Al-Mahdi dan Tradisi Mewangikan Masjidil Haram, Warisan Kepemimpinan yang Melampaui Zamannya

Editor

A Yahya

04 - Jun - 2026, 09:28

Ilustrasi Khalifah Al Mahdi, penguasa ketiga Dinasti Abbasiyah yang memerintah pada 775-785 M. Ia meninggalkan jejak penting dalam pengelolaan kota suci Makkah dan pelayanan bagi jamaah haji (ist)


JATIMTIMES – Nama Khalifah Al-Mahdi mungkin tidak sepopuler Harun Al-Rasyid atau Umar bin Abdul Aziz dalam catatan sejarah Islam. Namun, penguasa ketiga Dinasti Abbasiyah yang memerintah pada 775-785 M ini meninggalkan jejak penting dalam pengelolaan kota suci Makkah dan pelayanan bagi jemaah haji.

Salah satu kebijakan yang menarik perhatian adalah perintahnya untuk mewangikan seluruh kawasan Masjidil Haram dengan parfum setelah melakukan penataan besar terhadap Kakbah. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap kenyamanan, kebersihan, dan keindahan tempat ibadah telah menjadi bagian dari tata kelola Islam sejak berabad-abad lalu.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Pahing 4 Juni 2026: Awas Bicaranya Kerap Menyinggung 

Khalifah yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas itu melakukan perjalanan haji pada tahun 160 Hijriah. Dalam perjalanan dari Baghdad menuju Makkah, ia menyaksikan secara langsung berbagai kesulitan yang dihadapi para jamaah. Kondisi infrastruktur yang belum memadai membuat perjalanan ibadah menjadi berat dan penuh tantangan.

Sesampainya di Makkah, Al-Mahdi menerima laporan dari para penjaga Kakbah mengenai banyaknya kiswah atau penutup yang menumpuk di bangunan suci tersebut. Penumpukan itu tidak hanya mengurangi keindahan visual Kakbah, tetapi juga dikhawatirkan dapat merusak struktur bangunan karena beban yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Menanggapi laporan tersebut, Al-Mahdi segera memerintahkan pembersihan Kakbah dari lapisan kiswah lama yang menempel. Setelah dibersihkan, Kakbah hanya dipasangi satu kiswah yang menutupi seluruh bangunan secara sempurna.

Langkah berikutnya yang cukup unik adalah perintah untuk menaburkan parfum ke seluruh area Masjidil Haram. Kebijakan ini menunjukkan bagaimana aspek kebersihan dan keharuman menjadi perhatian serius dalam pengelolaan tempat suci. Bagi Al-Mahdi, kenyamanan jamaah tidak hanya diwujudkan melalui bangunan yang megah, tetapi juga melalui suasana yang bersih dan harum.

Tradisi menjaga kebersihan dan menggunakan wewangian sejatinya memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:

"Dijadikan kecintaanku dari dunia kalian adalah wanita dan wewangian, dan penyejuk mataku terdapat dalam salat." (HR An-Nasa'i). Hadis tersebut menunjukkan bahwa parfum dan aroma yang baik memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Karena itu, kebijakan Al-Mahdi untuk mewangikan Masjidil Haram dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menghadirkan lingkungan ibadah yang nyaman dan menyenangkan bagi umat.

Perhatian Al-Mahdi terhadap Makkah tidak berhenti pada persoalan kebersihan dan keharuman. Setahun setelah hajinya, tepatnya pada 161 Hijriah, ia memulai proyek renovasi besar-besaran di Masjidil Haram dan wilayah sekitarnya.

Menurut Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa', proyek tersebut mencakup pembangunan jalan-jalan yang lebih luas di sekitar masjid, penyediaan sumber air bagi jamaah, serta penataan berbagai fasilitas pendukung ibadah. Ia juga memerintahkan agar mimbar-mimbar masjid dikembalikan ke ukuran yang lebih sederhana sebagaimana mimbar yang digunakan Rasulullah SAW.

Program pembangunan terus berlanjut hingga tahun 167 Hijriah. Pada periode itu, Al-Mahdi memperluas area Masjidil Haram untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang semakin meningkat dari berbagai wilayah kekhalifahan.

Di luar kawasan Makkah, perhatian Al-Mahdi tertuju pada jalur perjalanan haji dari Irak menuju Tanah Suci. Saat itu Baghdad dan Basrah berkembang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan yang ramai sehingga jumlah jamaah haji dari kawasan tersebut terus bertambah setiap tahun.

Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan para musafir, Al-Mahdi memerintahkan pembangunan berbagai fasilitas di sepanjang rute menuju Makkah. Dibangun pos-pos pemberhentian yang berfungsi seperti rest area modern. Di lokasi tersebut tersedia benteng kecil, tangki air, sumur, kolam penampungan, hingga menara api yang berfungsi sebagai penunjuk arah pada malam hari.

Baca Juga : PERSADA UB Dorong Reformasi Hukum Pidana Asia, Luncurkan Jurnal Internasional AJCLJ

Ia bahkan menunjuk pejabat khusus yang bertanggung jawab mengawasi pemeliharaan dan pengembangan jalur tersebut. Proyek itu berlangsung hingga tahun 171 Hijriah dan kemudian disempurnakan oleh Zubaidah, istri Khalifah Harun Al-Rasyid. Jalur bersejarah tersebut kemudian dikenal sebagai Darb Zubaidah.

Kontribusi Al-Mahdi juga terlihat dalam pembangunan jaringan komunikasi kekhalifahan. Ia menjadi salah satu penguasa Abbasiyah yang mengembangkan jalur pos dari Irak menuju Hijaz, Yaman, hingga Hadramaut. Kehadiran infrastruktur ini mempercepat arus informasi, perdagangan, serta mobilitas masyarakat di wilayah yang sangat luas.

Di bidang ilmu pengetahuan, Al-Mahdi dikenal sebagai pendukung kuat gerakan penulisan dan pengembangan literatur. Pada masa pemerintahannya, aktivitas penyusunan kitab berlangsung semakin intensif.

Perkembangan tersebut tidak lepas dari masuknya teknologi pembuatan kertas dari China ke dunia Islam. Sebelum itu, masyarakat lebih banyak menggunakan papirus dari Mesir sebagai media tulis.

Sejarawan Eamon Gearon dalam bukunya Turning Points in Middle Eastern History menjelaskan bahwa teknologi pembuatan kertas mulai dikenal umat Islam setelah Pertempuran Talas pada tahun 751 M atau 133 Hijriah. Pertempuran yang terjadi di kawasan Asia Tengah, yang kini termasuk wilayah Kirgistan, mempertemukan pasukan Abbasiyah dan Kekaisaran China.

Meski pertempuran tersebut tidak menjadi penentu nasib kedua kekuatan besar itu, dampaknya sangat besar bagi perkembangan peradaban. Sejumlah tawanan perang dari pihak China diketahui memiliki keahlian membuat kertas. Pengetahuan itulah yang kemudian menyebar ke wilayah Abbasiyah.

Pada masa Al-Mahdi, teknologi tersebut berkembang pesat dan melahirkan industri kertas di Baghdad. Kehadiran bahan tulis yang lebih murah dan mudah diproduksi membuka jalan bagi lahirnya tradisi intelektual yang kelak menjadikan dunia Islam sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan terbesar di dunia.

Warisan Al-Mahdi tidak hanya tampak pada bangunan megah atau jalan-jalan yang menghubungkan kota-kota penting. Jejak kepemimpinannya juga terlihat dari perhatian terhadap detail yang sering dianggap sederhana, termasuk menjaga kesucian Kakbah dan menghadirkan aroma harum di Masjidil Haram.


Topik

Agama, khalifah al mahdi, dinasti abbasiyah, masjidil haram, ,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette