Rp14,9 Miliar Digelontorkan, Warga Justru Hadapi Debu dan Proyek yang Jalan di Tempat

Reporter

Riski Wijaya

Editor

Dede Nana

14 - Jul - 2026, 03:05

Kondisi ruas jalan di Pasar Gadang yang tengah diperbaiki.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).


JATIMTIMES – Besarnya anggaran belum tentu berbanding lurus dengan kenyamanan masyarakat. Itulah yang kini dikeluhkan warga terkait proyek rekonstruksi dan rehabilitasi Jalan Gadang–Bumiayu di Kota Malang yang menelan anggaran hampir Rp15 miliar.

Di lapangan, proyek tersebut justru memunculkan keluhan. Debu beterbangan, material konstruksi menumpuk di badan jalan, sementara progres pekerjaan dinilai belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. 

Baca Juga : Pertanggungjawaban APBD 2025 Disetujui, DPRD Kota Batu Desak Digitalisasi QRIS untuk Cegah Kebocoran PAD

Kondisi itu membuat aktivitas masyarakat terganggu dan meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan. Hafiz, warga Kecamatan Kedungkandang, mengaku merasakan langsung dampak proyek tersebut.

Saat melintasi lokasi pekerjaan, debu yang pekat membuat pandangannya terganggu hingga nyaris menabrak kendaraan di depannya. "Debu akibat proyek itu luar biasa. Saat lewat tadi, saya sampai kelilipan dan hampir menabrak kendaraan di depan saya," ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Menurut Hafiz, persoalan bukan hanya debu. Ia juga mempertanyakan pelaksanaan proyek yang dinilai lamban. Material box culvert terlihat sudah lama berada di lokasi, tetapi belum terpasang. 

Di sisi lain, pengamanan proyek juga dinilai minim karena sejumlah material tidak dilengkapi pembatas maupun pita pengaman. Padahal, proyek di kawasan Pasar Induk Gadang tersebut bukan proyek kecil. 

Berdasarkan data yang dihimpun, rehabilitasi Jalan Pasar Gadang memiliki nilai kontrak Rp2,95 miliar, sedangkan rehabilitasi Jalan Gadang–Bumiayu mencapai Rp11,99 miliar. Total anggaran yang dikucurkan mencapai Rp14,95 miliar melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat.

Besarnya anggaran itu membuat masyarakat berharap pekerjaan berlangsung cepat dan tertata. Namun, kondisi yang terlihat di lapangan justru memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pelaksanaan proyek serta pengawasan dari instansi terkait.

Keluhan serupa disampaikan oleh warga Kepanjen, Wahyu. Jalan di Pasar Gadang menjadi salah satu akses utamanya saat bekerja. Ia mengakui bahwa perbaikan jalan tersebut menjadi satu hal yang telah lama diinginkan. 

Baca Juga : Jalan Tembus Mojolangu Tersambung, Ketua RW 12: Tolong Pemkot Hadir!

Menurut Wahyu, hal tersebut lantaran kondisi jalan yang sebelumnya rusak cukup parah. Namun dirinya berharap agar perbaikan jalan tersebut dapat dilakukan dengan tepat.

"Puluhan tahun rusak, akhirnya diperbaiki kan bagus. Sebenarnya bledug (debu) ini biasa kalau ada proyek, tapi kalau proyeknya gak diukur kapan selesainya, bledug nya akan semakin lama juga," pungkasnya. 

Sorotan terhadap proyek Jalan Gadang–Bumiayu juga memperpanjang daftar keluhan terhadap sejumlah proyek infrastruktur di Kota Malang. Bahkan ada sejumlah persoalan yang berulang, mulai dari lemahnya pengelolaan proyek hingga dampak yang harus ditanggung masyarakat selama proses pengerjaan.

Karena itu, evaluasi terhadap kontraktor maupun pengawasan dari pemerintah dinilai mendesak dilakukan. Selain mempercepat pekerjaan, pelaksana proyek juga diharapkan segera menangani dampak lingkungan dengan penyiraman rutin serta memperkuat aspek keselamatan di sekitar lokasi agar pengguna jalan tidak terus menjadi pihak yang dirugikan.


Topik

Peristiwa, proyek, pemkot malang, jalan gadang, pasar gadang, kota malang,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette