Ending Manis Pasar Takjil Ketawanggede, Kupon Belanja Berbuah Rice Cooker-Kipas Angin hingga Mesin Cuci

Editor

A Yahya

14 - Mar - 2026, 08:33

Salah satu warga Ketawangede yang beruntung mendapatkan hadiah mesin cuci. Nampak, Ketua RW 02 Ketawanggede, Firman Qusnul Arif (paling kanan) memberikan hadiah bersama para panitia (Anggara Sudiongko/JATIMTIMES)


JATIMTIMES - Aroma gorengan hangat, kolak manis, dan lalapan segar masih tercium kuat di kawasan Ketawanggede dalam penutupan Pasar Takjil Ramadan 2026, Sabtu, (14/3/2026). Selain itu, suasana terasa lebih semarak dari biasanya. Warga, para pedagang berkumpul, sebagian memegang kupon kecil di tangan, menunggu momen yang paling dinanti, yakni pengundian hadiah.

Suasana riuh sesekali pecah oleh sorak sorai ketika satu per satu kupon diambil dari kotak undian. Bagi warga yang sejak awal Ramadan rutin berburu takjil di pasar tersebut, kupon dari hasil belanja itu bukan sekadar potongan kertas. Ia menjadi simbol kebersamaan antara pedagang, panitia, dan masyarakat yang ikut meramaikan pasar selama hampir satu bulan penuh.

1

Ketua RW 02 Ketawanggede, Firman Qusnul Arif, menjelaskan bahwa pengundian hadiah menjadi penutup rangkaian kegiatan Pasar Ramadan 2026 yang telah berlangsung selama 23 hari. “Penutupan pasar Ramadan ini sekaligus kita isi dengan pengundian hadiah. Total ada sekitar tujuh puluh hadiah yang disiapkan,” ujar Firman.

Baca Juga : Liburan ke Timur Tengah Batal? Ini 6 Destinasi Alternatif yang Tak Kalah Menarik

Puluhan hadiah itu terdiri dari berbagai peralatan rumah tangga yang akrab dengan kebutuhan sehari-hari warga. Mulai dari rice cooker, kipas angin, kompor gas, termos hingga hadiah utama berupa mesin cuci.

2

Deretan hadiah tersebut menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Tidak sedikit warga yang sengaja menyimpan kupon mereka hingga pada hari penutupan, berharap keberuntungan berpihak pada mereka.

Menariknya, seluruh hadiah yang dibagikan tidak berasal dari sponsor besar atau perusahaan. Semuanya dihimpun dari swadaya warga serta pengelolaan internal Pasar Takjil Ketawanggede.

Firman menuturkan, dana tersebut berasal dari iuran pedagang serta kontribusi warga yang memiliki usaha di lingkungan sekitar.

3

“Hadiah itu dari pengelolaan pasar dan swadaya warga sendiri. Ada juga warga yang punya usaha ikut membantu,” katanya.

Cara mengikuti undian juga dibuat sederhana agar semua pengunjung bisa berpartisipasi. Setiap pembeli yang berbelanja minimal Rp50 ribu di area pasar mendapatkan satu kupon undian. Jika nilai belanja lebih besar, kupon yang diperoleh mengikuti kelipatan nilai tersebut.

4

Uniknya, proses pengundian tidak dilakukan oleh panitia. Para peserta sendiri yang mengambil kupon dari kotak undian, sehingga suasana terasa lebih meriah sekaligus transparan. “Kami hanya memfasilitasi saja. Yang mengambil kupon undian itu peserta sendiri,” kata Firman.

Selama 24 hari penyelenggaraan, panitia mencatat sekitar 386 kupon undian terkumpul dari transaksi para pengunjung. Setiap harinya, sekitar 600 kupon beredar di pasar dari aktivitas belanja masyarakat.

5

Dari angka tersebut, panitia memperkirakan perputaran uang di Pasar Takjil Ketawanggede mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta setiap hari. Nilai itu menunjukkan geliat ekonomi warga yang cukup terasa selama Ramadan.

Baca Juga : Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Negara, dari Adu Telur hingga Festival Gula

Pasar Takjil Ketawanggede sendiri bukan kegiatan baru. Firman menyebut pasar ini sudah berjalan selama tiga tahun terakhir dan menjadi agenda yang selalu dinanti warga.

Bahkan di luar Ramadan, aktivitas pasar tetap berlangsung setiap hari Minggu sebagai ruang bagi warga untuk berdagang dan berinteraksi.

Meski demikian, Firman mengakui para pedagang masih menghadapi satu tantangan yang belum terpecahkan, yaitu belum adanya tempat berdagang yang permanen.

Selama ini para pedagang kerap berpindah tempat ketika tidak ada kegiatan pasar. “Harapan kami ke depan ada fasilitas tempat khusus dari pemerintah. Karena ini pekerjaan sehari-hari mereka,” ujarnya.

Menurut Firman, keberadaan ruang usaha yang lebih tertata akan membantu para pedagang kecil tetap bertahan tanpa harus berpencar di berbagai sudut jalan.

Di sisi lain, panitia juga mulai memikirkan langkah pengembangan untuk tahun berikutnya. Salah satu rencananya adalah menambah nilai hadiah sekaligus mencari sponsor yang dapat mendukung kegiatan secara berkelanjutan. “Tahun depan kita ingin hadiahnya lebih besar dan mencari sponsor yang sifatnya permanen,” kata Firman.

Namun bagi warga Ketawanggede, hadiah terbesar dari Pasar Takjil bukan sekadar rice cooker, kipas angin, kompor, atau mesin cuci. Yang lebih berharga adalah ruang kebersamaan yang tercipta setiap sore menjelang berbuka. Di pasar sederhana itulah, transaksi kecil berubah menjadi cerita hangat tentang solidaritas warga yang terus hidup dari Ramadan ke Ramadan.


Topik

Peristiwa, ketenaggede, firman qusnul arif, pasar takjil ramadan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette