu sontak memicu perdebatan di media sosial. Bukan hanya karena angka yang disebut cukup tinggi, tetapi juga lantaran Indra melontarkan kritik terhadap kondisi pendidikan di Tanah Air.

Baca Juga : 5 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Membuat Anak Tumbuh Mandiri, Orang Tua Wajib Tahu

"Yang saya takutkan jangan-jangan memang didesain buat bangsa ini bodoh dan miskin. Karena banyak pihak yang mengambil keuntungan dengan membuat bangsa ini bodoh dan miskin," ujar Indra dalam video tersebut.

Menurut dia, persoalan kualitas pendidikan di Indonesia sudah berlangsung cukup lama. Namun, banyak masyarakat yang belum menyadari kondisi tersebut karena menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

"Kita sudah 20 tahun lebih pendidikannya terburuk. Masyarakat nggak menyadari itu karena dianggap biasa-biasa saja. Padahal faktanya kita itu membaca saja nggak bisa," katanya.

Dalam penjelasannya, Indra mengutip indikator learning poverty yang dirilis World Bank. Ia menyebut angka Indonesia berada di kisaran 70 persen.

"Learning poverty kita itu level 70 persen. Artinya anak usia 10 tahun, 7 dari 10 dari mereka nggak bisa baca." jelasnya. 

Saat pewawancara memastikan kembali maksud pernyataan tersebut, Indra menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan anak sama sekali tidak mengenal huruf.

"Tidak bisa baca. Artinya dia bunyi bisa baca, tapi gak paham apa yang dia baca." imbuhnya. 

Ia menyebut kondisi tersebut dikenal sebagai functionally illiterate atau buta huruf fungsional. "Itu disebut dengan functionally illiterate atau buta huruf fungsional." jelasnya. 

Baca Juga : Demokrat DPRD Jatim Dorong Penerapan Sanksi Fiskal jika Serapan OPD Loyo

Menurut World Bank, learning poverty merupakan indikator yang mengukur persentase anak berusia sekitar 10 tahun yang belum mampu membaca dan memahami teks sederhana sesuai tingkat usianya. Artinya, seorang anak mungkin sudah bisa melafalkan kata atau kalimat, tetapi belum mampu memahami isi bacaan yang dibacanya.

Kemampuan memahami bacaan ini dinilai menjadi fondasi dalam proses belajar. Anak yang mengalami buta huruf fungsional umumnya juga akan mengalami kesulitan mempelajari mata pelajaran lain, termasuk matematika dan sains. "Apalagi menghitung, apalagi sains," ujar Indra.

Selain menyinggung kualitas literasi, Indra juga mempertanyakan besarnya anggaran pendidikan nasional yang menurutnya belum menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan yang signifikan.

"Ironisnya lagi, anggaran pendidikan kita itu 769 triliun per tahun. Itu luar biasa angkanya, besar sekali. Tetapi tidak berbanding lurus dengan hasilnya." jelasnya. 

Ia kembali mengingatkan agar persoalan tersebut menjadi perhatian bersama. "Pendidikan kita terburuk 5 terbawah dari 170 negara. Dan itu harus menjadi kesadaran kita bersama." tambahnya. 


Topik

Pendidikan, Buta huruf fungsional, praktisi pendidikan, anak Indonesia,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette